Mommy Dara

Mommy Dara
PART 35


__ADS_3

Gadis yang sedang berpura-pura sibuk di depan layar lipat mengangkat wajahnya mendengar penuturan asisten pribadi kakak iparnya tersebut.


Salman bergeming dan menatap lekat gadis yang sedang menatapnya pula. Saat ia ingin membuka suara untuk menjawab tawaran Bimo suara pintu lift yang terbuka di sertai hentakan keras sepatu yang menyentuh lantai mengalihkan atensi nya.


"Gisela!" lirih Salman dengan kening berkerut melihat gadis kecil yang baru saja keluar dari lift dan berlari ke arahnya. Ia melangkah menghampiri untuk segera dapat menjangkau gadis kecil yang masih memakai seragam sekolahnya.


Adinda yang melihat Gisela yang datang pun perlahan mengangkat tubuhnya dan berdiri namun, enggan beranjak saat Salman telah mengangkat gadis kecil itu dan membawa nya dalam gendongan.


"Princess, ada apa? Kenapa kemari?" tanya Salman begitu lembut dengan di liputi kekhawatiran yang tak ia tunjukan, ia hanya mengusap punggung ponakannya yang hanya diam tak menyahut.


"Aku bosan sekolah." jawab Gisela, yang membuat Salman serta yang lainnya mengerutkan kening dalam.


"Kau bilang apa! Bosan sekolah? Ya ampun... Nona kecil apa yang kau pikirkan?" celetuk Adinda dengan menggelengkan kepala dan menatap tak percaya dengan ucapan Gisela.


Gisela hanya melirik sekilas wajah Adinda dengan tajam dan kembali menatap Salman dengan tatapan melunak berharap uncle nya dapat memahami kegundahannya.


Salman balas menatap wajah gadis kecil itu. Meski ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tahu ada sesuatu yang membuat gadis kecil itu tak nyaman di sekolah, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Gisela bersamanya, tanpa bertanya kenapa dan ada apa.


*


*


Seperti rencana awal Salman ia berangkat menuju kota B dengan heli keluarganya, ia yang ingin datang sendiri justru harus membawa pengawal pribadi karena ia membawa Gisela serta, jadi ia harus memastikan keselamatan ponakan tersayang nya tersebut, juga Adinda yang ikut mendampinginya sebagai sekertaris nya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan darat Salman tak pernah lelah menyahut pertanyaan dari setiap apa yang dilihat Gisela. Gadis kecil itu begitu menikmati perjalanannya. Adinda yang menjadi penikmat di kursi belakang merasa iba dengan kehidupan nona kecil yang selama ini hanya terpenjara di Mansion mewah tanpa mengerti apapun tentang dunia luar. Dia telah mendengar ceritanya dari sang kakak, dan sekarang ia memahami kenapa Amanda begitu menyayangi gadis kecil yang malang itu. Hidup bergelimang harta namun hatinya selalu merasa sepi.


"Kita sudah sampai." Suara Salman menghamburkan segala lamunan gadis itu.


"Di sana pasti nanti akan ada beberapa wartawan, jika kau merasa tidak nyaman, kau tunggu saja di mobil, uncle tidak akan lama." tutur Salman sambil melepas seatbelt nya lalu mengelus rambut hitam panjang Gisela. Seperti hal nya Gio, Gisela juga anti wajah nya terekspos media.


"Jika kau membutuhkan sesuatu, ada pengawal di luar yang siap berjaga."


Gisela melihat keluar jendela dan terlihat 4 pria berjas hitam mengitari mobilnya. Dia kembali menoleh pada Salman dan mengangguk pelan.


Salman tersenyum dan meninggalkan kecupan sayang di surai hitam itu sebelum keluar dari mobil. Di susuli Adinda yang juga ikut keluar dengan sebelumnya ia mencubit pelan pipi Gisela yang semakin berisi, dan membuat gadis kecil itu berdecak kesal dengan kelakuan Aunty nya itu.


"Selamat menunggu, jangan merindukanku" pesan Adinda sebelum menutup pintu mobil, namun terdengar seperti ledekin di telinga Gisela.


Saking semangat nya Adinda melangkah, ia sampai tidak menyadari adanya genangan air sisa hujan di hadapannya, hingga ia merasa tubuhnya tertarik dan ujung sepatutnya yang basah terkena cipratan air genangan itu. Ia menoleh untuk melihat pemilik tangan yang menarik lengannya. Dada bidang dengan suara detakkan jantung yang pertama menyapa indera nya.


"Jalannya hati-hati, lubang nya cukup dalam atau kau ingin bajumu basah terkena air itu" hembusan nafas dari suara itu membuat Adinda mengangkat pandangannya dan seketika memundurkan tubuhnya.


Para wartawan yang telah menunggu kedatangan mereka tak menyisakan kesempatan untuk mengambil gambar yang mereka anggap langka itu,karena baru kali ini Tuan muda pertama dari keluarga Kaana itu terlihat bersama seorang gadis, dan itu membuat jiwa kepo para wartawan meronta dan isi kepalanya telah di penuhi banyaknya pertanyaan untuk di layangkan. Namun, semua nya terurung dengan penjagaan dari keamanan acara yang lebih dulu menghadang dan memberi akses bebas untuk Salman dan Adinda melangkah.


Adinda di buat tertunduk malu dengan suara jepretan yang bertubi-tubi mengenai wajahnya di sepanjang langkahnya bersama Salman. Berbeda dengan pria matang itu yang tetap berjalan gagah dengan melempar senyum yang menjadi ciri khas nya yang selalu ramah pada awak media.


Tak ingin semakin mengundang tanya para wartawan Adinda memilih mengambil jarak agar tak terlalu dekat dengan Salman, ia mulai berjalan lambat dan membiarkan Salman memimpin langkah di depan.

__ADS_1


Salman yang menyadari hal itu justru ikut memelankan langkahnya agar tetap berdampingan dengan Adinda. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Salman yang seolah biasa saja dan selalu menjawab sapaan awak media yang di lewati nya. Salman juga melempar senyum saat pandangan keduanya bertemu.


Di ujung tempat peletakan batu pertama, Tuan An tak memindahkan tatapannya dari pria yang ia harapkan menjadi menantu nya, namun pupus karena pria itu terus menolaknya.


Bukan hanya Tuan An, asisten pribadinya juga terkesiap dengan kedatangan Adinda di tempat itu, apalagi gadis yang sedang ia rebut hatinya itu justru datang bersama Salman. Apa mereka memiliki hubungan? Begitulah yang ada di kepalanya.


"Apa kau tahu siapa gadis yang datang bersama Salman itu?" pertanyaan Tuan An membuat atensi Harun berpindah pada pria paruh baya yang sudah lebih dari 3 tahun menjadi bos nya.


"Namanya Adinda, dia adik kandung dari istri Tuan muda Gio." jawab Harun yang tak memuaskan pertanyaan pria paruh baya itu.


"Apa mereka memiliki hubungan lain selain ipar?" Harun tak bisa membuka suaranya, karena ia tak memiliki jawaban untuk itu.


"Apa gadis itu yang menjadi alasan Salman menolak perjodohan nya dengan Bella?"


Harun semakin menolehkan wajahnya untuk lebih mempertajam pendengarannya dan melihat wajah Tuan An yang diliputi kekecewaan.


"Tuan Salman tetap menolak perjodohan itu meski nona Bella telah mengorbankan hidupnya?" lirih tanyanya namun masih dapat di dengar pria paruh baya itu.


"Bella begitu mencintai Salman, dan aku akan memastikan kali ini dia pasti menerima putri ku!" ucap Tuan An begitu yakin dengan apa yang telah tersusun di otaknya.


*


*

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2