
Suasana canggung menyelimuti ruangan rawat Gisela setelah selorohan gadis kecil itu. Baik Salman maupun Adinda keduanya diam tak menanggapi, sedangkan Shalimar begitu terlihat gencar mendekatkan putranya dengan Adinda. Hingga suara ketukan pintu mengurai keheningan yang tercipta.
"Selamat pagi," sapa Jack dan Calista setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Adinda dan Shalimar yang sedang membereskan rantang bekas sarapan menghentikan aktifitas tangan mereka untuk melihat sumber suara.
Bagaikan menemukan cahaya terang, Adinda begitu berbinar melihat sahabatnya yang datang di saat yang tepat, ia menjadi punya ide untuk bisa menghindari Shalimar tanpa merasa sungkan dan membuat wanita itu tersinggung, karena jujur ia sedikit tak nyaman dengan situasi ini , mengingat ia pernah melihat Salman bersama seorang gadis. Ia tidak ingin terjadi salah paham lagi dan berharap lebih sebab ia pun tak yakin dengan perasaannya, akan tetapi tidak ia pungkiri bahwa ada perasaan nyaman telah mengenal sosok Salman.
Salman segera bangkit dari duduknya saat melihat asisten pribadi yang sudah sejak tadi di tunggunya telah datang. "Kau sudah datang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu! Ucapnya sambil mengayun langkah menghampiri Jack.
"Baik" jawab Jack dengan pasti. Dengan menunduk hormat tanda pengunduran diri pada Shalimar ia segera mengikuti langkah Salman, tanpa sedikitpun melirik pada gadis yang berdiri di sampingnya yang terus diam mematung menatap kepergiannya.
"Mom, aku pamit yah. Aku ingin menjenguk kakak temanku yang juga di rawat di rumah sakit ini." Atensi pasang mata yang tadinya mengarah pada pintu ruangan yang telah tertutup, kini beralih pada Adinda yang sudah siap dengan rantang kosong di tangan.
"Sendiri? Nanti saja tunggu Salman kembali, kau bisa menjenguknya di temani Salman."
"Tidak sendiri mom, sama Calista. Dia kan juga akan kuliah di kampus yang sama dengan ku, jadi aku ingin memperkenalkan temanku juga padanya."
"Temanmu itu perempuan atau laki-laki?" Adinda yang akan mengangkat tubuhnya untuk berdiri sedikit menahannya mendengar pertanyaan Shalimar yang terkesan posesif .
"Perempuan mom." jawabnya sambil menegakkan tubuhnya, lalu berjalan ke samping Shalimar dan berpamitan dengan mengambil tangan Shalimar lalu mengecup punggung tangan itu.
"Ya sudah biar mommy yang menjaga Gisela," Adinda mengalihkan pandangan pada gadis kecil yang sedang duduk santai di atas ranjang lalu menghampirinya.
"Kau 'kan tidak sakit, kenapa betah sekali di sini?" Ujar Adinda setelah menempelkan telapak tangannya di kening Gisela.
"Aku akan tetap di sini selama mommy dan daddy juga masih di sini!" tegas Gisela dengan merebahkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.
Tak ingin menanggapi gadis kecil menyebalkan versinya, ia memilih beralih menghampiri Calista yang masih berdiri di tengah ruangan.
__ADS_1
Setelah Calista berpamitan dengan menundukkan sedikit kepala hormat pada Shalimar kedua gadis itu keluar dari ruangan Gisela.
"Kau kenapa? Ada masalah? Cerita padaku ada apa?" Adinda yang melihat wajah sahabatnya murung dan membisu merasa heran, tidak biasanya Calista pendiam seperti itu.
"Tidak pa-pa. Hanya sedikit mengantuk, aku 'kan datang dengan penerbangan awal." jawab Calista sambil menggigit bibir bawahnya. Ada perasaan sakit yang ia tahan.
"Ya sudah, aku antar kau ke apartemen suamimu," tawar Adinda
"Bukannya tadi kamu bilang mau jenguk kakak temenmu?"
"Iya sih, tapi tadi sebenarnya cuma cari alasan aja biar bisa keluar,"
"Jadi kamu bohong!?"
"Engga. Emang kakak Bianca di rawat di rumah sakit ini," Sanggah Adinda segera.
"Ya udah klo beneran kita jenguk aja."
"Itu kaya mas Harun yah, apa bukan sih?" Adinda yang hendak kesal beralih mengikuti arah pandangan Calista.
Dan benar, pria yang di lihat Calista adalah pria yang ingin di hindari Adinda. Adinda sebenarnya sudah sempat ingin menjenguk kakak Bianca tapi, ia urungkan karena melihat Bianca dan Harun yang saat itu sedang saling berpelukan di depan kamar rawat kakak Bianca. Ia tak ingin persahabatan yang baru saja terjalin harus tercerai jika Bianca mengetahui bahwa ia juga mencintai pria itu bahkan sejak lama. Jadi, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan perasaannya dan memilih mengalah, ia juga belum siap jika harus bertemu dengan Harun.
"Iya itu beneran mas Harun!" Calista segera mengangkat tangan kanannya dan membuka mulut untuk memanggil pria itu. "Mas Harun...!"
"Jangan di panggil!" cegah Adinda namun terlambat Calista sudah lebih dulu berteriak.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Harun yang hendak masuk kedalam lift mengurungkan langkahnya dan berbalik mencari sumber suara.
Melihat Harun yang telah menatap ke arahnya, Adinda sedikit membuang pandangannya dan menundukkan wajahnya menghindari tatapan pria tampan yang membuatnya selalu terbuai hanya dengan melihat senyum di wajah itu.
__ADS_1
"Kamu kok malah kaya sembunyi gini sih? Pujaan hatimu tuh lagi jalan kemari, di sambut dong pake senyum menawan, malah nunduk gitu," Calista mengangkat kepala Adinda dan mengarahkan wajah cantik itu menghadap ke depan.
"Adinda... Calista... Kalian ada di Jakarta? Sejak kapan? Terus lagi ngapain di sini? Kalian sakit?" cerca Harun setelah berdiri di hadapan kedua gadis itu.
"Banyak banget pertanyaannya mas Harun," keluh Calista
Pria itu hanya menampilkan senyumnya.
Senyum yang mampu menghipnotis Adinda, hingga gadis itu terus menatap Harun sebelum akhirnya menyadari dan membuang pandangannya perlahan.
"Adinda udah hampir sebulan di sini dan tinggal sama mba Anda, klo aku baru datang tadi pagi, kita mau jenguk..." ucapan Calista terhenti dengan kedatangan seorang gadis yang berteriak sambil berlari dan langsung menubrukkan tubuhnya ke pelukan Harun.
"Kak Harun huu huu huu" Tangis Bianca dalam dekapan Harun.
Harun melepas pelukan itu dengan wajah khawatir ia memegang bahu Bianca. "Ada apa?"
"Kak Bela huu huu huu" Tangis Bianca semakin tak terbendung.
"Kakak mu? Ada apa dengannya?" Pertanyaan Adinda mengurai pelukan itu. Dengan mata basah dan air mata yang membanjiri wajahnya, Bianca beralih menatap Adinda
"Kakak ku... Dia..."
Tak sabar menunggu jawaban Bianca yang justru membuatnya semakin panik, Harun segera mengayun langkah lebar untuk menemukan jawabannya sendiri.
Adinda yang juga sedang merasakan sedih karena keadaan kakaknya ikut merasakan pula kesedihan yang Bianca rasakan. Ia meraih tubuh Bianca dan memeluk tubuh sahabatnya itu untuk memberi kekuatan bahwa dia tidak sendirian, masih ada teman yang menemani nya.
Setelah merasa tenang Bianca melepas pelukan itu dan menghapus sisa airmata yang masih mengalir, lalu menarik tangan Adinda untuk mengikuti langkahnya ke kamar rawat Bella.
Kedua kaki Adinda tak mampu di gerakan seolah memaku didepan pintu rawat itu, saat ia melihat Salman yang sedang memeluk erat tubuh seorang pasien wanita yang menangis histeris di atas ranjang yang telah awut-awut an. Buah-buah an serta bunga berceceran teraniaya di lantai ruangan.
__ADS_1
Entah mengapa ia merasa hatinya sedikit berdenyit nyeri menyaksikan pemandangan itu. Rasa sakit itu bahkan terasa lebih ngilu saat ia tak sengaja melihat Harun dan Bianca berpelukan pada saat itu.
Ada apa denganku? Kenapa aku jadi melankolis begini jika menyangkut kak Salman. Wanita itu lagi, siapa wanita itu? Apa dia wanita yang begitu berarti untuknya?