Mommy Dara

Mommy Dara
PART 32


__ADS_3

Adinda tersenyum puas, melihat tingkah kesal Gisela. Dia begitu senang menggoda anak tiri kakaknya itu. Dia baru menutup mulut saat sang ibu menepuk bahunya dan sedikit menjewer telinganya, karena aksi iseng nya.


Melihat jarum jam yang berada di pergelangan tangannya membuatnya ingat akan tugas kampus yang harus di serahkan.


"Adinda mau langsung ke kampus, ada tugas yang harus di kumpulkan. Aku pamit ya bu," pamitnya dan mencium takdzim punggung tangan sang ibu lalu bergantian melakukan hal yang sama pada Shalimar.


"Biar Salman yang mengantarmu ke kampus,"


"Tapi mom, —"


"Tidak apa-apa, aku juga sekalian ke perusahaan." Salman menyahut di sela langkahnya menghampiri Shalimar, lalu berpamitan pada wanita yang telah melahirkan dengan mencium kening wanita itu lalu bergantian berpamitan pada bu Harti dengan mengambil tangan kanan dan menciumnya takdzim.


"Kita berangkat sekarang!" ajak Salman menatap harap pada Adinda.


Adinda masih bergeming, ia menatap sang ibu meminta persetujuan.


Bu Harti tersenyum tipis membalas tatapan sang putri.


Salman masih setia berdiri menunggu jawaban dari Adinda. Akhirnya dengan sedikit anggukan Adinda menerima ajakan Salman. Keduanya lalu berjalan beriringan. Salman lebih dulu menghampiri mobil dimana Gisela telah duduk di belakang Ryan— ia ingin mengajak Gisela untuk ikut bersamanya, namun Gisela menolak dengan mimik masih kesal pada Adinda.


Di sela langkahnya, kedua wanita paruh baya menatap punggung putra-putri mereka dengan pemikirannya masing-masing.


"Mereka keliatan serasi ya jeng." ujar Shalimar yang membuat Harti menoleh pada wanita itu.


"Bagaimana menurut jeng?" tanya Shalimar menambahkan sambil menatap lawan bicaranya.


"Bagaimana apanya ya mba?" Harti justru balas bertanya seolah tidak mengetahui apapun.


"Ya... Kelanjutan kedekatan mereka. Salman pria dewasa yang sudah siap membina rumah tangga—"


"Adinda baru memulai kuliahnya." sela Harti dengan rasa tak nyaman dengan arah pembicaraan Shalimar.

__ADS_1


Sebenarnya di mata Harti, Salman adalah sosok pria tanpa cacat, dia sopan juga santun terhadap orang tua, dia juga terlihat penuh kasih sayang, ia melihat ketulusan dari setiap sikapnya dalam menyayangi Gisela dan juga Gerald. Namun, ada sedikit rasa dari sisa masa lalu nya terhadap putri sulungnya — Amanda, hingga ia ragu dan tak tahu bagaimana harus bersikap terhadap pria itu.


Shalimar sedikit tercengang dengan sela an Harti, selama ini ia berpikir bahwa Harti juga memiliki keinginan yang sama dengannya, untuk menyatukan Salman dan Adinda.


Harti melihat keterkejutan di mata Shalimar, ia juga merasa tak enak hati telah begitu tidak sopan menyela ucapan Shalimar.


"Maaf mba. Saya tidak mau memaksa kan kehendak putri - putri saya dalam menentukan pasangan. Jika putri saya memang merasa nyaman bersama putra mba. Saya sebagai orang tua pasti ingin kebahagian yang seutuhnya bagi putri-putri nya. Mba mengerti kan maksud saya?"


"Iya, saya paham. Saya melihat Salman seperti menaruh hati untuk Adinda, dan saya berharap semoga mereka bisa berjodoh."


Dengan senyum mengembang Shalimar melangkah sambil merangkul lengan Harti.


Harti memandang tangan Shalimar di lengannya lalu beralih menatap wanita yang tampak cantik dengan riasan tebal di wajah. Ada rasa syukur yang teramat ia panjatkan bisa berada di tengah keluarga konglomerat yang begitu di penuhi kehangatan. Tidak ada yang perlu ia ragukan sebenarnya, putri-putrinya bahkan telah di terima dengan baik di tengah keluarga itu meski kehidupan nya sebelumnya jauh dari kata mapan.


Biarlah kini takdir yang berbicara. Jika Salman memang ditakdirkan menjadi menantu nya, meski bukan untuk putri sulungnya, mungkin untuk putri bungsu nya. Toh, apa yang terjadi di masa lalu tak mungkin bisa di hapuskan.


Ia juga tidak memahami apa yang terjadi di masa lalu Salman dan Amanda yang sesungguhnya. Akan tetapi, ia dapat melihat dan merasakan betul Gio yang begitu mencintai Amanda, dan bagaimana Salman berada di tengah keduanya tanpa ada sikap saling membenci dan memusuhi, justru mereka sama-sama saling membagi kasih sayang untuk Gerald dan juga Gisela.


Teriakan Gisela dari dalam mobil yang sudah lelah menunggu, membuat kedua wanita paruh baya itu semakin mempercepat langkahnya. Kedua bergantian masuk ke dalam mobil setelah Salman membukakan pintu. Tanpa menunggu lagi Ryan mulai menyalakan mesin dan melaju meninggalkan area landasan pribadi keluarga Kaana.


Adinda menjawab dengan anggukan dan dengan patuh mengikuti langkah Salman. Tak lupa ia berucap terima kasih saat Salman membukakan pintu untuknya.


"Oh iya kak, jadi kapan aku harus mulai bekerja?" tanya Adinda dengan sedikit terbata setelah Salman masuk dan duduk di kursi kemudi.


Salman menolehkan wajahnya setelah ia selesai memasang pengaman di pinggangnya.


"Tidak usah terburu-buru. Selonggarnya jadwal kuliahmu saja. Jika besok jadwal mu tidak padat, kau bisa datang besok. Terserah kau saja,"


Adinda mengangguk-angguk mendengar penuturan Salman. Ia sebenarnya sudah tidak sabar ingin sekali merasakan bagaimana bekerja yang sesungguhnya.


"Baiklah, aku akan mulai datang besok pagi." ucapnya dengan mantap.

__ADS_1


Salman tak memudarkan senyumnya sedikitpun menatap gadis cantik di sampingnya, gadis ceria penuh semangat yang telah mampu menyembuhkan lukanya dari cinta pertama yang tak bisa ia miliki. Namun, ia tak ingin memiliki keinginan lebih pada gadis itu, karena ia merasa ia bukan pria yang pantas untuk gadis itu mengingat kembali masa lalu karena jerat cinta rumit.


Adinda mencoba berdehem pelan untuk mengusir kegugupan yang tiba-tiba melanda menyadari Salman yang terus menatapnya. Ia mencoba memberanikan diri untuk membuka suara.


"Apa kita masih akan lama di sini kak?" tanyanya.


Salman tersentak menyadari kesalahannya dengan terus memandang Adinda, gadis itu pasti merasa tak nyaman dengan sikapnya.


"Eh iya, maaf." jawabnya dengan meluruskan duduk dan menatap ke depan.


Dahi Adinda berkerut, karena Salman yang tak kunjung menjalankan mobil. Ia ikut menoleh saat Salman juga menoleh padanya hingga kedua pasang bola mata itu saling bertemu.


"Mobilnya tidak mau jalan sebelum kau memasang seatbelt mu." ucap Salman yang membuat Adinda memutus pandangan mata mereka.


Ia merutuki kebodohannya yang sampai lupa memasang pengaman karena terlalu grogi di pandang pria di sebelahnya.


"Kenapa susah sekali" gumamnya sambil berusaha memasang seatbelt yang tiba-tiba menjadi sulit di pasang.


"Sini aku bantu,"


Tanpa menunggu persetujuan dari Adinda, Salman telah menarik seatbelt dari bahu Adinda dan membuat wajah keduanya berada dalam jarak yang begitu dekat.


Jantung bisa ga kamu berdetak normal kaya biasanya, aku jadi susah nafas gini tau ga?


Klik


Bunyi seatbelt yang telah terpasang memutus pandangan keduanya.


Adinda segera menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan setelah Salman mulai menjauhkan wajahnya.


Salman kembali menegakkan punggungnya dan meluruskan duduk menghadap ke depan dan mulai menyalakan mesin mobil meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


***


Happy reading ❤️


__ADS_2