
Tuan Kaana tersenyum dengan tangan yang terulur dan mengusap kepala Adinda.
Adinda menatap tangan kekar yang tak termakan usia yang membelai kepalanya, berbeda sekali dengan tangan almarhum sang ayah yang di penuhi keriput, mungkin karena sang ayah bekerja keras di tengah terik matahari serta guyuran hujan sehingga tubuhnya merapuh. Namun, kehangatan yang di rasakan begitu sama, sosok ayah yang selalu ia rindukan seolah menjelma di hadapannya kembali. Hingga suara Gio membuat tersadar.
"Dad, ayo kita berangkat sekarang! Cuaca di tengah lapangan ini sangat panas, kasian Gerald." Ucapnya sambil mengelus lengan Gerald.
Tuan Kaana menurunkan tangannya dari kepala Adinda. Ia tahu Salman menyukai gadis itu dan berharap Salman segera menemukan kebahagiannya. Ia memundurkan langkahnya dan berdiri di belakang kursi roda Gio dan siap mendorong kursi roda sang putra.
Salman yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan mata dari putranya perlahan melangkahkan kaki dan berdiri di hadapan Amanda.
"Boleh aku yang menggendongnya sampe naik ke heli?" tanyanya dengan menatap wajah teduh Gerald. Rindu, ia begitu merindukan putranya dan yang selalu bisa di lakukannya hanya terus memandang gambar bayi tampan itu dari balik layar ponselnya tanpa bisa leluasa memeluk tubuh mungil itu.
Amanda mengangguk pasti dan menyerahkan putranya pada Salman.
Dengan senyum mengembang dan cairan bening yang tertahan Salman mengambil alih bayi tampan dari gendongan Amanda.
Tubuh bayi mungil itu menggeliat dengan mata yang berkedip. Sinar matahari yang menerpa wajahnya membuat tidur lelapnya terganggu.
__ADS_1
Salman tersenyum melihat tingkah bayi mungil itu, ia memajukan kepalanya untuk menghalau sinar matahari, menggantikan payung hitam yang sebelumnya menjadi meneduh bagi bayi mungil tersebut.
Setelah melakukan salam perpisahan dengan saling memeluk dan mendoakan keselamatan dan kesehatan masing-masing, kini tuan Kaana, Gio, Amanda telah duduk di kursi penumpang helikopter yang telah siap mengudara.
"Jangan rewel dan membuat susah mommy dan daddy mu, okeh jagoan!" ucap Salman sebelum menyerahkan Gerald pada Amanda.
"Gerald anak pintar, dia tidak menyusahkan kami, iya kan anak pintar," Gio menyahut ucapan Salman dengan mengelus kepala Gerald yang telah berada dalam gendongan Amanda, lalu beralih menatap pria itu.
"Jalani pengobatan mu dengan benar dan segera lah kembali!" pinta Salman dengan membalas tatapan Gio.
Salman hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Gio. Ia selangkah memundurkan langkah untuk meraih gagang pintu heli hendak menutupnya namun, urung dengan suara panggilan Amanda.
"Kak.."
Amanda masih terdiam dengan pandangan ke belakang punggung Salman.
Salman mengikuti arah pandangan Amanda yang tertuju pada bu Harti, Adinda dan Gisela. Ia seolah mengerti apa yang ingin di katakan Amanda tersenyum dan kembali menatap gadis yang pernah mengisi kekosongan hatinya.
__ADS_1
"Aku akan menjaga mereka. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Jaga dirimu baik-baik, dia membutuhkan mu!" ujar Salman dengan menatap Gerald yang begitu lelap dalam mimpi.
Setelah Salman menutup rapat pintu heli, baling-baling di atas helikopter Kaana itu mulai berputar dengan kencang dan perlahan terangkat ke udara.
Lambaian tangan di tepi landasan mengiringi badan heli yang perlahan semakin menjauh dari daratan.
"Bye.. Mom.. Dad.. Adik bayi.." ucap sendu Gisela saat heli yang membawa keluarganya mulai terbang dan hilang dari pandangan.
Shalimar menyerongkan kakinya dan sedikit membungkukkan badan untuk menangkup kedua pipi Gisela. "Jangan sedih gitu dong, kan masih ada grand ma, ada uncle, ada aunty juga, yah!" ucapnya.
"Iya, kau tidak sendirian nona kecil," Adinda mencubit gemas hidung serta pipi Gisela bergantian.
Gisela menepis tangan Adinda kasar sambil mencebik dan memelototkan kedua matanya, lalu membalikkan badan dan melangkah meninggalkan area landasan.
***
Happy reading ❤️
__ADS_1