
Di Perusahaan GW group.
"Berhentilah menatapku dengan rasa iba seperti itu ,pah!" pinta Bella tanpa menghentikan aktifitas tangannya di atas keyboard.
Gadis itu menerima tawaran untuk bekerja dan membantu di perusahaan seperti keinginan papahnya, tanpa ia mengetahui maksud sebenarnya yang bertujuan untuk mendekatkan ia dengan Salman yang terlibat kerja sama proyek bersama.
"Kau cantik, pintar, kau juga memiliki talenta dan karir yang bagus di dunia modeling dan begitu kompeten juga di perusahaan, tidak ada yang kurang darimu. Gadis sempurna sepertimu memang harus mendapatkan pria yang sempurna juga."
"Dan papah, akan memastikan itu untukmu!" imbuh Tuan An penuh keyakinan.
Bella menghentikan aktifitas nya dan menarik serta menghembuskan nafasnya pelan. Ia tak berniat menanggapi ucapan sang papa. Ia sedang berusaha untuk menetralkan perasaan yang telah lama bersarang di hatinya untuk satu pria yang bahkan tak bisa membalas perasaannya. Meskipun sulit namun, akan semakin sakit jika ia terus bertahan dengan perasaannya sendirian.
Suara ketukan pintu dan tubuh tegap Harun yang menyembul dari balik benda persegi panjang tersebut mengembalikan kesadarannya , ia kembali pada kesibukannya di layar lipat tanpa ingin mengetahui keperluan pria itu masuk ke ruangan papahnya.
"Bagaimana , dia setuju.?" tanya Tuan An setelah asisten pribadinya itu berdiri di depan meja kerjanya.
"Tuan Salman menerima ajakan acara makan malam Anda, tapi tidak bisa jika akhir pekan ini, karena beliau harus mengikuti acara sekolah keponakannya"
Mendengar nama Salman , Bella menajamkan pendengarannya dan menatap bergantian kedua pria di ruangan itu dengan kerutan tipis di keningnya. Ia yang hendak mengeluarkan suara tertahan dengan suara Harun yang kembali melanjutkan laporannya.
"Minggu depan beliau akan berusaha meluangkan waktunya,"
"Untuk apa papah mengundang kak Salman makan malam?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan putrinya, Tuan An mengalihkan pandangannya, ia menatap sekilas wajah penuh tanya Bella , lalu menyuruh Harun untuk keluar dari ruangannya.
Tuan An beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri meja kerja putrinya. Ia mendaratkan pantatnya tepat di depan meja kerja yang di penuhi dokumen yang bertumpuk dan berjejer memenuhi meja.
"Jika papah melakukan itu untuk mendekatkan kak Salman denganku, papah batalkan saja semuanya. Karena apapun yang papah lakukan tidak akan berhasil , lagipula aku juga sudah berusaha melepaskan perasaanku untuknya dan aku sadar tidak akan pernah bisa mendapat balasan darinya,"
Tuan An membuang nafas pelan , putrinya cukup peka dengan apa yang dia pikirkan.
"Kau sudah cukup berjuang selama ini , biarkan papah berusaha agar perjuanganmu tidak sia-sia,"
"Tapi , Pah-"
"Papah ingin berusaha untuk putri-putri papah! Untuk masa depanmu , masa depan adik-adik mu, Bianca dan juga Baby yang masih memiliki perjalanan masa depan yang begitu panjang," Sela Tuan An dengan menatap sendu putri sulungnya.
"Maksud , papah?" tanyanya yang belum mengerti kemana arah pemikiran sang papa hingga membawa kedua adiknya dalam masalah percintaan nya.
Tuan An meraih jemari lembut putrinya untuk di genggamnya erat. Sorot mata penuh harap ia pancarkan. Hembusan nafas yang jelas terdengar seolah menggambarkan beban berat yang sedang dipikulnya.
Untuk pertama kalinya dua bola mata hitam Bella meneliti ke dalam sorot mata itu , sorot mata seorang ayah yang telah lama tak pernah ia jumpai setelah kepergian sang ibu saat adik bungsunya hadir ke dunia.
Di tinggalkan dua sosok wanita pujaan membuat kehidupan seorang Ananda Gunawan berubah , jiwa cassanova yang menjelma saat masih melajang kembali menyapa. Ia hanya butuh pelampiasan hasrat tanpa ingin terikat. Ia melakukannya sebagai bentuk pelampiasan kehilangan yang mendalam.
"Selama ini papah belum bisa menjadi ayah , apalagi pengganti ibu yang baik untukmu dan juga adik-adik mu!"
__ADS_1
Tuan An menjeda ucapannya dengan mengambil nafas dalam.
"Hanya perusahaan ini yang bisa papah banggakan untuk masa depan kalian, kakek mu telah berjuang keras demi perusahaan ini!"
Ia mengitari pandangannya ke seluruh ruangan , tanpa melepas genggaman tangannya dari sang putri.
Bella mengikuti arah pandangan sang ayah lalu kembali fokus menatap wajah tampan yang tak lekang oleh usia saat dua netra sang ayah menatapnya.
"Dan itupun telah gagal papah pertahankan." Ia melepas genggaman tangannya dan menumpukan kedua tangannya di atas meja untuk menopang tubuhnya yang hendak beranjak dari duduknya dan berdiri membelakangi meja kerja sang putri.
Menjadi putra tunggal pengusaha sukses bukan membuatnya memiliki rasa tanggungjawab sebagai penerus perusahaan namun, ia justru menjadikan kekuasaan orangtuanya untukbersenang-senang dan menghamburkan uang bersama para wanita. Hingga ia harus menjalani pernikahan dengan ibu dari putri-putrinya yang di awali tanpa cinta. Dengan seiring berjalannya waktu ia belajar bertanggungjawab menjadi seorang kepala keluarga juga pemimpin perusahaan menggantikan ayahnya yang kala itu telah tiada. Nyatanya memimpin perusahaan besar bukanlah hal mudah baginya , ia melewati jalan panjang yang berliku beruntung saat itu ia memiliki pendamping yang selalu menjadi pendukung dan penyemangatnya. Namun , ia perlahan menyerah saat tak ada lagi tombak semangatnya.
Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya setelah menjelajah angannya, ia kembali menatap sang putri , putri sulung yang memiliki paras yang sama dengan almarhum sang istri. Ia menggantungkan banyak harapan pada putri cantiknya itu.
"Berkat bantuan Salman , perusahaan ini telah melewati masa krisis nya dan para investor kembali mau menanamkan sahamnya ."
"Jika dia terus menjadi bagian di perusahaan ini , bukan tidak mungkin perusahaan kita juga bisa seperti perusahaan Kaana dan bisa berkembang dengan baik"
Bella mendorong pelan kursi rodanya menghampiri sang papa , ia mendongak untuk dapat menjangkau kedua netra hitam pekat pria paruh baya itu.
"Apa yang sebenarnya papah inginkan dan rencana kan?"
Tuan An berjongkok dan memegang erat kedua tangan putrinya. Ia hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
__ADS_1