Mommy Dara

Mommy Dara
PART 22


__ADS_3

Adinda yang terus di tatap dengan tatapan penuh selidik sejak sang dosen meninggalkan ruangan hingga kini dia berjalan beriringan di koridor kampus, tak mampu lagi menghindari pertanyaan Calista yang masih bersarang di kepala gadis itu dan menunggu jawaban darinya.


Dia menghela nafas beratnya. "Emang salah yah?"


Calista menghentikan langkahnya dan menarik lengan Adinda untuk menghentikan langkah sahabatnya juga.


"Jadi bener kamu suka sama kak Salman— Kakak ipar kamu?"


Adinda menghirup dalam udara di sekitarnya, lalu menatap sahabatnya. Sorot mata yang mengatakan iya untuk pertanyaan Calista.


"Emang salah yah?" Adinda kembali menatap lurus ke depan. Lagi, pertanyaan itu ia ulang. Berharap perasaannya ini benar, meski ia tahu betul bahwa ini salah. Mencintai lelaki yang menjadi kakak iparnya sendiri. Tapi perasaan itu muncul dengan sendirinya, ia pun tak bisa menjabarkannya. Rasa gelisah selalu menghantui karena tak bisa bersitatap dengan lelaki itu, bahkan kini nyeri di hatinya begitu ia rasakan kala kata 'tunangan' bersiulan di telinganya. Sepanjang pembelajaran bahkan hanya kata itu yang seakan menggema, suara penjelasan sang dosen tak ada satu pun yang nyangkut di otaknya.


"Sebelum rasa itu semakin dalam, sebaiknya kau mencoba untuk melupakannya. Mungkin kehadiran mas Harun jawabannya." sahabat karibnya itu memberikan saran.


Adinda hanya menolehkan wajahnya menghadap sang sahabat tanpa membuka suara.


*


*


Di Mansion Kaana.


Kegalauan hati masih menyelimuti hingga ia menginjak kan kedua kakinya di Mansion bahkan semakin bertambah saat melihat kehadiran sang ibu yang seolah menunggunya.

__ADS_1


"Kamu pulang sama nak Harun, Dek?" tanya bu Harti yang sedang duduk di ruang tamu sambil memangku sang cucu.


"Engga bu, Adinda pulang sama kak Ryan." jawab Adinda sambil menyalami tangan lembut wanita yang telah melahirkannya lalu berganti mengecup gemas pipi cubbie ponakan tampan nya.


"Loh, tadi Harun telepon ibu izin menjemput mu." Herannya. Ia berharap putrinya itu kini akan berubah pikiran dan tidak akan menolak keinginannya agar putri bungsu nya itu bisa segera menikah mengingat ia tahu putrinya menyukai pria itu.


"Ia bu tadi Adinda telat buka pesannya udah ke buru jalan" jawabnya bohong karena yang sebenarnya ia memang sengaja menghindarinya. Sebelum sang ibu membuka mulutnya lagi ia segera berpamitan ke kamarnya.


Bu Harti memandang punggung sang putri dengan pemikiran yang bersarang di kepalanya. Ia kira putrinya akan bahagia dengan datangnya lamaran dari Harun, namun apa yang di lihatnya kini sungguh sangat berbeda.


"Ada apa dengan anak itu?"batin nya.


Di dalam kamar yang luasnya berkali-kali lipat dari kamarnya di kota S, namun tidak dengan hatinya yang terasa sempit dan hanya berisikan sosok Salman di dalamnya yang entah sejak kapan bersemayam di sana hingga setiap sudut langkahnya di Mansion seolah hanya kehadiran sosok itu yang di damba.


*


*


Sementara Adinda masih terlelap dalam mimpinya di kamar lain tempat pangeran kecil beristirahat, Salman tengah memandang wajah sang putra yang begitu nyenyak dalam tidurnya. Ia mengambil bayi mungil itu dari dalam box dan menggendongnya. Ia menatap lebih dekat wajah yang terlihat semakin mirip dengannya, ya tentu saja dia ayah kandungnya.


"Maafkan aku... Kau pasti akan membenciku setelah ini. Pilihan inilah yang akhirnya aku pilih, aku akan pergi dan menjauh dari kalian. Rasanya Daddy ingin egois degan membawamu pergi bersamaku tapi Daddy sadar aku tidak berhak untuk itu. Kau harus bahagia bersama keluarga mu yang utuh meski tanpa aku."


Salman mengalihkan pandangannya untuk menghindari laju air mata yang telah menumpuk di pelupuk matanya yang pasti akan langsung lolos dengan hanya satu kali kedipan mata.

__ADS_1


"Seperti hal nya aku yang menemukan kebahagian ku di Mansion ini bersama Grand pa mu, kau pun akan bahagia bersama uncle mu-Gio, dia akan menjadi Daddy yang baik untukmu hingga kau tidak akan pernah mengingat ayah kandungmu ini."


"Apakah yang ibu dengar ini benar, kau adalah ayah kandung Gerald? Kau pria yang menanam benih di rahim putriku dan meninggalkannya tanpa pertanggungjawaban?" Salman merotasikan tubuhnya dan wajah kecewa bu Harti dengan cairan bening yang membelah kedua pipi wanita tua itu terlihat jelas di tengah pintu kamar Gerald yang terbuka lebar.


Dia mengembalikan sang putra kembali ke box bayi dan melangkah pasti menghampiri bu Harti yang masih bergeming di tempatnya.


"Maaf" ucapnya dengan wajah tertunduk dalam. Perasaan bersalah itu masih selalu menghantuinya.


"Ibu pikir kau adalah pria yang baik. Ibu bahkan sempat berpikir untuk memberikan putri bungsuku padamu." Terdengar kekecewaan mendalam dari suara tua itu.


"Maafkan saya bu. Maaf!" air mata yang menumpuk itu tak dapat lagi dibendungnya dan menjalar melewati rahang kerasnya.


"Saya tahu seberapa banyak pun permintaan maaf yang saya ucapkan tidak akan mengembalikan segala kesedihan yang terjadi karena kesalahan saya. Saya sungguh menyesali kebodohan itu. Jika pun ibu ingin menghukum saya karena kesalahan yang telah saya perbuat, saya akan menerimanya." Dengan penuh keyakinan dan penyesalan Salman memandang sendu wajah wanita yang menjadi ibu dari ibu kandung putranya — Gadis yang pernah hadir dalam hatinya untuk pertama kali nya.


"Menyesal? Tapi nak Salman tidak berniat untuk bertanggungjawab?" Dada bu Harti terasa begitu panas mengingat masa lalu itu, masa yang akan selalu mengingatkan kepergian sang suami, dan membayangkan bagaimana putrinya melewati masa itu sendirian di kota ini dalam mencari pertanggungjawaban dari pria yang ada di hadapannya. Rasanya ia ingin mencurahkan segala kemarahannya kala itu saat ini dengan menampar, memukul apapun ia ingin lakukan untuk dapat melampiaskannya. Menatap pria di hadapannya membuat luka itu kembali menganga. Tapi ia bahkan tak mampu mengangkat tangannya dan tak sampai hati melakukannya begitu ia melihat wajah malaikat kecil yang terpejam tenang.


Sambil mencengkram pinggiran box bayi yang terbuat dari kayu jati ia mendengar setiap kata yang tersusun penuh penyesalan dari mulut pria yang baru saja menyatakan diri sebagai ayah kandung cucunya.


*******


Selamat natal dan tahun baru. 🎉🎉


Siapa tau ada pembaca yang sedang merayakan natal. 🙄

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️


__ADS_2