
Bella yang duduk di kursi roda dalam dorongan Salman mengerutkan dahi saat Salman membawanya bukan ke tempat duduk mereka sebelumnya melainkan ke dalam sebuah ruangan. "Kak tempat duduk kita 'kan bukan di sini?" tanyanya dengan menolehkan wajahnya kebelakang untuk menatap pria yang mendorong kursi rodanya.
'"Iya. Di bawah terlalu ramai orang, jadi aku meminta tempat yang lain." jawab Salman dengan menghentikan langkah di meja yang telah berdiri dua orang pelayan wanita menyambutnya.
"Apa kau keberatan kita pindah duduk ke ruangan ini?" Imbuh tanyanya setelah ia mengunci kursi roda Bella dan duduk berhadapan dengan wanita itu.
Bella menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban dan kembali duduk dengan menatap lurus ke depan. 'Apa kak Salman merasa malu duduk denganku, jadi dia memilih duduk di ruangan ini' batin nya dengan memegang erat lututnya menyadari kondisinya.
Setelah keduanya mengatakan apa saja yang mereka pesan kedua pelayan itu meninggalkan ruangan dan menyisakkan keduanya d ruangan yang hanya terdapat satu meja disana.
Salman menghela nafas dan menautkan kesepuluh jarinya di atas meja. Ia menatap lekat wajah wanita di hadapannya dengan perasaan bersalah.
Kedatangan Tuan An pagi ini ke kantornya dan ucapan terima kasih pria itu karena Salman bersedia membantu memulihkan kondisi perusahaan GW Grup, dan juga membicarakan kelanjutan perjodohannya dengan Bella.
Untuk perusahaan Salman memang sudah mengatakan akan membantu menyelamatkan perusahaan itu semampunya. Akan tetapi, untuk perjodohan itu? Salman tidak yakin dengan perasaannya dan ia tak ingin memberikan harapan yang belum ia yakini. Namun, mengingat kondisi gadis itu dan pengorbanan yang telah di lakukan gadis itu membuat Salman sedikit merasa tersentuh, meski itu tak merubah apapun dalam hatinya tapi, ia tak bisa menutup mata dengan kondisi Bella.
"Terima kasih kau telah telah menyelamatkan ku dan maaf kau jadi seperti ini karena aku. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Tapi aku, akan menemani mu melewati ini hingga kau bisa berjalan normal lagi."
Bella mencoba menahan air mata yang akan menumpuk di pelupuk matanya.
"Aku tidak memikirkan apapun saat aku berlari dan menabrakkan diri ke mobil itu, apalagi untuk membuat mu bersimpati dengan apa yang aku lakukan. Aku tulus dan ikhlas melakukannya. Jadi, kau tidak perlu terus berterima kasih dan merasa bersalah padaku. Kau juga tidak perlu melakukan semua itu."
Airmata itu nyatanya tak bisa terbendung lama dan mengalir membelah kedua pipinya. Ia tertunduk dan menyadari keegoisannya yang telah memanfaatkan kondisinya untuk membuat Salman tetap di sisi nya meski ia tahu itu tak membuat Salman nyaman.
__ADS_1
Melihat gadis di depannya telah berderai airmata Salman mencondongkan tubuhnya dan meraih kedua tangan Bella.
Bella yang merasakan genggaman hangat di tangannya, mengangkat wajahnya untuk menatap pemilik tangan itu.
"Aku yang seharusnya meminta maaf kak, karena aku telah memanfaatkan kondisiku dengan memaksa mu tetap bersamaku. Aku pastikan ini terakhir kali aku meminta waktumu, selanjutnya aku akan mengurus diriku sendiri tanpa merepotkan mu lagi,"
"Aku tidak pernah merasa kau merepotkan ku. Aku bahkan berencana untuk melanjutkan terapi kaki mu di luar negeri, apa kau mau menjalani perawatan di negara A? Aku ingin kau bisa melanjutkan hidupmu kembali dengan normal seperti sedia kala. Pengobatan di sana lebih canggih kau pasti akan segera bisa berjalan lagi."
Bella terpaku mendengar penuturan Salman, ia bergeming dan hanya kedua matanya yang berkedip seolah mencari kesadaran dari apa yang ia dengar. "Melakukan perawatan di negara A?" tanyanya dengan rasa tak percaya.
Salman menganggukkan kepala pasti sebagai jawaban.
"Kau akan menemani ku disana?" tanya nya lagi semakin meminta pembenaran.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa menerima perjodohan kita. Maaf!" ucap Salman dengan semakin menggenggam kedua tangan Bella.
"Kau gadis yang cantik, kau juga gadis yang sangat baik, aku yakin ada banyak cinta yang menunggu mu di luar sana dan itu bukan dariku."
Perlahan Salman mengendorkan genggaman tangannya.
Bella memandang nanar tangan kekar yang mulai menjauh dari tangannya. Ingin rasanya ia menarik kembali tangan itu dan berharap tidak akan terlepas darinya. Airmata yang sebelumnya sempat memudar kini kembali berderai membanjiri wajahnya.
"Maafkan aku, aku tidak ingin kau terus berharap dalam ketidakpastian. Maafkan aku karena aku harus mengatakan ini. Aku ingin kau menemukan kebahagian mu."
__ADS_1
Dengan menahan sesak di dada ia tetap harus mengatakan kebenarannya. Ia sempat berpikir untuk memulai kehidupan barunya dengan menerima gadis itu dan menjauh dari masa lalunya, tapi semakin ia berpikir semakin ia tak kuasa, wajah malaikat kecil yang selalu meneduhkan nya nyatanya tak bisa ia tinggalkan.
Ia tak ingin menjadi pria pengecut dengan meninggalkan putra kandungnya sendiri seperti apa yang ia alami, yang sama-sama hadir karena karena cinta rumit dan tak pernah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
Dengan sedikit mengangkat tubuhnya ia mengulurkan satu tangannya untuk menyeka airmata gadis di depannya.
Bella mencoba menarik kedua sudut bibirnya dan menghapus sisa airmata nya dengan tangannya sendiri mengalihkan tangan Salman di wajahnya.
"Kapan kita akan berangkat dan memulai perawatannya? Semakin cepat di mulai semakin cepat juga aku terbebas dari kursi roda ini, iya kan!" tanyanya ingin segera mengakhiri rasa sesak di dadanya. Sakit! sangat menyakitkan yang ia rasakan saat ini, ia benar - benar tak memiliki kesempatan sama sekali.
"Aku akan segera mengabari mu setelah aku mendapatkan kabar dari Jerico kapan Dokter Ortopedi sahabatnya di negara A siap untuk merawat mu."
Bella mengangguk mengerti.
"Aku sangat lapar sekarang"
Makan malam yang menjadi tujuan keduanya kembali berlanjut, seolah ingin melampiaskan kesedihannya Bella melahap semua makanan yang tersaji di depannya, tidak peduli pedas, asam, manis semua makanan masuk ke mulutnya dan yang lidahnya rasakan justru hanya rasa hambar.
Sedangkan Salman, pria itu juga tak menikmati makanannya, ia menyuap sedikit ke dalam mulutnya dan selanjutnya hanya menyaksikan gadis di depannya makan. Ia melihat jelas kesedihan yang coba di tahan gadis itu, ia berharap kesedihan itu akan segera berlalu dan berganti dengan kebahagiaan.
Rasa penasaran bagaimana Asisten pribadi Tuan An mengenal Adinda masih sedikit mengganjal di hatinya namun, ia sadar tak memiliki hak untuk mencampuri kehidupan pribadi Adinda. Wajah kecewa bu Harti masih membekas di pelupuk matanya, ia tak ingin berharap lebih dengan perasaannya, biarlah ia simpan sendiri perasaan itu di dalam relung hati terdalamnya dan menghapuskan niatannya untuk mencari pengganti pemilik hatinya itu, ia akan bertekad untuk menutup hatinya, menjalani kehidupannya seperti dulu lagi sebelum mengenal kata cinta. Karena yang tersisa baginya kini hanya memastikan kebahagian putranya.
******
__ADS_1
Happy reading ❤️