Mommy Dara

Mommy Dara
PART 23


__ADS_3

Drdtd drdt drdt.


Suara deringan ponsel di dalam tas yang berada di sampingnya telah bergetar berkali-kali namun, tak mampu membangunkan gadis yang sedang tertidur itu. Sedangkan si penelepon masih setia berdiri di depan gerbang besi yang menjulang tinggi dan terus berusaha menghubungi gadis itu. Hingga ia melihat mobil yang hendak keluar dari Mansion megah tersebut dan ia paham betul pemilik mobil itu. Semakin mobil itu mendekat semakin ia menjauhkan ponsel yang masih berdering dari depan telinganya. Tepat saat si pemilik mobil itu turun dan keluar menghampirinya, gadis yang ia coba hubungi telah mengangkat panggilan darinya.


Di ujung panggilan sana, Adinda dengan malas merogoh tasnya dan menemukan suara benda yang mengganggu tidurnya, dengan mata yang masih dihimpit rasa kantuk ia menggeser tombol hijau tanpa membaca nama si penelepon. Seketika rasa kantuk nya menguap saat indera pendengarannya menangkap nama pria yang selalu memenuhi otaknya.


"Selamat sore Tuan Salman," sapa Harun dengan hormat.


"Sore. Kenapa hanya berdiri di sini dan tidak masuk?" Salman membalas sapaan itu dengan ramah lalu bertanya.


Bukan Harun yang menjawab namun penjaga keamanan lah yang menjawab dengan sebelumnya menyapa Tuan muda nya terlebih dulu dengan tertunduk hormat. "Maaf Tuan. Tuan muda Gio melarang tamu asing untuk masuk ke dalam Mansion." jawab lelaki berkulit hitam dengan tubuh tegap itu.


"Aku mengenalnya." pungkas Salman pada petugas keamanannya, lalu beralih menatap Harun yang terlihat sesekali mengecek layar benda pintar di tangan. "Ada perlu apa kemari?" tanyanya.


Saat Harun hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Salman suara merdu di balik panggilan telepon menyapanya lebih dulu.


"Hallo mas Harun... Mas Harun di ada mansion?"


"Iyah, mas di depan gerbang—" Harun tidak melanjutkan ucapannya karena Adinda langsung menyela.


"Tunggu, aku turun sekarang."

__ADS_1


Panggilan telepon itu terputus sepihak dan Adinda yang memutuskannya lebih dulu.


Seolah tak ingin membuang waktu dengan mencari alas kaki yang tak tahu keberadaannya ia berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan begitu tak sabaran nya. Dengan nafas yang masih tersengal ia membuka pintu utama dan saat ia akan melanjutkan aksi larinya menuju gerbang , seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu menghentikan aksinya. Ia memutar leher celingukan mencari sosok yang ia ingin temui namun, ia tak mendapati siapapun selain sosok Harun di sana.


"Kamu cari siapa?" tanya Harun yang melihat Adinda justru melewatinya dan berdiri celingukan menyusuri halaman depan mansion.


"Mas Harun sendirian?" pertanyaan Harun justru di balas pertanyaan juga oleh Adinda.


"Iya." jawab Harun sedikit bingung, memang mau datang sama siapa lagi. Dia membatin.


"Tadi aku dengar suara..."


"Suara siapa?" tanya Harun yang menunggu Adinda meneruskan ucapannya yang menggantung.


"Ah sudahlah" ucapnya lalu berbalik begitu saja tanpa mempersilakan tamunya untuk masuk.


Harun semakin dibuat bingung dengan sikap Adinda yang dia rasa berubah menjadi sangat cuek padahal dulu gadis itu selalu girang jika bertemu dengannya. "Ada apa dengannya? Bukankah dia sangat menyukaiku, seharusnya dia senang dan menyambut kedatangan ku, setelah ia mengetahui aku mengutarakan keinginanku pada ibunya, kenapa sikapnya seperti ini sekarang?"


Di tengah kebingungannya suara bu Harti yang menyembul dari balik pintu utama menyadarkan ya dan menghentikan langkah Adinda yang hendak masuk ke dalam.


Setelah menjawab salam dan mencium punggung tangan bu Harti dengan takdzim ia di persilakan masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Adinda —gadis itu beralasan baru bangun tidur dan belum mandi jadi ia pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Maaf bu, Harun kemari tanpa memberi kabar dulu pada ibu."


"Tidak apa-apa ibu senang nak Harun mau berkunjung kemari."


"Di minum nak tehnya!" Imbuh bu Harti setelah seorang pelayan wanita meletakan dua cangkir teh di meja.


Harun mengangguk lalu meraih cangkir di depannya dan menyesap nya sedikit.


"Sebenarnya, kedatangan Harun kemari ingin meminta restu ibu secara langsung. Harun sungguh-sungguh dengan ucapan Harun saat di rumah sakit tempo hari." ungkap Harun setelah menaruh kembali cangkirnya ke atas meja.


Bu Harti terdiam meminang apa yang harus di jawabnya. Dalam hati kecilnya ia telah memilih Salman untuk Adinda namun, kenyataan yang baru saja di dengarnya membuat hatinya meragu.


"Ibu tidak bisa menjawabnya nak, keputusannya tetap pada Adinda. Dia yang yang akan menjalani kehidupan selanjutnya." jawabnya. Sebagai seorang ibu dia tentu ingin yang terbaik untuk putrinya namun, ia tak ingin memaksa keinginannya tanpa memperdulikan perasaan putrinya, ia ingin putri-putrinya bahagia bersama orang yang di cintai dan mencintainya.


Dengan segala kelapangan hati Harun menerima jawaban bu Harti. Ia akan berusaha mengambil hati Adinda kembali, ia sadar telah lama ia mengabaikan perasaan gadis itu dan sekarang ia baru menyadari bahwa perasaannya memang sejak dulu untuk gadis ceria itu.


*


*


Mau minta like, komentar, dan vote nya, tapi sadar up nya juga ga jelas. Kan maluin. 😔

__ADS_1


Tapi, kalau ada yang berkenan ngasih hadiah sangat di terima dengan suka cita. 😘💕


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2