Mommy Dara

Mommy Dara
PART 17


__ADS_3

Wajah kesal yang tadi nampak seketika berubah raut cemas serta ketakutan dan berharap apa yang baru saja ia dengar adalah kesalahan. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju lobi rumah sakit, menunggu ambulance yang di katakan Jerico menjadi korban kecelakaan mobil tabrak lari, dan kemungkinan korban itu adalah Tuan muda Kaana beserta istrinya, yang artinya itu adalah Gio dan Amanda.


Salman berusaha menepis segala pemikiran buruk itu, dan terus berharap bahwa ini tidak benar. Ia justru memelankan langkahnya saat melihat Gisela dan Adinda berjalan melewati pintu lobi rumah sakit dan masuk menghampiri nya.


"Uncle...!" seru gadis kecil itu


"Kenapa mereka ada di sini? Apa mereka udh tau?" lirih Salman bertanya sambil melirik pada Jerico.


Jerico mengangkat bahu dan kedua tangannya, "Gue belum ngasih tau siapapun kecuali elu, itu juga gue ga yakin mau ngasih tau nya," lirih jawabnya.


Salman memasang senyumnya dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja, ia kembali melangkah pasti mendekati gadis kecil yang sudah melepas genggaman tangannya dari Adinda dan sedikit berlari ke arahnya.


"Hai, kau sudah pulang sekolah?" tanyanya sambil mengangkat tubuh mungil Gisela.


Gisela menjawab dengan anggukan kepala.


"Sedang apa kau di sini? Apa kau sakit?" lagi Salman bertanya sambil merapikan rambut depan Gisela. Dalam hatinya ia begitu tak kuasa menahan tangisnya, bagaimana jika benar korban itu adalah Gio dan Amanda akan seperti apa reaksi gadis kecil itu.


Gisela menggelengkan kepalanya.


"Kakak dari temanku mengalami kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit ini, jadi aku ingin menemaninya mungkin dia butuh teman tapi Gisela memaksa ingin ikut." Adinda yang menjawab pertanyaan Salman.


"Kak Salman sendiri sedang apa di sini? Menjenguk seseorang juga?" imbuhnya bertanya.


"Aku..." Salman yang tak tahu harus menjawab apa menggantungkan ucapannya di udara. Dan suara sirine ambulance yang terdengar mendekat membuat jantung Salman memacu dengan begitu cepat.


Uwiw... uwiw... uwiw....


"Cepat... Cepat...Cepat..." suasana lobi seketika menjadi tegang, Jerico dan para tim medis lain di dampingi beberapa perawat terlihat berlarian menghampiri dua ambulance yang telah memasuki halaman rumah sakit bertaraf internasional itu


"Tolong kau temani Gisela sebentar!" pinta Salman yang langsung menurunkan Gisela dari gendongannya, ia segera ikut berlari mengekori langkah Jerico.


"Ada apa kak?" tanya Adinda yang menangkap raut sedih dan kecemasan yang tercetak jelas di wajah Salman saat melihat ambulance yang baru datang. "Siapa yang ada di dalam ambulance itu?" gumamnya yang tak menemukan jawaban apapun karena Salman yang sudah lebih dulu pergi menjauh.


"Ada apa aunty?" tanya Gisela yang ingin tahu dengan situasi yang sedang terjadi dan kenapa Uncle nya juga ikutan panik padahal Uncle nya bukan seorang dokter.

__ADS_1


"Entahlah. Kita minggir saja, jangan menghalangi jalan mereka." Adinda menarik pelan tubuh Gisela untuk menepi.


Bukannya menurut, gadis kecil itu justru semakin di liputi rasa penasaran dan langkah kakinya menuntunnya mengarah pada pintu masuk lobi dan tepat saat itu seorang petugas medis menarik brangkar dari dalam ambulance, wajah yang terbaring di atas brangkar itu perlahan menyembul seiring brangkar yang semakin di tarik keluar.


"Daddy...!" teriak gadis kecil itu di iringi tangis airmata yang luruh dari kedua mata indahnya.


Salman yang berdiri tepat di belakang ambulance itu menoleh untuk melihat gadis kecil yang sedang berlari kencang menuju arahnya.


"Daddy... Bangun... Daddy kau kenapa?" isak Gisela di samping brangkar Gio dan mengguncang lengan pria yang terbaring di atas brangkar tersebut.


"Sayang... Daddy mu baik-baik saja. Okeh...!" Salman segera mengangkat tubuh Gisela dan memberi perintah anggukan untuk tim medis mendorong brangkar yang baru saja keluar dari ambulance.


"Uncle turunkan aku! Aku mau Daddy... Daddy...!" Gisela terus meronta dalam gendongan Salman dengan tangis yang semakin pecah.


Adinda yang hendak menyusul langkah Gisela terdiam menatap tubuh kakak iparnya yang tak berdaya di atas brangkar yang dorong kencang, ia menatap iba pada gadis dalam gendongan Salman yang terus meronta dan berteriak dalam tangis.


Mobil ambulance kedua berganti terparkir didepan pintu, ia menolehkan kepalanya, wajah wanita yang berlumur darah di atas brangkar membuat airmata nya tumpah seketika.


"Mba Anda...!" serunya dalam isakkan.


Gisela menolehkan wajahnya mendengar seruan Adinda.


"Daddy... Mommy... Jangan tinggalkan aku!,"


Salman tak mampu menahan airmata nya dan ia biarkan mengalir melewati rahang kerasnya.


"Tidak sayang... Mommy dan Daddy mu akan baik-baik saja. Kau harus berdoa terus untuk keselamatan mereka yah," Salman terus berusaha menenangkan gadis kecil dalam gendongannya.


Di samping brangkar kedua yang di dorong tim medis, Adinda terus mensejajarkan langkah mengikuti laju brangkar dengan airmata yang telah membanjiri wajah cantiknya.


"Mba Anda... Ini aku, mba Anda harus kuat, mba Anda harus bertahan, mba Anda pasti bisa..." Adinda terus berucap di tengah langkah, ia menggenggam tangan sang kakak erat. Ia sedikit bernafas lega karena kakak nya itu masih terus mengeluarkan suara, meski terdengar begitu lirih namun, ia bisa mendengar kakaknya itu terus menyebut nona dan Gerald dalam mata nya yang terpejam. Ia juga dapat merasakan kakaknya membalas genggamnya dari cengkraman yang ia rasakan.


"Kesadaran korban kedua terus terjaga dokter," ucap perawat yang mendorong brangkar Amanda.


"Bagus. Lebih cepat dorong brangkar nya," titah sang dokter.

__ADS_1


"Baik dok," jawab perawat itu dengan menambah kecepatan langkahnya.


"To-long ja-ga Ge-rald ber-sa-ma a-yah kan-dung-nya." ucapan terbata Amanda yang begitu lirih, dapat di dengar jelas Adinda. Ia sudah tidak merasakan lagi genggaman sang kakak setelah itu. Ia kembali meriah tangan Amanda dan kembali menggenggamnya.


"Mba harus bertahan mba... Mba Anda..."


"Maaf nona cukup sampai di sini mengantar nya, silakan tunggu di luar." titah perawat dengan menghadang tubuh Adinda.


Genggaman tangan dengan Amanda terlepas seiring brangkar yang melaju melewati pintu hingga perlahan menghilang dan menyisakan pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.


Ia menolehkan kepalanya dan melihat Gisela yang sedang terisak dan menyembunyikan wajah di balik bahu Salman. Pria itu tetap terlihat tegar dan terus menenangkan gadis kecil dalam gendongan dengan usapan-usapan lembut di rambut hingga punggung gadis kecil itu.


Salman yang melihat Adinda sedang menatap ke arahnya, ia berjalan menghampiri gadis itu. "Tolong kau hubungi Mommy untuk membawa Gisela kembali ke Mansion." pintanya.


"Tidak mau, aku mau di sini bersama Daddy dan Mommy!" tolak Gisela dengan semakin memgeratkan kalungan di leher Salman.


"Gisela... Sayang... Uncle harus mengurus sesuatu, kau kembali lah. Kau harus istirahat. Hmm" rayu Salman dengan begitu lembut, lalu mendaratkan kecupan di pipi gadis kecil itu tanpa menghentikan aktifitas tangannya.


Gisela menggelengkan kepala tanpa merubah posisi wajahnya.


"Biar Gisela bersamaku kak." tawar Adinda.


"Sini!" lanjutnya dengan mengulurkan tangan dan hendak mengambil Gisela dari gendongan Salman.


"Kau tidak akan kuat menggendongku," tangkas Gisela masih dalam tangisnya dan membalikkan tubuhnya lalu merosot turun dari gendongan Salman.


Adinda meletakkan kedua lututnya ke lantai untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. Dengan penuh kelembutan ia mengusap wajah sembab yang basah karena airmata.


"Aku masih punya banyak coklat di tasku, jika kau berhenti menangis aku akan memberikan coklat milikku untukmu."


"Aku tidak mau coklat aku mau mommy dan daddy." jawab Gisela dengan airmata yang kembali mengalir membelah kedua pipinya.


"Mba Anda akan sedih jika kau terus menangis seperti ini," ucapnya dengan kembali menyapu airmata yang selalu berderai.


Gisela mendongak untuk menatap wajah uncle tampan nya.

__ADS_1


Salman tersenyum dan mengelus kepala Gisela.


Adinda bangkit dan menegakkan tubuhnya kembali lalu meriah lengan Gisela dan menuntun gadis kecil itu menuju kursi tunggu yang berada di lorong tersebut.


__ADS_2