
Di kafe
Acara makan siang yang mengurai kerinduan keluarga kecil itu tercipta dengan begitu hangat. Di meja makan semuanya larut dalam santapan yang telah tersaji. Setelah perut mereka terisi, taman belakang kafe menjadi tempat berkumpul selanjutnya untuk saling bercengkrama dan melempar tawa dengan bayi mungil dalam dekapan Amanda yang menjadi sumber kebahagian itu.
"Daddy tidak boleh membawa mommy dan adik bayi lagi tanpaku atau aku akan marah!" suara lembut khas bocah kecil dengan nada ancaman, membuat fokus pandangan semuanya tertuju pada gadis kecil yang sedang bersidakep dada dan membuat mereka justru terkekeh dengan sikap menggemas tersebut.
"Kau 'kan ada aunty mu, apa dia tidak mengurus mu dengan baik?" tanya Gio dengan melirik tajam gadis yang duduk di samping putrinya.
Melihat tatapan Gio yang selalu membuatnya kesulitan menelan ludah, ia beralih menatap Gisela, berharap gadis kecil itu tidak berucap yang akan menyulitkannya.
"Aunty?" Gisela mengambil jeda dengan memicingkan mata dan tersenyum tipis menatap Adinda.
"Aku suka bersama aunty, dia mengurus ku dengan baik. Terima kasih aunty," ujarnya dan langsung memeluk Adinda.
Adinda menghembuskan nafas lega, oksigen yang tertahan di tenggorokannya melaju lancang keluar dari mulut dan hidungnya. Dia tersenyum lembut dan membalas pelukan Gisela.
"Sama-sama nona kecil yang manis." ucapnya dengan sedikit menunduk dan menatap wajah Gisela yang menempel di dadanya.
"Jangan senang dulu aunty, ini tidak gratis. Faktanya kau itu menyebalkan" bisik Gisela dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum smirk.
Adinda membulatkan matanya dan mengeratkan gigi-gigi putihnya. "Kau lebih menyebalkan" balas bisik nya tanpa membuka cela pada giginya.
"Baguslah. Ternyata kau bisa diandalkan juga." suara dingin Gio mengurai pelukan kedua gadis itu. Kedua gadis itu saling bersitatap dan setelahnya saling membuang wajah.
Gisela sebenarnya hanya menggoda aunty cantiknya itu. Dia sangat senang dengan kehadiran Adinda mengisi harinya. Setelah Amanda, sosok Adinda mampu memberikan rasa hangat dari kasih sayang yang selalu dia rindukan.
Mereka semua kembali larut dalam perbincangan masing-masing. Bu Harti terlihat mengobrol hangat dengan Shalimar, obrolan orang tua berstatus single parent. Jangan di tanya apa yang di lakukan pasangan rumit itu, mereka pasti sedang mengumbar kemesraannya. Sedangkan Gisela gadis kecil itu terus menguap sambil bersandar di bahu Amanda.
"Tuan, sepertinya Gisela sudah lelah. Gerald juga sudah harus tidur siang. Kita pulang saja yuk!"
__ADS_1
"Iya dad aku ngantuk," keluh Gisela sambil melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Amanda.
"Baiklah, ayo kita pulang!" Gio bangkit dan mengulurkan tangannya ke depan tubuh sang putri dengan wajah menahan kantuk Gisela menerima uluran tangan itu dan menempel dalam gendongan sang daddy.
Bu Harti yang sudah bangkit juga mengambil alih Gerald dari gendongan Amanda. Adinda memasukkan ponsel nya ke dalam tas setelah membalas pesan yang masuk dan melihat semua orang telah beranjak dari duduknya. Shalimar yang masih ada pekerjaan di kafe tak ikut pulang ke Mansion dan hanya mengantar mereka hingga area parkir.
Dengan membagi menjadi dua mobil, Gerald yang sudah tertidur di gendongan Harti sehingga nenek muda itu enggan memberikan bayi mungil itu pada si empunya. Tak ingin berpisah dengan adik bayinya Gisela memilih ikut mobil Harti dan Adinda. Setelah melihat mobil yang membawa putra-putri nya menjauh dari area parkir, barulah Gio dan Amanda masuk ke dalam mobilnya dengan Gio yang menyetir mobilnya sendiri.
Di dalam mobil yang sedang melaju, Amanda terus menatap kesal dengan kelakuan mesum tuan suami. Bagaimana tidak, dia yang sedang memompa ASI nya selalu di ganggu oleh tangan nakal Gio yang terus berusaha untuk menyentuh buah dada nya. Pria itu bahkan menarik kemeja Amanda hingga tulang selangka di bahunya terekspos dengan sempurna.
Melihat wajah kesal Amanda yang membuatnya gemas Gio justru semakin gencar menggoda istri cantiknya itu, dengan memainkan jari telunjuk dan jari tengahnya di atas selangka yang menonjol/ dia tersenyum puas saat kedua bola mata Amanda membulat menatapnya.
"Kau menggodaku, nyonya" ucap Gio dengan mengedipkan satu matanya.
Amanda menatap malas pengemudi di sampingnya, bisa-bisanya pria itu mengatakan dia menggodanya. ASI nya terasa penuh, karena biasanya Gerald akan menyusu untuk mengantarkan bayi itu terlelap, tapi karena sang putra tidak bersamanya, sehingga ia harus memerah ASI nya agar terasa lega. Untunglah Amanda tak pernah melupakan membawa alat pompa ASI kemanapun ia pergi.
CUP
Satu kecupan mendarat di pipi kiri Amanda. Dia memukul pelan lengan Gio. "Bisa-bisanya kau menciumku saat sedang menyetir." kesalnya. Lalu membenarkan posisi duduknya kembali.
"Fokuslah menyetir!" nasehatnya dengan menolehkan wajahnya dan mengarahkan pandangan Gio ke depan.
"Bahaya, jika kau tidak hati-hati menyetirnya,"
Bukannya menurut, Gio justru menarik tengkuk Amanda dan mencium dalam bibir ranum sang istri.
"Ini jalanan sepi sayang, tidak banyak mobil yang lewat jalan ini," ujarnya setelah melepas ciuman nya dan beralih mengecup kening Amanda.
Amanda melihat ke sekeliling jalan, dan benar saja jalan itu bukan jalan yang biasa mereka lalui.
__ADS_1
"Ini dimana tuan? Ini bukan jalan menuju ke Mansion." herannya.
"Ini jalan ke Mansion sayang… Hanya saja aku mengambil jalan memutar, aku ingin lebih lama berdua seperti ini denganmu," jawabnya sambil mengambil satu tangan Amanda dan mengecup punggung tangan itu.
Amanda tersenyum dan mengangkat satu tangannya untuk mengelus rahang Gio. Keduanya saling menatap dengan wajah tersenyum bahagia, Gio mengecup singkat telapak tangan Amanda yang berada di wajahnya lalu kembali fokus pada jalan di depannya.
CEKIITT
Gio menekan dalam pedal rem nya, saat tiba-tiba dua ekor kucing berkejaran melintas di depan mobilnya.
Gio memalingkan wajahnya untuk melihat keadaan sang istri. "Sayang maaf… Kau tidak apa - apa? Apa kau terluka?" sesalnya.
Amanda membenarkan posisi duduknya kembali, setelah mengatur nafas, dia mengambil tangan Gio yang terasa bergetar saat menyentuh kepalanya.
"Aku tidak apa-apa." jawabnya begitu tenang karena tak ingin membuat tuan suami merasa bersalah, lalu mengecup telapak tangan kekar itu.
"Kau sendiri? Apa kau terluka?" Bukannya menjawab Gio justru merengkuh tubuh Amanda dan memeluk erat tubuh itu.
Gio menggelengkan kepalanya setelah melepas pelukan itu lalu mengecup dalam kening sang istri.
Dari arah sebelah kanan sebuah mobil truk kontener melaju dengan begitu ugal-ugal an, suara musik rock tersetel begitu memekakkan telinga dengan memegang satu botol miras di tangan, sopir dan kondektur itu bernyanyi mengikuti lirik lagu yang terdengar sangat tidak jelas. Jalanan yang sepi membuat keduanya seolah bebas dan menjadi penguasa jalanan karena itulah yang mereka inginkan, mengambil jalan sepi walau harus berputar jalan tapi mereka bisa bebas minum tanpa ada cegatan dari petugas polisi.
Dengan mengedipkan mata berkali-kali sopir yang masih terlihat muda itu mencoba mengembalikan kesadarannya setelah separuh botol miras ia teguk. Sadar perjalanannya masih jauh jadi ia berusaha fokus pada kemudi. Kepalanya yang mulai berdenyut dan pandangannya yang mulai kabur mengakhiri aksi minumnya, ia menyimpan sisa miras di botol yang tinggal beberapa teguk. Saat ia akan menyimpan botol miras nya ia yang merasa begitu pusing kesulitan mengontrol laju mobilnya, ia yang berniat menekan pedal rem justru pedal gas yang ia injak kuat.
JEGER
Truk besar yang di kendarai nya menabrak mobil sedan hitam yang melaju dari persimpangan. Rasa pening yang tadi begitu mendera nya seketika lenyap dan berganti kepanikan saat melihat mobil di depannya terlempar menjauh lalu terguling ke pinggir jalan dan terbalik.
***
__ADS_1