Mommy Dara

Mommy Dara
PART 27


__ADS_3

"Mau nambah lagi makanannya buat di bungkus?" tanya Harun dengan sedikit kekehan.


"Ini pertama dan terakhir kali aku makan hewan laut itu, serem banget bentuknya," jawab Adinda dengan bergidik ngeri melihat lobster super dengan siraman bumbu merah menyala yang memenuhi piring raksasa di meja.


"Kan baru liat bentuknya, rasanya belum,"


Adinda menggelengkan kepala cepat dan menggeser piring yang terlihat masih utuh isi di atasnya sedangkan piring-piring yang lain telah berpindah isi nya ke dalam perut.


Harun memang tak memakan makanan laut karena ia alergi dengan makanan itu, tapi demi memenuhi rasa penasaran Adinda ia rela berada di restoran itu dan menyantap menu lain yang tak menjadi primadona di sana.


"Ya udah kalo ga mau nambah buat di bungkus. Kita pulang sekarang, ibu pasti udah nungguin kamu."


Adinda mengangguk setuju dengan ajakan Harun. Harun yang hendak bangkit mengurungkan niatnya saat mendengar ponsel Adinda yang berdering.


"Ibu yang nelpon, aku angkat dulu yah!"


"Di sini berisik, kamu angkat di luar aja, tunggu mas di depan, mas mau bayar ini dulu di kasir"


Adinda kembali mengangguk dan keduanya bangkit bersama lalu berpisah arah di tengah jalan, Harun melangkah ke kiri menuju kasir sedangkan Adinda ke kanan menuju pintu keluar.


"Iya bu, wa'alaikumsalam...!" jawab Adinda setelah menggeser tombol hijau dan meletakan ponselnya ke depan telinga sambil membalas senyuman ramah pelayan wanita yang membukakan pintu untuknya.


"Iya, mas Harun lagi di kasir,"


"Iya, kita langsung pulang."


Di tengah pembicaraannya dengan sang ibu, ia menghentikan langkah dan terdiam mematung saat melihat seseorang di parkiran mobil.


Salman yang telah memasukan kursi roda Bella ke dalam bagasi mobilnya menutup pintu bagasi itu kembali. Ketika ia akan melangkah ia menolehkan wajahnya saat menyadari lampu sen mobil di sampingnya menyala, ia melihat gadis yang berdiri di belakang mobil itu justru bergeming menatapnya. Kedua netra nya membulat seketika saat pandangannya bertemu dengan gadis itu.


"Adinda!" seru nya.

__ADS_1


Melihat mobil itu mulai bergerak mundur ia segera berlari dan meraih lengan Adinda agar tubuh gadis itu terhindar dari mobil yang akan keluar area parkiran tersebut.


Dengan satu tangan yang masih memegang ponsel di telinganya serta satu tangannya lagi menempel di dada bidang Salman dan kedua bola mata hitamnya begitu dekat memindai wajah pria tampan matang di hadapannya. Adinda hanya mampu membisu tanpa mampu membuka suara.


Debaran hebat jantungnya pasti dapat di rasakan gadis dalam dekapan nya saat ini, seolah ingin waktu terhenti sebentar, ia ingin menikmati keindahan paras ayu gadis itu. Namun, akal sehatnya kembali membuatnya tersadar. "Kau tidak apa-apa?" tanya Salman dengan begitu lembut.


Seperti terhipnotis dengan suara dan hembusan nafas Salman yang menerpa wajahnya, Adinda begitu terlarut dalam dekapan hangat itu, hingga suara bu Harti yang memanggilnya berkali-kali mengembalikan kesadarannya kembali. Ia menjauhkan tangan yang menempel di dada Salman dan selangkah mundur ke belakang.


Harun yang telah selesai melakukan transaksi di meja kasir dengan begitu khawatir segera berlari untuk menghampiri Adinda, tanpa memperdulikan uang kembalian yang akan di terima nya.


"Dek, kamu ga pa-pa, ada yang luka?" tanyanya masih dengan nafas tersengal karena aksi larinya.


Adinda mengalihkan tatapannya pada pria yang baru datang dan berdiri di sampingnya dengan raut wajah cemas yang begitu tercetak jelas di wajah Harun.


"Aku ga pa-pa. Kita pulang sekarang!" jawab ajaknya.


"Terima kasih kak." ucap tulus Adinda kembali menatap wajah Salman sebelum ia mengambil langkah untuk meninggalkan tempat itu.


"Tuan Salman!" lirih Harun dengan rasa terkejut melihat pria yang kini berdiri di hadapannya.


Salman yang tengah menatap punggung Adinda yang telah berbalik mengalihkan tatapannya pada Harun dan menjawab dengan senyum ramah.


"Terima kasih telah menyelamatkannya. Maaf saya baru mengenali Anda." sesal Harun yang tidak menyadari pria di hadapannya adalah Salman, karena ia hanya terfokus pada keselamatan Adinda.


Salman kembali menjawab dengan senyuman dan anggukan.


"Saya permisi duluan. Mari" pamit Salman dengan sedikit melirik punggung Adinda kembali sebelum melangkah ke samping kemudi mobilnya.


Harun mengangguk. "Hati-hati, Tuan!" ia menggeser tubuhnya dan menunggu mobil Salman keluar dari parkiran, barulah ia beranjak menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Salman.


*

__ADS_1


*


*


Di Mansion Kaana


"Makasih ya mas udah nemenin beli buku trus di traktir makan seafood juga" ujar Adinda setelah mobil yang di tumpanginya telah sampai di halaman depan tempat tinggalnya.


Bukannya menjawab Harun justru meraih kedua tangan Adinda untuk di genggamnya.


Adinda memandang tangannya yang telah berada di depan dada Harun.


"Mas berharap bisa terus seperti ini. Melewati banyak waktu bersamamu. Mas ingin menebus waktu yang telah kau lewati dalam menunggu mas. Jika sekarang mas pun harus menunggumu, mas akan terus menunggumu dengan setia seperti kau menunggu mas dengan setia mu."


"Mas janji, mulai sekarang mas akan menemani mu sampai kau meraih cita-cita mu." ucap Harun dengan menatap lekat wajah gadis cantik yang telah begitu bodoh dia lewatkan di masa lalu.


"Mas, aku, -" ucap Adinda terhenti dengan jari telunjuk Harun yang terlihat begitu dekat dengan bibirnya.


"Jangan katakan apapun. Biarkan mas juga merasakan waktu, bagaimana menunggu mu membuka hati. Karena mas tahu perasaanmu pasti telah memudar untuk mas. Tapi mas akan terus berusaha mengembalikan perasaan itu lagi, perasaan cinta yang pernah kau berikan untuk mas. Mas akan mengganti dengan cinta yang lebih besar untukmu."


Adinda menggelengkan kepala dengan airmata yang menumpuk di pelupuk matanya. Kenapa balas cinta itu hadir sekarang, di saat hatinya justru telah di miliki cinta yang lain.


"Ada orang lain yang telah mengisi perasaan cinta itu. Sudah tidak ada mas Harun lagi di sana. Aku juga tidak tahu kapan perasaan untuk mas hilang dan aku tidak tahu apa tempat itu akan bisa kembali untuk mas lagi atau tidak. Maafkan aku."


Adinda segera menarik tangannya setelah mengucapkan perasaannya yang sebenarnya. Dengan sedikit tetesan airmata ia melepas seat belt di pinggangnya dan membuka pintu mobil, tanpa melihat ke arah pengemudi ia turun dan berjalan cepat meninggalkan mobil yang telah membawanya kembali, lalu masuk ke dalam mansion setelah ia menghapus jejak airmata hingga tak menyisakkan bekas di wajahnya.


Dari dalam mobil Harun terus memandangi kepergian Adinda, meski gadis itu telah menghilang di balik pintu, ia masih bergeming dan tak ingin melajukan kembali kuda besi tumpangannya.


"Siapa pria itu, Adinda?"


*****

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2