
Di perusahaan Kaana
Sudah berjam-jam Salman duduk di ruang meeting dan memimpin rapat namun, sejak presentasi pertama dia bahkan tak mendengarkannya dengan seksama. Wajah sendu sang Daddy setelah perbincangan pagi ini terus membayanginya.
"Kenapa Daddy harus memasang wajah sendu seperti itu. Apa aku berbicara terlalu kasar dan membuat hatinya terluka. Bukankah seharusnya aku memang marah, tapi kenapa aku justru merasa bersalah sekarang," gumamnya.
Bimo yang berdiri di samping kursi Salman menatap heran Tuannya yang sedang bergumam , sedangkan para staf direksi menunggu tanggapan dari laporan yang baru saja di sampaikan.
" Eheum" Menyadari kini tatapan penghuni ruang meeting tertuju padanya, Salman membenarkan posisi duduknya dan menyusuri pandangan ke seluruh ruangan untuk mendikte wajah-wajah yang hadir di ruang rapat.
"Saya menghargai kerja keras kalian. Terima kasih untuk hasil terbaik yang telah kalian berikan. Dari saya hanya itu, untuk evaluasi selanjutnya mungkin bisa di bahas bersama Sergio setelah dia kembali, karena ini tanggung jawabnya dan dia yang lebih memahami akan seperti apa ke depannya nanti."
"Baiklah hanya itu, meeting kali ini saya akhiri. Selamat bekerja." Salman bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruang meeting. Tujuannya adalah ruangannya.
"Apa Daddy masih ada di ruangan ku?" tanya Salman saat ia keluar dari lift sambil terus mengambil langkah dan hanya sekilas melirik pada Nita yang sudah berdiri di depan meja sekertaris menyambutnya.
Tanpa menunggu jawaban Nita, Salman terus melewati gadis itu. "Iya tuan" jawab Nita yang kalah cepat dari langkah Salman.
"Selamat siang kak, meeting nya sudah selesai?" Bukannya sosok sang Daddy yang menyapa saat Bimo membukakan pintu untuknya namun, suara seorang gadis yang menyapa dari kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya menjadi pemandangan pertama yang ditemuinya.
"Bella!" kejut Salman sambil terus melangkah ragu menghampiri.
__ADS_1
Tuan Kaana yang tengah duduk di sofa sambil memeriksa beberapa dokumen menghentikan aktifitasnya. Dia mengikuti arah pandangan Salman pada sosok gadis yang terus mengukir senyum.
"Bella kemari mewakili Tuan An, siang ini Daddy ada meeting dengan perusahaan GW group. Kita akan menjalin kerja sama. Jadi, Daddy menunggu Bimo untuk mewakili Gio membahas kerja sama itu lebih lanjut." terang Tuan Kaana menjelaskan, ia sebenarnya berharap Salman lah yang akan melakukan meeting itu agar bisa lebih dekat dengan Bella. Tapi, ia tak mau memaksa dan justru nantinya akan membuat Salman kecewa dan menjauh darinya. Baru mendengar ungkapan kepergian Salman saja sudah membuatnya merasa begitu sedih.
"Bim, kau siapkan dokumennya, kita berangkat sekarang!" lanjut Tuan Kaana sambil mengangkat tubuh lalu merapikan jasnya sebelum akhirnya melangkah.
"Bersama Tuan Kaana? Aku sudah menunggu hampir satu jam, aku pikir aku bisa makan siang dan membahas kerja sama ini hanya alibi. Kenapa sulit sekali mengambil hatimu" batin Bella dengan menatap kecewa. Dunia bisnis sama sekali tak pernah membuatnya tertarik namun, tawaran sang ayah yang berniat menjodohkannya dengan Salman, membuatnya semangat dan segera meninggalkan negara C dan meninggalkan dunia fashion designer yang di gelutinya, demi mengejar cinta pria yang dulu pernah mengisi hatinya bahkan hingga saat ini, nama Salman masih menduduki banyak tempat di hati gadis berusia 29 tahun itu.
"Baik Tuan," jawab Bimo patuh. Saat ia akan mengambil berkas dokumen di atas meja langkahnya terhenti karena suara Salman.
"Aku yang akan pergi. Kau tetap di sini, Bim!"
"Kita pergi sekarang," ajak Salman pada gadis yang seketika mengangguk dengan wajah berbinar.
Sungguh ia pun ingin Salman mendapatkan kebahagiannya namun, ia berpikir Adinda bukan gadis yang tepat yang bisa mengimbangi kedewasaan Salman, mengingat gadis itu bahkan belum genap berusia 19 tahun sedangkan Salman adalah pria matang dengan usia 36 tahun, jarak usia yang terpaut begitu jauh.
*
*
Mobil yang di kendarai Salman telah jauh meninggalkan gedung perusahaan Kaana. Namun, sejak keduanya masuk ke dalam mobil tak ada perbincangan apapun, keduanya memilih fokus pada pemandangan di depannya. Bella sudah sangat menahan untuk tidak bersuara, ia sangat ingin bisa berbincang bersama Salman apalagi hanya ada mereka berdua di dalam mobil itu.
__ADS_1
Momen yang begitu selalu di dambakan Bella sejak 8 tahun yang lalu, ia yang mengawali karier di dunia modeling dengan mengikuti ajang bersama Belinda membuatnya menjadi akrab dan mengenal sosok Salman sebagai kakak ipar sahabatnya. Ia bahkan sengaja mencuri kesempatan untuk bisa datang ke Mansion hanya untuk sekedar melihat sosok pujaannya. Hingga, ia terlalu larut dalam perasaannya dan menganggap Salman juga memiliki perasaan padanya. Dengan penuh percaya diri ia mengungkapkan perasaannya. Namun ia salah, cinta nya bertepuk sebelah tangan. Dan untuk mengobati luka akan cintanya ia memilih pergi dan menetap di negara C dan kembali menimba ilmu untuk menjadi fashion designer yang menjadi impiannya. Kini ia kembali dan berharap dapat mengambil hati Salman kali ini.
"Ini hampir jam makan siang, kau ingin makan siang dulu?" Tawaran Salman memecah keheningan di dalam mobil mewah itu, ia menoleh untuk menatap lawan bicaranya.
Bella ikut menolehkan wajahnya dan tersenyum mengangguk. Saat ia masih ingin menikmati wajah tampan di hadapannya, Salman dengan begitu cepat memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada stir mobil.
Suasana kembali sunyi, hanya hembusan nafas kasar dari mulut Bella yang terdengar nyaring.
Dengan sedikit keberaniannya, Bella menatap lekat wajah sang pengemudi mobil, dengan jantung yang berdetak tak beraturan ia mencoba membuka suaranya.
"Maaf, jika apa yang di utarakan papah ku membuat kak Salman tidak nyaman. Jujur aku masih belum bisa menghapus rasa —"
"Kita sudah sampai," sela Salman setelah memarkirkan mobilnya dan membuka seatbelt di pinggangnya.
"Kali ini kita hanya akan membahas tentang kerja sama perusahaan kita, bukan yang lain" ucapnya sebelum membuka pintu mobil.
"Aku tahu! Tapi beri aku kesempatan, jika perasaanmu tidak berubah dan masih sama seperti yang dulu, aku akan pergi. Kembali pergi dan saat itu tiba, aku akan berhenti berharap." Salman mengurungkan niatnya dan membenarkan posisi duduknya lalu menoleh untuk menatap wajah cantik yang tengah menatapnya penuh harap.
"Maaf. Aku hanya tidak ingin kau salah paham lagi."
"Aku tidak pa-pa, sungguh! Aku masih bolehkan menganggap mu kakakku setelah itu,"
__ADS_1
"Kita akan membahasnya nanti. Turunlah, kita makan siang dulu" ucapnya dan segera keluar, meninggalkan gadis yang masih terus memandanginya.