
Acara peletakan batu pertama berjalan lancar meski harus mengulur waktu karena keterlambatan Salman.
Kenapa aku merasa rekan bisnis kak Salman seperti tidak menyukaiku,tatapannya begitu menakutkan sejak kedatangan kami. batin Adinda yang selalu menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan tak bersahabat tuan An dan Harun juga.
Setelah sesi wawancara Tuan An mengajak Salman berkeliling untuk meninjau area proyek.
Sedangkan Adinda- Salman meminta gadis itu untuk kembali ke mobil, ia sedikit mengkhawatirkan Gisela yang seperti sedang di rundung kesedihan dan ia belum mencari tahu apa penyebabnya.
Harun mengambil kesempatan untuk bisa berbicara dengan Adinda dan berinisiatif mengantar gadis itu hingga parkiran mobil.
Salman yang mengira keduanya memiliki hubungan spesial tak bisa melarang, ia hanya mampu menatap kepergian Adinda dengan perasaan pasrah penuh kelapangan dadaa.
"Apa pria yang telah menggantikanku di hatimu adalah Tuan Salman?" tanya Harun yang tak sanggup lagi menahan rasa ingin tahu nya yang sejak awal kedatangan ADinda dan Salman tak pernah luput dari pandangannya, yang begitu terlihat bagaimana Salman selalu berusaha melindungi ADinda dari ketidak nyamanan para awak media.
Tak mendapat tanggapan dari Adinda, Harun hanya mampu mendesah pelan sambil terus melirik gadis yang terus menatap ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.
"Adinda!" Harun menarik pelan lengan Adinda agar gadis itu menghentikan langkahnya yang hampir sampai pada mobil yang terdapat Gisela di dalamnya.
"Maaf mas, aku ga mau bahas masalah pribadi di saat masih jam kerja" ujar Adinda sambil melepas cekalan tangan Harun di lengannya.
"Kalo gitu, kita makan malam lagi diluar. Jangan abaikan pesan dan panggilan mas lagi, mas mohon!."
Belum sempat mendapat jawaban dari gadis itu, ADinda sudah lebih dulu pergi setelah Gisela memanggilnya.
Harun menatap kepergian gadis yang pernah mengejarnya namun ia abaikan, dan kini ia yg mengejar gadis itu dan dia di abaikan. ia semakin mengerti bagaimana rasanya sakit di abaikan oleh orang yang di cintai . hingga ia semakin bertekad untuk dapat mengambil hati Adinda dan dapat memiliki gadis itu.
"Aunty, bukankah itu adalah paman yang kau sukai itu? Kenapa dia ada di sini, apa yang kalian bicarakan?" tanya GIsela saat Adinda sampai di samping mobilnya .
"Aku sudah move on darinya" jawab adinda sambil melenggang masuk setelah pengawal membukakan pintu mobil untuknya.
Gisela memutar lehernya dan menengok ke kursi penumpang untuk menatap lekat wajah aunty nya dan terlihat keseriusan di wajah itu.
"Oh iya? Apa karena kau sekarang sudah mulai mengakui bahwa kau menyukai uncle ku?"
Adinda menghentikan aktifitasnya yang hendak memasang pengaman di pinggangnya. Dia berpikir sejenak dan mengingat jawaban Salman saat wartawan menanyakan hubungan keduanya yang mengakui dirinya sebagai adik ipar yang sedang belajar dan membantunya di perusahaan sebagai sekertaris. Jawaban yang cukup membuat gadis itu sadar status keduanya.
"Aku ingin fokus pada kuliahku dan belajar bekerja dengan baik itu saja."
__ADS_1
Gisela mendesah kasar mendengar jawaban Adinda yang sudah ada di prediksi nya, ia pikir kali ini aunty nya akan mengakui perasaannya ternyata ia salah. Ia kembali meluruskan pandangannya dan kembali fokus pada smart tablet di tangannya.
Adinda sedikit mengintip Gisela yang sibuk belajar lewat gawai nya.
"Apa enaknya belajar sendiri seperti itu, lebih menyenangkan belajar di sekolah bersama teman-teman"
"Kenapa kau membolos?" imbuh tanyanya.
"Aku bosan mendengar teman-temanku selalu membicarakan kegiatan camping family yang akan di adakan sekolah." jawab Gisela tanpa melepas fokus pandangan pada gawai di tangannya.
"Camping ? Itu kegiatan yang menyenangkan, kenapa kau tidak mau ikut?" tanya Adinda dengan menatap lekat wajah Gisela dengan memajukan tubuhnya ke depan.
"Camping family!" Gisela menoleh ke belakang sambil berucap penuh penekanan.
Adinda mulai berpikir dan mencerna ucapan Gisela yang menampakan sedikit kecewa di sana.
"Camping bersama keluarga begitu? Apa karena mommy dan daddy mu tidak ada, jadi kau tidak tertarik mengikutinya?"
"Keluarga bukan hanya orang tua bukan, aku juga keluarga mu," tambah Adinda berusaha meleburkan kesedihan Gisela yang pasti sedang merindukan kedua orang tua serta adiknya.
Anggukan pasti Adinda membuat wajah Gisela berbinar seketika. "Sungguh?" tanyanya memastikan.
"Kapan acaranya?" Adinda justru bertanya balik.
"Week end ini"
"Baik, ayo kita pergi camping bersama akhir pekan ini"
Gisela tersenyum semringah dan langsung melepas seat belt di pinggangnya dan melompat ke belakang untuk memeluk Adinda.
'Belajar menjadi orang tua, apa salahnya? Anggap saja sedang healing. toh, aku pun belum pernah rekreasi selama datang ke ibukota' batin Adinda lalu membalas memeluk Gisela. Rasa cemasnya karena harus menjadi wali pengganti orang tua murid ia coba tepiskan sesaat.
**
Obrolan seru keduanya serta perdebatan ringan dalam membahas barang apa saja yang harus di persiapkan untuk camping hingga membuat daftar list pada smart tablet harus terhenti saat pintu kemudi terbuka dan Salman masuk ke dalam mobil.
Salman menatap bergantian kedua gadis di kursi penumpang dengan alis saling bertautan. "Ada apa ini, apa uncle melewatkan sesuatu?" tanyanya yang melihat list yang terpampang di halaman layar gawai milik Gisela.
__ADS_1
"Kita akan pergi camping, tapi aunty membuat list seolah kita akan berkelana jauh hingga membuat banyak sekali daftar makanan serta pakaian aneh untuk di persiapkan" adu Gisela dengan melirik tajam Adinda sambil menautkan kedua tangan di dada.
"Mempersiapkan bahan makanan itu penting, kalo sampai kita nanti di sana kelaparan bagaimana?"
"Dan lagi, pakaian aneh apa maksudmu? Tidur di tenda di ruang terbuka, tentu saja kita harus menggunakan pakaian tebal, kau mau mati kedinginan di sana?" Mulut Gisela yang sudah terbuka, menganga seketika dengan ucapan Adinda.
"Aunty, pihak sekolahku tidak akan membiarkan muridnya mati kelaparan dan kedinginan. Makanan dan selimut sudah di persiapkan bersama tenda yang akan kita tempati nantinya," terang Gisela yang nada yang begitu kesal.
"Tetap saja,-"
"Ehem."
Ucapan Adinda tersela dengan deheman halus dari Salman yang mulai gusar menjadi pendengar dan penonton perdebatan keduanya. "Maaf, uncle boleh tau acara camping apa yang kalian bicarakan?"
Secara serentak kedua gadis itu beralih pandang yang tertuju pada Salman yang sedang menatap penuh kebingungan.
"Uncle ikut saja ke acara camping family sekolahku, lagipula aku jadi ragu jika harus pergi berdua saja dengan aunty. Dia itu menyebalkan," Bukannya menjawab pertanyaan Salman , Gisela justru berucap ketus sambil melirik Adinda dan kembali memilih duduk di samping kemudi bersama Salman.
Adinda yang mendengar ucapan Gisela hanya mampu menahan kekesalannya dengan mendengus kasar dan menghela nafas berat lalu memalingkan wajah ke jendela mobil sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Salman yang melihat pergerakan Adinda lewat kaca spion di tengah dan berganti menatap Gisela yang sedang menatapnya.
"Kita makan siang dulu, setelah itu baru kita bahas acara camping mu itu. Kau lapar kan?" usul Salman sambil mengusap surai hitam Gisela lembut untuk mencairkan suasana yang mulai memanas.
Gisela yang memang sudah merasakan tarian cacing di perutnya mengangguk antusias.
"Bagaimana Adinda, kita mencari makan siang dulu?" tanya Salman menoleh ke belakang.
Adinda mengalihkan atensi pandangan nya ke arah Salman. "Baiklah" jawabnya singkat..
Salman mulai melajukan kuda besi nya menjauh dari area parkir itu untuk mencari restoran terdekat karena memang sudah masuk jam makan siang dan rasa lapar itu sudah melanda mereka.
*
*
Happy reading ❤️
__ADS_1