
Di Universitas
Seorang gadis terlihat duduk sendiri di sebuah kantin sambil memainkan ponsel di genggamnya. Hingga teman dari gadis itu mengambil ponsel itu paksa.
"Ciye... So sweat banget sih peluk-pelukan di tangga. Ini cowo lu, Nda?"
"Cowo' apa'an sih, itu kakak ipar ku. Lagian itu tuh ga sengaja." Adinda bangkit dari duduknya dan mencoba mengambil lagi ponselnya.
"Kakak ipar! Lu suka sama kakak ipar sendiri! Kaya ga da cowo lain aja di dunia." ejek Bianca lalu duduk berhadapan dengan Adinda.
"Siapa yang suka sih," elak Adinda.
"Kalo ga suka ngapain di liatin terus?" Ledek Bianca sambil menaikan satu alisnya.
"Tadi cuma lagi liatin foto buat di posting, ternyata ada foto itu. Ini pasti Gisela yang ngambil tadi pagi. Rese emang deh tuh nona kecil," jawab Adinda dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kalo ga suka, kenapa di simpen fotonya, ga di hapus aja? "
"Ya ntar aja sih," Jawab Adinda setelah menyeruput jus jeruk nya dan menurunkan pandangannya menghindari tatapan Bianca.
Bianca terus menatap teman barunya dengan menelan saliva nya, tenggorokan nya seolah terisi dengan jus jeruk yang baru di telan Adinda. Setelah otaknya di peras dengan mata kuliah, di tambah cuaca yang begitu terik, jus jeruk di tangan Adinda begitu menggodanya. Tetapi, saat dia akan mengambil gelas itu tangannya di tepis Adinda.
"Beli sendiri, enak aja. Aku juga haus!" tandas Adinda sambil menarik gelasnya dan menjauhkan dari tangan Bianca.
"Pelit banget sih," kesalnya, dan langsung bangkit untuk memesan minumannya sendiri, ia meletakan kasar tasnya di samping tangan Adinda sebelum mengayun langkah.
Adinda menjulurkan lidah dan memamerkan kesegaran jus jeruk yang kembali di sedotnya. Dengan menghentakkan kaki keras Bianca menjauh dari meja itu dan segera menuju salah satu kedai untuk memesan minum.
Adinda tak bisa menahan tawanya melihat teman barunya itu, ia bersyukur karena di kampus barunya itu ia bisa segera punya teman akrab, hingga ia tak begitu merasa kesepian karena Calista sahabatnya masih belum bisa pindah ke kota J sebelum pekerjaan suaminya rampung di sana.
Saat ia akan kembali meletakkan gelasnya di meja, suara ponsel Bianca dari dalam tas berbunyi nyaring.
"Bi, hp nya bunyi," teriaknya sambil menatap Bianca yang masih berdiri di depan kedai menunggu minumannya.
"Angkat aja Nda, paling juga si Baby," balas Bianca dengan teriakan juga.
__ADS_1
Karena sudah mendapat izin Adinda membuka tas Bianca dan mengambil smartphone yang masih berdering itu.
"Pria Idaman" Adinda membaca nama yang tertera di layar ponsel itu.
"Pac—" baru ia akan menoleh dan memberitahukan siapa yang menelepon, ponsel itu sudah di ambil oleh si empunya.
"Cih," decih Adinda dan kembali menyeruput jus jeruk nya.
"Apa!? Kak Harun udah didepan."
"Uhuk," Adinda tersedak minumannya saat Bianca menyebut nama yang begitu menggelitik hatinya. "Ada begitu banyak nama itu di dunia ini 'kan, mana mungkin itu mas Harun yang sama" batinnya.
"Udah selesai kok. Iya aku ikut pulang bareng. Tunggu aku ya kak"
Adinda mendongakkan wajahnya dan melihat Bianca yang sedang mengepak tasnya dan mulai mengalungkan ke lengannya.
"Gue pulang duluan yah, kapan lagi coba di jemput pujaan hati," pamit Bianca.
"Tunggu! Aku ikut ke depan. Aku nunggu sopir Gisela di depan ajah" Adinda segera bangkit dan berjalan beriringan dengan Bianca.
"Biasa aja sih jalannya, kaya di kejer hewan buas ajah, cepet banget jalannya." gerutu Adinda yang kesulitan mengejar langkah Bianca yang begitu lebar, karena gadis itu memang memiliki tinggi badan yang menjulang darinya dengan kaki jenjang, benar-benar bentuk tubuh sempurna seorang model.
Sampai di parkiran, kedua mata Adinda membulat seketika melihat pria yang sedang membukakan pintu untuk Bianca.
"Mas Harun! Itu beneran mas Harun! Dia sama Bianca...?" Adinda tak sanggup mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, ia menutup mulutnya dengan menahan sesak di dadanya.
"Nona Adinda, kita pulang sekarang," suara Ryan meleburkan perasaan hatinya yang sedang merasakan patah hati, pria yang selalu di kagumi dan begitu ingin ia temui di kota ini, ternyata telah memiliki wanita lain, meski ia sendiri pun tak tahu apa hubungan temannya dengan pria yang masih mengisi hatinya itu. Ia menyeka sedikit airmata yang menetes di pipinya, lalu mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintu ya oleh Ryan.
Adinda menyadari hanya ia yang duduk di kursi belakang, ia menelisik kursi di samping kemudi yang juga kosong. "Kak Ryan belum jemput Gisela? Kan tadi udah bilangin jemput Gisela dulu ajah, kan jadi muter lagi deh,"
"Nona Gisela sudah di jemput nyonya dan tuan," jawab Ryan sambil menatap lawan bicaranya dari kaca spion.
"Oh" Adinda hanya oh ria sambil menyenderkan punggung pada kursi ya. Tanpa mengira bahwa kakak ipar dan kakaknya telah kembali. Ia justru mengulas senyum saat mengingat bahwa ia akan menyusul sang kakak ke kota S bersama Salman. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk bisa segera sampai Mansion. Ia pun melupakan patah hati yang baru saja ia rasakan. Sepanjang jalan senyum selalu terukir di wajah cantik itu. Ryan yang melihat dari spion hanya mengerutkan kening dalam tanpa berani bersuara dan menanyakan hal pribadi nona nya, kecuali Adinda sendiri yang membuka suara, baru ia akan menanggapinya.
Setelah beberapa menit berpacu di jalan dan di angannya.
__ADS_1
"Kak kok kita ke sini? Langsung pulang ke Mansion aja, aku ga lapar kok, lagian bisa makan nanti di Mansion," ujar Adinda yang melihat mobil yang membawanya justru berbelok dan parkir di sebuah kafe.
"Saya di perintahkan Nyonya untuk mengantar nona ke kafe ini," jawab Ryan kali ini sambil menengok ke belakang, lalu membuka seat belt dan turun untuk membukakan pintu nona nya.
Saat Ryan tengah membuka pintu, tepat saat itu pintu mobil di samping mobilnya terbuka, ia menoleh dan melihat sang ibu keluar dari dalam mobil itu.
"Ibu!" lirihnya. Ia segera keluar dari mobil dan berdiri menatap lekat wajah yang sedang tersenyum sambil menggandeng tangan Gisela. "Itu beneran, Ibu!" girang ya dan langsung berlari menghampiri sang ibu.
"Aaww..." Rintih nya saat telinganya justru di jewer sang ibu.
"Sakit bu! Kenapa di jewer, aku salah apa? Baru ketemu anaknya bukannya di peluk." keluhnya sambil mengusap bekas jeweran sang ibu yang tak begitu sakit tapi karena gerakan sang ibu yang tiba-tiba dan ia merasa tak melakukan kesalahan membuatnya menjadi terasa sedikit sakit.
"Kamu bilang ga mau menikah dan kalian ga punya hubungan apa-apa, terus ini apa?" Bu Harti menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar ke depan Adinda.
Adinda membulatkan kedua matanya lebar melihat gambar di layar ponsel sang ibu. Foto dirinya dengan Salman di tangga tadi pagi, entah apa yang di pikirkan sang ibu melihat gambar itu.
"Ibu memutuskan untuk tinggal di sini dan mengawasi mu. Ibu juga ingin berbicara serius dengan orang tuanya, dan membicarakan kelanjutannya" tegas bu Harti sambil menarik ponselnya kembali dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Ibu dapat foto itu darimana?" Adinda masih terpaku dengan apa yang baru di lihatnya, dan menyadari gadis kecil di samping sang ibu sedang menahan tawa menatapnya.
"Kau mengirim foto itu ke ibu?" tanyanya begitu menyelidik.
"Grand ma di sini sangat panas, aku masuk dulu yah," pamitnya dan mengacuhkan pertanyaan Adinda begitu saja.
"Hei nona menyebalkan tunggu, kau sengaja mengambil gambar itu yah!" Adinda mencoba meraih tangan Gisela untuk menghentikan langkah gadis kecil itu.
"Aku akan mengantar mu!"
"Tidak perlu, kak. Aku bisa pulang sendiri"
"Tidak bisa begitu, kau datang bersamaku, jadi tanggung jawabku juga harus mengantarmu"
Perbincangan dua orang di tengah lapangan parkir mengalihkan pandangan Adinda dan Gisela.
"Uncle...!" lirih Gisela.
__ADS_1
"Kak Salman? Apa wanita itu kekasihnya, apa mereka sedang bertengkar," gumam Adinda. Tanpa ia sadari airmata luruh begitu saja melewati kedua pipinya menyaksikan kedua insan itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran parkir tanpa menyapanya atau melihat ke arahnya.
***