Mommy Dara

Mommy Dara
Bab 40


__ADS_3

"Mommy... Daddy... Cepat, ayo!" suara teriakan bersahut menggema di area ruang terbuka dengan rumput hijau yang terhampar cerah nan indah


"Ayo mom , dad ... lebih semangat lagi dan lebih teliti lagi. Ingat hanya 10 puzzle yang di butuhkan. Jadi ada 5 puzzle zonk. Cari dengan teliti sebelum di serahkan pada putra/putrinya." seru seorang guru menginterupsi.


Acara selanjutnya setelah pemasangan tenda adalah estafet puzzle. Mommy berperan sebagai orang pertama yang memilih rangkaian puzzle yang telah di acak dan tugasnya mencari pasangan puzzle agar terbentuk sebuah gambar seperti yang telah di tentukan.


Daddy bertugas sebagai orang kedua yang mengantar satu persatu potongan-potongan puzzle yang telah di pilih mommy untuk di berikan pada sang putra.


Para putra-putri dengan begitu tak sabarnya menunggu daddy masing-masing mengantar potongan puzzle untuk selanjutnya di susun menjadi gambar lengkap.


"Uncle , lebih cepat lagi lari nya , sisa satu puzzle lagi. Ayo cepat!" Seru Gisela sambil melompat-lompat tak sabaran.


"Ini!" lirih Salman menyerahkan potongan puzzle terakhir dengan nafas memburu akibat kelelahan bolak-balik berlari .


"Yey... Selesai!" sorak Gisela berjingkrak ria.


"Yah!. Aku terlambat Gisela sudah lebih dulu." Seru Danish terdengar kecewa karena terlambat sepersekian detik saja.


"Ini game benar-benar membuat orang tua semakin terasa tua" keluh Daddy Danish sambil mengatur nafas.


Salman yang sedang melakukan hal yang sama sambil membungkukkan badan menegakkan tubuhnya menatap pria yang usianya tak jauh beda darinya.


"Usia tidak bisa di bohongi , bro!" sahutnya dengan sedikit terkekeh. Kaki serta tulang punggungnya seakan remuk karena di bawa lari kesana -kemari.


^


^


Langit senja mulai berubah gelap namun aktifitas di sekitar camping semakin ramai. Usai melaksanakan ibadah dan makan malam bersama, game kembali berlanjut.


Setelah sore para Daddy yang bekerja keras kini giliran para mommy yang berlomba menyusun uang koin hingga menjadi menara tertinggi.


"Pelan-pelan saja aunty , jangan terburu-buru meletakkan koinnya , nanti menara koin kita bisa roboh!" Dengan berjongkok di depan meja berhadapan dengan Adinda Gisela berseru sembari menggerakkan kedua tangannya seolah menjaga menara koin yang telah di susun Adinda agar tak roboh dengan penuh harap-harap cemas.


"Gisela diam lah , gerakan tanganmu dan ocehan mu hanya membuatku jadi tak konsentrasi." Kesal Adinda namun tak menghentikan aktifitas tangannya yang sedang berusaha terus menyusun menara koin.


Ada total 200 keping koin uang logam yang harus di susun hingga menjadi menara tertinggi dan itu tak mudah. Terbukti dari seluruh mommy yang ikut game tersebut hanya tersisa 3 mommy saja yang masih bertahan dengan tumpukan menara mereka dan Adinda salah satu nya.


"Ih aunty ini , aku kan hanya ingin memberikan semangat. Supaya kelompok kita lagi yang menjadi pemenangnya." sanggah Gisela dengan menegakkan punggungnya.


"Aku bilang diam, nona menyebalkan!" seru Adinda tanpa menatap lawan bicaranya.


"Huh! Kau yang menyebalkan!" Elak Gisela lalu membalikkan badannya. Namun, tanpa ia sadari gerakan tangannya menyentuh menara koin Adinda dan membuat koin-koin yang telah tersusun dengan susah payah hancur berhamburan di atas meja.


"Ups. Maaf!" Gisela menutup mulutnya dengan kedua tangan dan tertunduk mengetahui kesalahannya.


"Gisela!" teriak Adinda dengan menatap tajam gadis kecil itu.


*


Malam semakin larut game menyusun koin uang logam menjadi penutup perlombaan hari ini.


Para peserta camping telah berada di tenda masing-masing untuk beristirahat agar tubuh bisa fresh esok hari dan kembali mengikuti perlombaan dan seluruh kegiatan camp.


"Aunty, kau masih marah?" Tak ada sahutan.


Adinda terus saja membungkam mulutnya sejak kejadian itu. Tak ada yang bisa Gisela lakukan meski sudah berulang kali ia meminta maaf , tapi sepatah katapun tak keluar dari mulut Adinda.


Dengan masih menaruh rasa bersalahnya Gisela menarik selimut hingga menutup dadanya dan tertidur membelakangi sang aunty.


Setelah mendengar dengkuran halus di balik punggungnya , Adinda membalikkan tubuh dan mengusap surai hitam Gisela lembut.


"Ternyata nona kecil yang sombong dan manja ini punya rasa bersalah juga." ucap Adinda yang sudah terduduk dan memandang wajah mungil yang sedang terlelap.


"Aunty ga marah , kok! Tidur yang nyenyak ya nona kecil sayang!" ucapnya lagi lalu mengecup kasih kening Gisela dan menarik selimut gadis kecil itu hingga leher. Kemudian ia ikut terlelap sambil memeluk anak sambung kakaknya itu.


Di sepertiga malam Gisela yang pengen buang air kecil terbangun , ia menoleh dan menatap Adinda hendak memintanya menemani ke toilet. Namun, ia ingat aunty nya yang masih marah ,ia mengurungkan niatnya untuk membangun kan gadis itu.


Ia melihat sekeliling tenda , rasa takut membuatnya tak berani keluar.


"Di tahan aja deh , jangan ngompol di sini yah." ucapnya sambil memejamkan mata rapat.


Udara dingin yang semakin menusuk tulung membuat kandung kemih Gisela terasa semakin berisi dan tak sanggup lagi untuk di tahan. Akhirnya dengan sedikit keberanian ia keluar dari tenda. Tujuannya adalah tenda sebelah milik Salman.


Salman yang baru saja dari toilet melihat Gisela yang hendak masuk ke tenda nya.

__ADS_1


"Princess..." lirih Salman memastikan bahwa gadis kecil di depan tendanya adalah ponakan cantik tersayang nya.


Gisela yang mendengar suara Salman tanpa ba bi bu lagi langsung saja menarik tangan pria itu.


Salman yang hendak bertanya seketika terbungkam mendengar ucapan gadis kecil itu.


"Aku mau pipis!"


*


"Huh akhirnya lega." seru Gisela saat keluar dari toilet wanita.


Salman yang masih setia menanti di depan pintu menoleh mendengar suara halus Gisela.


"Sudah?" tanya nya.


Hanya sebuah anggukan pasti Gisela berikan sebagai jawaban.


"Ayo , uncle antar lagi ke tenda mu!" ajak Salman kemudian.


Kali ini dia menggelengkan kepala nya dan tetap bergeming di tempat ia berdiri.


"Aku tidak mau kembali ke tenda ku" lirihnya.


"Lalu?" tanya Salman dengan dahi berkerut.


Karena Gisela bersikukuh tetap tak mau kembali ke tenda dan lagi waktu subuh yang hampir tiba , akhirnya Salman dan Gisela memutuskan menunggu matahari terbit di depan perapian yang berada di tengah lapangan.


Adinda yang terbangun dan meraba samping tempat tidur, tersadar tak ada Gisela di sisi nya seketika membuka mata lebar dan terduduk sambil mengitari pandangan mencari keberadaan Gisela di sekitar tenda yang hasilnya nihil.


"Gisela! Kemana dia?," Dengan mengibas selimut yang membungkus tubuhnya ia bangkit dan keluar dari tenda .


*


Gisela yang sedang duduk sambil menghangatkan tubuh di depan perapian mendongak dan menatap lekat wajah pria yang sedang sibuk memeriksa beberapa pekerjaan lewat benda layar lipat di atas pangkuan.


Dimana pun dan kapanpun, pekerjaan kantor tak bisa di hindari.


"Apa benar uncle akan menikah dengan aunty Bella dan uncle juga akan meninggalkan negara ini?" lirih tanya Gisela.


"Apa kita tidak bisa , tinggal bersama seperti ini dan bermain bersama dengan adik bayi?"


Adinda yang sudah mencari ke toilet namun tak menemukan Gisela tanpa sengaja melihat dua sosok dari kejauhan duduk bersama di depan api unggun. Dengan langkah perlahan ia menghampiri sosok tersebut , hati nya sedikit lega mendengar suara yang di cari nya ternyata salah satu dari sosok itu.


"Aku tidak tahu apa yang menjadi masalah orang dewasa." ujar Gisela dengan semakin menundukkan wajah.


"Uncle mencintai aunty Adinda tapi kenapa malah memilih pergi dan akan menikah dengan aunty Bella."


Dalam jarak beberapa langkah ia berhenti mendengar ucapan Gisela. Suasana malam yang sepi membuat telinganya dengan jelas menangkap suara lembut Gisela.


"Apa katanya tadi , kak Salman mencintai ku?" ucap Adinda dengan begitu lirih bahkan hati kecilnya pun seolah tak bisa mendengarnya.


"Tapi dia bilang juga , kak Salman akan menikah dengan kak Bella , apa maksudnya?" kembali ia berbisik lirih dengan hati kecilnya sendiri.


Salman menutup layar lipatnya perlahan dan menoleh menatap Gisela yang justru menghindari pandang dari sang uncle. Gadis kecil itu tertunduk dengan menahan tangisnya.


"Apapun keputusan Uncle , itu adalah yang terbaik untukmu dan juga adik bayi karena uncle tau, princess uncle ini selalu bisa di andalkan." ujar Salman sambil mengelus surai hitam Gisela lembut.


Dengan air mata yang mulai tak bisa di bendung Gisela kembali mengangkat wajahnya perlahan untuk menatap Salman.


"Uncle mungkin tidak akan merindukan ku meskipun aku akan sangat merindukan uncle. Tapi apa uncle yakin tidak akan merindukan Gerald ,darah daging uncle. Uncle akan meninggalkan putra uncle sendiri. Apa uncle tidak lagi menyayangi nya?"


DEG!!!


Jantung Adinda seperti berhenti berdetak sesaat. Tungkai kaki nya seakan tertanam ke tanah, ia mematung di tempatnya berdiri .


"Putranya sendiri?? Apa artinya... Kak Salman adalah ayah kandung Gerald?! Bagaimana ini mungkin?" Lirihnya dengan rasa sesak di dada.


Dengan menyimpan banyak tanda tanyanya sendiri Adinda perlahan menguatkan tonggak kakinya dan mengambil langkah mundur untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Mana mungkin uncle tidak menyayangi kalian. Jika uncle harus menyerahkan seluruh kebahagiaan uncle untuk kebahagiaan kalian , akan uncle berikan tanpa ragu."


"Jangan pernah berpikir macam-macam. Gadis kecil uncle harus selalu tersenyum dan bahagia , seperti ini. " ucap Salman dengan menarik kedua pipi Gisela membentuk senyum sempurna.


"Aku akan selalu menyayangi uncle" ucap Gisela yang langsung memeluk erat Salman.

__ADS_1


"Uncle juga akan selalu menyayangi mu" balas Salman dengan mengecup pucuk kepala Gisela dengan penuh kasih sayang.


*


*


Matahari pagi seperti malu-malu menampakkan sinarnya. Meski waktu telah menunjukkan hampir pukul 10 pagi , namun secercah cahaya itu belum juga hadir .


Langit mendung berkabut awan hitam tak menghalangi serangkaian acara camping pagi itu. Karena mendung tak berarti hujan , acara pencarian jejak mengelilingi area sekitar untuk mengenal alam lebih dekat tetap di laksanakan dengan tetap mengutamakan keselamatan.


Pencarian jejak di bagi menjadi 3 keluarga dalam satu kelompok. Gisela bersama Salman dan Adinda satu tim dengan keluarga Lyra dan Naomira . Yang di wakili oleh Jeri dan Tari , mengingat Amira yang tengah mengandung dan masih di trimester pertama sehingga perlu banyak istirahat . Akhirnya perwalian Naomira di gantikan pasangan pengantin baru Jeri dan Tari yang dengan senang hati menerima tugas tersebut sebagai bentuk pembelajaran bagi mereka sebelum memiliki putra sendiri nantinya.


"Langitnya semakin gelap , jalannya hati-hati yah , terus perhatikan penunjuk jalan jangan sampai terpisah dari rombongan!" Seru Tari menginterupsi para anak-anak yang lebih memilih jalan di depan daripada di gandeng oleh wali masing-masing.


"Siap bu guru cantik!" Goda Jeri dengan mengangkat tangan kanan sembari memberi hormat menghadap sang istri.


Sebuah cubitan mesra di layangkan Tari di pinggang sang suami. Dan di balas senyum dan tawa riuh para anak-anak di depan yang sejenak menghentikan langkah mendengar suara Tari dari belakang.


Pohon-pohon tinggi yang hijau nan rindang menemani perjalanan keluarga - keluarga kecil bahagia itu. Sedikit gurauan menyelingi langkah-langkah mereka sekedar untuk melupakan rasa lelah yang kadang melanda.


Kedua orang tua Lyra yang sebelumnya berselisih di dalam rumah tangganya namun, di acara camping ini di tuntut harus kompak dan saling bekerja sama di tambah juga kemesraan yang selalu di tampilkan pasangan pengantin baru di dalam kelompoknya , membuat iri hati siapapun yang melihat, perlahan mereka pun melupakan perselisihan dan menikmati perjalanan sambil saling bercengkrama.


Tautan tangan kedua orang tuanya yang tertangkap netra jernih Lyra tak lepas melengkung kan senyum di wajah cantik gadis kecil itu. Kebahagiaan Lyra yang juga turut di rasakan temannya.


Gisela yang pernah merasakan bagaimana sedih dan terlukanya kehilangan kasih sayang kedua orang tua, bersyukur bahwa orang di sekitar nya tak harus merasakan apa yang pernah dia rasakan. Namun, rasa sakit itu kini telah terbayar dengan limpahan kebahagiaan yang tak terhingga mengingat keluarga kecil baru nya saat ini.


Ia melirik dan menoleh pada Salman yang tak lepas memberikan senyum menatapnya. Tapi berbeda dengan Adinda yang selalu melengos kan pandangan darinya , perasaan bersalahnya pada malam itu masih mengena di hati lembut gadis kecil itu. Hingga dalam setiap langkah ia berpikir bagaimana cara mengembalikan senyum sang aunty dan mau memaafkannya.


"Hey , kalian mendengar suara itu?" Lyra merentangkan tangannya menghalangi langkah Naomira dan menghentikan segala pemikiran Gisela.


"Suara apa? Suara angin?" sungut Gisela dengan menajamkan pendengarannya dan menatap sekeliling.


"Ish. Itu suara air" seru Lyra berdecak kesal.


"Seperti yang tadi di jelaskan bu Andira , bahwa kita akan melewati sungai dengan naik perahu karet" jelasnya lebih lanjut.


"Aku pernah naik perahu karet saat tempat tinggal ku terkena banjir dulu. Dan tidak ada yang istimewa." Naomira kembali melanjutkan langkahnya di ikuti Gisela kemudian.


"Gisela memang kau juga sudah pernah naik perahu karet seperti Naomi?" tanya Lyra dengan berlari kecil mensejajarkan langkah dengan kedua temannya di depan.


"Belum!" jawab Gisela singkat.


Langkah ketiganya kembali terhenti mendengar interupsi dari depan.


"Perahu karetnya tersisa yang kecil , jadi silakan kelompoknya di bagi 2 . 5 orang untuk perahu karet pertama."


Tanpa menunggu lama , Lyra segera menarik tangan Gisela untuk segera mendekat ke perahu karet , dan memasang pakaian keselamatan.


Perahu karet pertama yang di isi keluarga Lyra serta Salman dan Gisela melaju lebih dulu. Bibir mungil Lyra terus saja berceloteh bahagia dan dengan antusias Gisela pun ikut menanggapi , karena ini pun kali pertama nya menaiki perahu karet di atas sungai seperti ini.


Salman yang tak pernah jauh walau sejengkal pun dari sang ponakan tercinta , ikut pula merasakan kebahagiaan gadis-gadis kecil itu.


Sementara di perahu kedua yang di isi Adinda bersama keluarga Naomira , tak ada yang bersuara . Semuanya hanya diam menatap air sungai yang terlihat tenang namun menghanyutkan.


BYUURR


Hingga suara seperti benda yang terjatuh membuat perahu karet itu seketika oleng dan kegaduhan mulai tercipta.


"Adinda!"


"Aunty Adinda!" seru ke-tiga nya bersamaan dengan raut terkejut serta bingung.


Bagaimana tidak terkejut serta bingung, jika tidak ada angin dan arus deras tiba-tiba saja tubuh Adinda terjatuh dan pakaian keselamatan yang di kenakan gadis itu justru tergeletak di atas perahu.


"Man... Itu .... Adinda... jatuh!" seru Jeriko yang masih shock dan belum bisa berpikir apapun dan hanya berdiri menatap air sungai dengan pandangan kosong.


Begitu juga dengan Tari dan Naomi yang saling menangis dan berpelukan tanpa tau harus berbuat apa?.


"Ayah. Nda mau ikut ayah. Cuma ayah yang sayang ,nda. Ga da lagi selain ayah!"


*


*


*

__ADS_1


*


To be continue, in the next season. ❣️❣️❣️❣️🙏


__ADS_2