Mommy Dara

Mommy Dara
PART 24


__ADS_3

Di dalam mobil yang sedang melaju dalam temaramnya hembusan angin malam mengiringi perjalanan yang hanya di dominasi suara wanita di dalam mobil itu.


Bella - gadis itu seolah sedang di selimuti kebahagian. Ia tidak menyangka jika pengorbanan nya dengan menabrakkan diri akan membuatnya menjadi lebih dekat dengan pria pujaan nya, patah tulang di kedua kaki nya tak terasa lagi dan justru ia merasa bersyukur dengan keadaannya saat ini, biarlah ia terlihat memanfaatkan kondisinya asal itu bisa membuat Salman selalu berada di dekatnya dan begitu menjaganya, meski ia tahu Salman melakukan semua itu bukan karena pria itu mulai menaruh hati padanya melainkan rasa bersalah serta terima kasih, tapi bagi Bella apapun alasan Salman ia tetap akan bahagia selama pria itu di sampingnya.


Terbukti, Salman sekarang begitu memperhatikannya , tidak sehari pun pria itu melewatkan menanyakan kondisinya ia juga tidak segan datang jika Bella mengeluh kan rasa sakit di kaki nya atau saat gadis itu merajuk dan enggan meminum obat.


Kesempatan itu pula di gunakan Bella malam ini untuk bisa keluar bersama Salman. Ia berucap bosan dan ingin menghirup udara segar dan Salman mengajak wanita itu makan di luar.


Dengan senyum yang selalu tertancap di wajah cantiknya ia melihat ke luar mobil, banyak pasangan muda yang terduduk santai di atas kendaraan di sepanjang trotoar jalan, mereka seolah tengah menikmati cuaca malam minggu yang begitu terang dengan berhiaskan sinar rembulan. Ia mengalihkan kembali pandangannya pada sang pengemudi yang terlihat begitu fokus pada jalanan di depannya. Sejak keduanya masuk ke dalam mobil tak sedikitpun Salman melihat ke arahnya.


'Maafkan aku, biarkan aku menikmati kebersamaan ini walau hanya sebentar saja.' batinnya dengan menahan ngilu di hati.


"Jika kak Salman merasa lelah kita batalkan saja makan malam nya," ucap Bella dengan menampilkan wajah sendu nya dan sukses membuat Salman beralih menatapnya.


"Lumayan banyak pekerjaan di kantor hari ini, aku juga belum sempat makan malam kenapa harus di batalkan," Salman kembali menatap lurus ke depan setelah mengucapkan kata itu.


"Ada restoran yang kau ingin rekomendasikan?" tanyanya dengan sedikit lirikan sekilas.


Bella menggelengkan kepala pelan.


"Ada restoran seafood di dekat sini, kau keberatan jika kita makan di sana?"


"Di manapun asal kau tidak merasa malu karena mengajak wanita cacat menemanimu makan." Bella sedikit menundukkan pandangannya mencari empati pria di sampingnya.


"Kau pasti sembuh dan bisa berjalan normal lagi," sanggah Salman dengan menatap lekat wajah yang tertunduk itu.


Bella mengangkat pandangannya untuk menatap pria yang telah kembali fokus pada stir kemudi.


"Apa sedikit saja tidak ada lubang di hatimu untuk aku bisa masuk, sedikit saja berikan aku celah itu."

__ADS_1


*


*


"Kau sudah membeli semua buku yang kau perlukan, apa masih ada yang ingin kau beli?" tanya Harun dengan menatap gadis cantik yang duduk di samping kemudinya.


Ia begitu bahagia karena ia berpikir akan susah mendapatkan hati Adinda namun, semua luntur saat gadis itu sendiri yang meminta nya menemani dia keluar dengan berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama sore itu, meski hanya berkeliling mencari buku yang di butuhkan Adinda untuk menunjang tugas kuliah tapi bagi Harun itu adalah awal kesempatannya mendekati gadis itu lagi.


"Tidak ada, mas. Terima kasih sudah mau mengantarku." jawab Adinda dengan membalas tatapan Harun.


Ada sedikit rasa bersalah di hati gadis itu karena telah berbohong dengan alasan membeli buku, karena yang sebenarnya ia hanya ingin melepas pikiran sedihnya akan perasaan yang muncul tiba-tiba pada pria yang salah menurutnya. Dan perasaan yang akan sulit ia gapai mengingat status pria itu yang juga telah memiliki tunangan. Kata yang begitu membuatnya merasa sakit saat mendengarnya.


"Mas senang bisa nganter kamu. Oh iya, kamu dulu penasaran pengen banget makan masakan laut, apa sekarang masih? Atau udah coba makan makanan lautnya?"


Adinda terlihat antusias mendengar masakan laut, masakan yang selalu ingin ia coba cita rasa kenikmatan makanan itu yang hingga hari ini belum juga ia cicipi, mengingat kondisi keuangan keluarganya dulu yang tidak memungkinkan ia menikmati makanan laut yang menurutnya sulit di gapai kantong kecilnya.


Dengan berat hati Adinda menggelengkan kepala pelan. Dan itu membuat Harun berkerut dahi.


"Kalau begitu kita cari restoran seafood di dekat sini, kau juga belum makan malam 'kan?" Bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah ajakan.


Adinda sedikit ragu untuk menerima atau menolak ajakan itu, ia memikirkan sang ibu di Mansion yang pasti sudah menyiapkan makan malam untuknya.


Harun yang menangkap wajah bimbang Adinda kembali membuka suara seolah mengerti kebimbangan gadis itu.


"Mas tadi sudah meminta izin pada ibu untuk mengajakmu sekalian makan malam, beliau bilang ia juga sudah membuat janji makan bersama dengan keluarga bu Ida. Mas tidak tahu siapa itu bu Ida, mungkin kau mengenalnya?."


"Ya, beliau ibu mertua kak Bimo." jawab Adinda.


"Jadi bagaimana, mau coba makan makanan laut bareng, mas?"

__ADS_1


Akhirnya tanpa ragu Adinda mengangguk. Harun tersenyum semringah menatap wajah berseri Adinda.


"Ngebayangin lobster gede di atas piring jadi makin penasaran deh gimana rasanya, seenak apa sih sampe banyak orang yang suka makanan itu." ucap Adinda sambil membayangkan hewan laut itu terhidang di hadapannya.


"Kalo penasaran nanti kamu pilih aja lobster yang paling gede, supaya lebih tau gimana rasanya."


"Jangan yang gede banget juga, belum tentu juga aku suka, sayang uangnya harganya pasti mahal." seloroh Adinda. Dan Harun sedikit terkekeh mendengar kekhawatiran gadis itu.


"Memang sedikit mahal, tapi ga pa pa mas bisa jaminan mobil ini kalo uangnya ga cukup." canda Harun, dan sukses membuat gadis di sampingnya membulatkan mata sempurna sambil menatap lekat dirinya.


"Harus sampe jaminin mobil, apa semahal itu? Terus nanti kita pulangnya gimana?"


Senyum di wajah Harun semakin terlihat melebar.


"Jalan kaki! Mas kuat kok gendong kamu sampe ke Mansion."


Adinda memukul pelan lengan pria di balik stir kemudi sambil mengerucutkan kedua bibirnya, dia menyadari pria itu sedang mengerjainya.


Harun menangkap tangan mungil Adinda dengan satu tangannya, lalu menggenggam erat tangan itu.


"Maaf yah, kalo selama ini mas telah mengabaikan perasaanmu. Selanjutnya, mas janji akan selalu menjaga perasaan mas cuma buat kamu. Mas mencintaimu, dek" ucap Harun dengan terdengar begitu serius dan terasa tulus.


Adinda bergeming, ia dulu begitu mendambakan ungkapan itu namun saat ini, hatinya justru gelisah mendengar ucapan Harun. Mungkinkah karena hatinya bukan lagi milik pria itu? Atau hatinya telah membeku untuk pria itu karena lelahnya ia berharap sekian lama.


Tanpa menanggapi ucapan Harun, Adinda menarik pelan tangannya dari genggaman pria itu, lalu memalingkan wajah ke jendela mobil dengan perasaan yang entah seperti apa.


****


Maaf yah, Up nya telat banget. πŸ™πŸ™ Piknik akhir dan awal tahunnya ke bablasan. πŸ’•πŸ’• Semoga tahun ini bisa lebih baik dari tahun kemaren, sehat selalu untuk kita semua. Semoga covid nya juga segera pergi menjauh yah dan dunia kita aman kembali tanpa ada ancaman wabah lagi. πŸ€²πŸ™πŸ˜‡

__ADS_1


Happy reading ❀️❀️


__ADS_2