Mommy Dara

Mommy Dara
PART 13


__ADS_3

Shalimar yang baru keluar dari ruangannya, melihat Salman yang sedang bersenda gurau bersama Gerald dan juga Amanda. Mereka terlihat sesekali tertawa dan saling pandang saat Salman tengah menggoda Gerald dengan menyembunyikan Amanda di balik punggungnya, setelah putranya itu hampir menangis yang seolah takut kehilangan Amanda, barulah Amanda muncul dan bercilukba membuat bayi mungil itu menampilkan senyum manisnya begitu juga kedua orang tuanya. Lengkungan sempurna nampak di wajahnya dan saat ia akan mengayun langkah, ia mengurungkan niatnya mendengar pengunjung kafenya yang juga melihat kebersamaan itu mengeluarkan suara.


"Eh liat deh mereka. Bahagia banget yah,"


"Iya, serasi banget. Bapaknya ganteng, ibunya cantik, anaknya gemesin banget,"


"Jadi pengen cepet nikah, punya keluarga bahagia juga kaya mereka."


Hati shalimar seakan mencolos dari tempatnya. Seandainya kebahagian keluarga kecil itu benar milik putranya, ia pasti akan menjadi ibu yang paling bahagia, tetapi kenyataannya putranya bahkan belum menemukan pendamping. Jika bukan karena sakit nya dulu, mungkin cinta rumit ini tak akan terjadi dan rahasia besar yang ia sembunyikan tak akan ia ungkapkan pada Salman.


'Seharusnya aku tidak perlu mengatakan kebenarannya padamu, bahkan hingga aku tertutup liang lahat sekalipun. Maafkan mommy, kau harus mengalami sakit hati yang pernah mommy alami.'


Lambaian tangan Salman yang mengarah padanya, mengurai segala pemikiran sesak yang ada di hatinya, ia mengayun langkah setelah menarik nafas dalam dan menyeka sedikit airmata nya untuk menghampiri Salman dan Amanda yang juga sedang mengayun langkah menghampirinya.


"Mom, sepertinya Gerald mulai haus. Tolong temani Amanda ke ruangan mommy untuk memberikan ASI, aku ingin ke ruangan atas." pinta Salman saat ia sudah saling berdiri berhadapan.


Shalimar mengangguk sebagai jawaban.


"Ayo ke ruangan mommy!" ajak Shalimar sambil merangkul bahu Amanda.


"Ini kan udah waktunya makan siang Grand ma, aku lapar, iyah..." Suara Shalimar di buat layaknya anak kecil, dengan gemas ia mengambil cucu tampannya dari gendongan Amanda, meski Gerald menolak tapi dengan sedikit rayuan paksa akhirnya bayi mungil itu menurut dalam dekapan Shalimar. Kesedihannya selalu bisa terbayar dengan melihat darah daging putranya yang tumbuh dan berkembang dengan baik.


***


Sementara di ruangan atas.


Gio terus menatap tajam gadis yang duduk di hadapannya. Sebelum dia memasuki ruangan ia mencari tahu tentang kerja sama yang diucapkan Salman. Dan ia begitu terkejut setelah mengetahui jika ada rencana lain di balik kerja sama itu. Perjodohan sang kakak! Dan ia sangat tidak setuju dengan gadis pilihan Daddy nya itu.


"Kenapa Anda terus menatapku seperti itu." Bella membuka suara, karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun namun, tatapan Gio begitu mengintimidasi ya hingga membuat ia merasa ngeri dengan tatapan itu.


"Apa sebenarnya tujuanmu mendekati kakakku?" Gio memundurkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di kursi dengan kedua tangan yang di lipat di dada. Gadis di hadapannya itu pernah menjadi bagian kelam masa lalunya, sahabat gadis itu telah menorehkan luka untuknya dan juga putrinya. Ia tidak mau kakaknya mengalami luka yang pernah ia alami karena salah dalam memilih wanita.


"Tujuanku? Apa maksud Anda?" tanya Bella dengan kening berkerut.


Gio mencibik dan menaikkan satu sudut bibirnya.

__ADS_1


"Kerja sama?" ucap Gio begitu meremehkan.


"Apa ada yang bisa di banggakan dari perusahaan GW, hingga Daddy bersedia menerima kerja sama ini? Selain skandal yang selalu menjerat pemilik perusahaan tersebut dengan segudang wanita, tidak ada berita apapun untuk perusahaan itu. Apa menurut mu masuk akal jika perusahaan nomor satu di negeri ini tiba-tiba menjalin kerja sama dengan perusahaan rendahan milikmu."


"Masalah pribadi papah ku tidak pernah berpengaruh terhadap perusahaannya—"


"Oh iya!" Gio melepas tangan yang melingkar di dada dan memajukan tubuhnya hingga menempel pada meja.


"Perusahaan itu sebentar lagi hanya akan tinggal nama. Karena aku sudah berkali-kali melempar kerja sama itu. Tapi lihatlah sekarang! Orang tuamu melempar mu dengan berusaha mendekati kakakku. Kenapa kau tidak langsung mendekati Daddy dan mengambil keuntungan dari ini." lanjutnya dengan begitu teratur namun penuh penekanan di setiap katanya.


Tubuh Bella seketika menegang, ucapan Gio benar-benar membuat dadanya bergemuruh. Dia memang sengaja ingin mendekati Salman, tapi dia bukan wanita murahan yang akan menjual diri hanya demi sebuah keuntungan harta belaka.


"Maaf, sepertinya Anda salah paham." ucap Bella sambil mengontrol emosinya.


"Aku tahu kau menyukai kakakku. Tapi sepertinya kau harus membuang perasaanmu itu, karena aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati kakakku." ucap Gio begitu tegas.


"Ini adalah kontrak kerja sama mu," lanjutnya sambil meraih dokumen di atas meja lalu merobeknya menjadi dua bagian dan menghempaskan kasar ke atas meja.


Bella memandang nanar dokumen yang tergeletak di hadapannya. Baru dia akan meraih berkas itu sebuah kertas kecil berupa cek melayang di hadapannya.


"Ambil itu! Aku rasa itu cukup untuk bisa menyelamatkan perusahaan mu." Bella meraih kertas yang sudah mendarat di dekat dokumen miliknya. Dia melihat kertas itu dan kembali membenarkan posisi duduknya dan mengabaikan robekan dokumen itu.


Darah di tubuh Bella semakin mendidih, genangan di pelupuk matanya kian menumpuk. Amarah serta sakit hati bercampur bersamaan di hatinya. Ia meremas cek dengan nominal fantastis itu.


"Tuan muda, harga yang Anda berikan terlalu sedikit di banding rasa cintaku untuknya. Jika Anda berpikir aku sama seperti Belinda, Anda salah! Aku tidak mengejarnya karena hartanya, tapi karena hatinya. Dia lebih memiliki hati di banding Anda." Dengan genangan yang telah sedikit mencair Bella berucap dan bangkit dari duduknya.


"Kenapa mejanya masih kosong, kau belum memesan makanan?" Salman yang baru masuk ke ruangan itu berucap sambil mengayun langkah mendekati meja yang memang masih terlihat kosong tanpa menyadari hawa panas yang tercipta dari dua penghuni ruangan sebelumnya.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Salman, Bella segera mengambil langkah menjauh dari meja itu.


"Loh, kau mau kemana? Kau menangis? Ada apa ini?" Pertanyaan beruntun di layangkan Salman saat Bella hendak melewatinya dengan suara isak yang begitu terdengar nyaring.


"Biarkan saja dia pergi, kakak tidak perlu menghalangi nya!" ucap Gio dengan menolehkan pandangannya pada gadis yang terlihat menundukkan wajahnya.


Tanpa mengangkat pandangannya Bella menyerongkan langkah melewati Salman yang berdiri menghadangnya.

__ADS_1


Salman mengalihkan pandangan pada Gio dan melihat sekilas dokumen yang teraniaya di atas meja. Dia menajamkan indera penglihatan nya sambil mengambil langkah menuju pada berkas yang telah robek itu.


"Apa yang kau lakukan, Gi?" tanya Salman sambil mengangkat dokumen yang telah robek menjadi dua bagian.


"Ada banyak sekali perusahaan yang lebih kompeten dan ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, kenapa aku harus menerima kerja sama dari perusahaan rendahan itu." jawab Gio dengan begitu santai.


"Dan yang paling penting, aku tidak ingin wanita itu mendekatimu," lanjut Gio sambil bangkit dari duduknya dan menatap lekat wajah Salman.


"Okeh. Keputusan kerja sama itu memang ada di tanganmu. Dan untuk masalah pribadiku, kau tidak berhak mencampurinya!" ucap Salman dan segera merotasikan tubuhnya.


"Aku harap kakak bersikap seperti ini bukan karena kakak mulai menyukai nya." Salman terus melenggangkan kakinya tanpa memperdulikan ucapan Gio dan segera menyusul gadis itu.


"Aku akan mengantar mu!" tawar Salman setelah mampu mengejar Bella.


"Tidak perlu, kak. Aku bisa pulang sendiri" tolak Bella tanpa berani menatap lawan bicaranya.


"Tidak bisa begitu, kau datang bersamaku, jadi tanggung jawabku juga harus mengantarmu. Ayo!" ucap Salman dengan sedikit paksaan namun penuh kelembutan di setiap tuturnya.


Dengan menatap sekilas wajah Salman, Bella menganggukan kepalanya tanda setuju. Keduanya mulai berjalan beriringan menuju dimana mobil Salman terparkir.


Saat dia tengah menyalakan mesin mobil tatapannya bertemu dengan kedua pasang mata Adinda yang sedang menatap dengan tatapan yang entah. Salman memutuskan sambungan tatapan itu dan mulai melajukan mobilnya dan perlahan meninggalkan area parkir itu.


❤️❤️❤️❤️


Maaf yah, ga sempet up berhari-hari 🙏


Beberapa hari yang lalu, ada masalah.


Aku abis dapat komplenan dari yang beli dagangan kuliner ku. Jadi, aku fokus ke jualan dulu untuk memperbaiki kesalahan aku, makanya ga sempet nabung kata.


Up nya akan selalu tidak tentu, bukan karena niat atau tidak niat menulis. Hanya saja kadang waktunya yang belum bisa terbagi dengan baik. Aku ga mau paksain nulis kalo mataku ga kuat. jadi, klo udh cape jualan aku mending tidur, drpd maksa melek untuk bisa up. Bukan karena aku tidak menyayangi kalian pembaca, yang menunggu kelanjutan cerita ini, tapi aku emang orangnya ga bisa nahan ngantuk dan harus di merem in, atau ga malah jd pusing.


Terima kasih untuk kesetiaan kalian yang masih mau baca sampai sini. Meski pelan-pelan untuk judul ini akan sampe akhir. InsyaAllah. 😇


Selalu Bismillah dan Alhamdulilah agar kita tetap selalu ingat bersyukur.

__ADS_1


Happy reading aja pokoknya yah. ❤️


Perjalanan cerita sesungguhnya di mulai di Part 20 an nanti yah. Ada kepergian yang harus di relakan. 😇


__ADS_2