Mommy Dara

Mommy Dara
PART 38


__ADS_3

Mansion Kaana


Kegaduhan sudah terdengar dari kamar Gisela. Gadis kecil itu begitu bersemangat menyambut pagi ini.


Ya! Hari yang di tunggunya untuk acara camping family akhirnya tiba juga. Ia bahkan menyiapkan segala persiapannya sendiri, karena Adinda- seminggu belakangan sangat sibuk di kantor dan kampusnya , sehingga ia tak ingin mengganggu dan merepotkan sang aunty.


"Semuanya sudah siap!" ucapnya sambil berkacak pinggang , setelah bercermin dan memastikan penampilannya serta meneliti kembali barang-barang yang akan di bawa nya.


Saat ia akan mendorong koper , ia teringat bahwa ia belum mengabari mommy nya . Ia berbalik dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Baru saja ia mengangkat benda pipih itu , sebuah panggilan video masuk dan memenuhi layar benda canggih itu.


Dengan senyum semangat ia menggeser tombol dan mengarahkan kamera ke wajahnya.


"Mommy..." teriaknya.


"Selamat pagi ... Kau sudah siap? Cantik sekali gadis kecilku" puji Amanda dengan senyum bahagianya menyapa. Gisela memberikan anggukan penuh suka cita sebagai tanggapan.


"Selamat pagi mommy... Selamat pagi Daddy... Selamat pagi adik bayiku yang lucu..." balas Gisela menyapa dengan lambaian tangan dan wajah ceria saat layar kamera bergantian menampilkan wajah sang Daddy yang sedang memangku Gerald.


Obrolan singkat di pagi ceria yang selalu mereka lakukan setiap pagi sebagai penawar rindu berlangsung dengan banyaknya cerita Gisela dalam mempersiapkan segalanya sendiri.


"Wah , nona kecilku sudah semakin pintar dan mandiri." puji Amanda yang dengan sangat antusias mendengar setiap cerita gadis kecilnya.


"Tentu saja , aku kan sudah menjadi kakak, jadi aku harus bisa mengurus keperluanku sendiri agar aku juga bisa memberikan contoh yang baik untuk adikku." terangnya dengan bangga.


"Sudah hampir siang , aku mau melihat aunty apakah sudah siap atau belum." imbuhnya sambil melihat jam yang terpasang di dinding kamarnya.


"Have fun , putri kecil daddy. Love you sayang." Gio menjawab dengan selipan haru di ujung hatinya.


Sambungan video call itu berakhir setelah salam perpisahan keluarga kecil itu lakukan dengan senyum bahagia yang mereka lepaskan.


Gio masih menatap layar ponsel yang di penuhi gambar keluarga kecilnya sebagai wallpaper dengan wajah bahagia Gisela menjadi fokus netranya. Gadis kecil yang pernah menjadi imbas akan keegoisannya. Ia memejamkan mata sambil menarik nafas dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Sebagai seorang ayah ia merasa belum memberikan kebahagian seutuhnya untuk sang putri , meski bagi sang putri ia adalah sumber kebahagian nya.


Ia melirik wanita cantik yang duduk di sampingnya yang sedang berceloteh mengajak komunikasi bayi mungil dalam pangkuannya. Satu tangannya terangkat untuk membelai kasih rambut hitam panjang wanita cantik itu.


Amanda menengadahkan wajahnya merasakan tangan kekar yang membelai kepalanya. Wajah tampan dengan senyum menawan tengah menatapnya. Sehingga kedua netra itu saling bertemu dan memancarkan isyarat akan cinta yang tercermin dari bola mata keduanya.


Dua sosok yang di pertemukan takdir dalam ketidakberdayaan . Mencoba memunguti cinta yang saling berserakan hingga meninggalkan luka dalam kesendirian. Menghentikan keegoisan demi sang malaikat kecil tanpa sayap agar bisa terus tersenyum dalam kebahagian. Melewati semua dengan penuh ketulusan hingga muara kejernihan mulai nampak dan sinar bening menyinari.


"Terimakasih telah menjadi mommy yang memberikan banyak kebahagiaan untuk putriku." ucap Gio dengan penuh ketulusan.


Amanda melingkarkan kedua tangan untuk mendekap erat tuan suami serta bayi mungil dalam pangkuan.


"Terimakasih juga telah menjadi daddy yang memberikan kekuatan untuk putraku."




"Cepatlah aunty , aku tidak mau terlambat sampai di sana!" Gisela terus merengek kesal menunggu Adinda yang masih santai menyisir rambut serta memoles krim di wajah.



"Ini masih sangat pagi , nona menyebalkan! Sarapan di bawah pasti juga belum selesai di siapkan, sabarlah!" Sambil memilah lipstik yang menurutnya cocok Adinda berucap tanpa melihat pada lawan bicaranya.


__ADS_1


Tak ingin lagi menunggu sang Aunty , Gisela menghentakkan kaki dan bangkit dari duduknya meninggalkan kamar yang tak semewah kamarnya.



Adinda tersenyum tipis melihat tingkah Gisela lewat cermin besar di hadapannya. Ia segera menyelesaikan riasannya setelah pintu kamarnya di tutup dengan keras oleh Gisela yang tak lagi menoleh ke belakang.



"Kenapa orang dewasa selalu saja lama jika berias. Semua riasan di pakai, pilih satu saja cukup. Membuang waktu saja."



Sambil menuruni anak tangga Gisela terus saja berkomat-kamit melampiaskan kekesalannya .



Suara alunan merdu dentuman piano mengiringi langkahnya melewati anak tangga terakhir. Ia menghentikan langkah dan tersenyum menikmati setiap untaian lirik dari lagu yang di mainkan. Suasana hati yang semula dongkol perlahan mencair. Dengan langkah ceria ia menghampiri sumber suara.



Rasa rindu yang membalut kalbu pada sang buah hati yang menyelimuti , tak dapat ia utarakan. Hanya not piano yang menjadi pendengar kerinduan hatinya. Dengan penuh penghayatan Salman duduk di depan piano besar berwarna putih.



Dengan memandang layar ponsel yang menampilkan wajah sang buah hati yang jauh dari jangkauannya ia memainkan jari jemari untuk menyalurkan cinta yang tak teraba lewat sebuah nada.



Gisela mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkannya di perut Salman. Ia mendekap erat sang uncle dan menghapus setitik kristal bening yang hendak merambat ke pipi. Karena ia mengerti benar apa yang di rasakan pria itu.




*I have a dream*


*A song to sing*


*To help me cope*


*With anything*



*If you see the wonder*


*Of a fairy tale*


*You can take the future*


*Even if you fail*



*I believe in angel*

__ADS_1


*something good in everything i see*


*I believe in angel*


*When i know the time is right for me*


*I'll cross the stream*



Adinda yang hendak melangkah menuruni tangga , seolah tenggelam dalam lagu serta suara merdu sang penyanyi. Sambil menikmati alunan syahdu lagu itu ia melangkah pelan dan berhenti di tengah tangga. Ia memandang penuh kekaguman pada sosok pria yang terlihat begitu memesona di balik piano.



Melihat Adinda yang berada di tengah tangga , Salman memberikan senyuman terbaik sebagai sapaan dengan alunan lagu yang terus ia mainkan.



"*Astaga! Kenapa dengan jantungku? Detakkan nya jadi tidak menentu seperti ini hanya karena melihatnya tersenyum. Satu Minggu bersamanya tidak seperti ini* *kemaren*" Adinda bergumam dengan memegang dadanya erat-erat seolah menahan jantungnya yang seakan hendak melesat keluar.



Bu Harti yang hendak menuruni tangga menatap putrinya yang mematung , ia terdiam sejenak menyadari siapa yang sedang di pandang sang putri. Ia seolah ingin berpura-pura tidak mengetahui apapun dan memilih kembali ke kamarnya. Namun , saat ia hendak berbalik ia melihat darah yang keluar dari lubang hidung Adinda.



Tanpa memikirkan lagi keselamatannya di tangga ia sedikit berlari menghampiri sang putri.



Mendengar suara langkah kaki, Adinda mengalihkan pandangannya dan menatap sang ibu yang terlihat begitu khawatir.



"Ndok , kamu kenapa? Hidungmu berdarah!".



Seruan sang ibu membuat Adinda seketika mengangkat tangannya untuk meraih hidungnya dan memastikan keadaannya.



"Aku mimisan!" lirihnya, menatap cairan merah yang menempel di jari. Ia segera mendongakkan kepala untuk menghalau darah yang keluar.



'Ya ampun , aku sampe mimisan begini hanya karena mendapat senyum menawan kak Salman. Astaga Adinda, ada apa denganmu?' gumam Adinda



Salman dan Gisela yang melihat bu Harti tergesa-gesa menuruni tangga , saling berpandangan dan serentak beranjak untuk menghampiri ke anak tangga .



\*\*\*\*

__ADS_1


Maaf yah Up nya lama . 🙏🙏


Happy reading ❤️


__ADS_2