Mommy Dara

Mommy Dara
PART 15


__ADS_3

Di Mansion Bella.


"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Bella setelah Salman menghentikan laju mobil di depan pintu mansion nya. Tanpa menunggu jawaban Salman ia langsung membuka pintu mobil dan keluar.


Melihat Bella yang telah menutup pintu mobilnya kembali, Salman yang sedari tadi diam dan fokus pada kemudi, tak payah juga dan memutuskan untuk ikut turun.


"Bella, tunggu!" Bella yang sudah membalikkan badan dan hendak melangkah mengurungkan niatnya dan beralih menatap Salman yang sedang mengitari mobil lalu berdiri di depannya.


"Aku minta maaf," ucap Salman dengan begitu tulus.


"Minta maaf?" Bella mengerutkan keningnya mengulang ucapan Salman.


"Aku tidak bisa merubah keputusan Gio tentang kerja sama itu, tapi aku akan tetap mencoba membantu perusahaan mu, kau tidak perlu sedih lagi. Perusahaan mu pasti akan baik-baik saja."


Belum sempat Bella membuka suara, pintu besar rumah nya terbuka, dua insan yang sedang saling bertaut bibir dengan begitu menggelora menyembul dari balik pintu.


"Papah!" pekik Bella dengan airmata yang seketika luruh dari kedua mata indahnya.


"Tuan An!" Salman begitu terperanjatnya melihat sosok pria yang terlihat berkabut gairah itu.


"Bella — Tuan Salman!" gugup pria yang tak lagi muda itu dan langsung menjauhkan tubuhnya dari gadis muda yang memalingkan wajah dan hanya memberikan punggung menutupi rasa malu karena aksi mesumnya di lihat oleh orang lain.


"Kau benar-benar menjijikkan!" tangis Bella dan segera mengambil langkah menuju mobil yang terparkir di belakang mobil Salman.


Tuan An menyusul langkah Bella dan menggedor kaca mobil putri sulungnya itu. "Bella! Tunggu sayang, papah bisa jelaskan. Maafkan papah. Bella... Bella...!!"


Dengan membawa kekecewaan Bella melajukan mobilnya menjauh dari tubuh pria yang membuatnya tak lagi memiliki muka di hadapan pria yang di cintai nya.


Tuan An menatap penuh penyesalan kepergian putri sulungnya. Jiwa casanova nya selalu meronta saat pikirannya tengah kalut dengan urusan perusahaan yang sedang tidak stabil. Sebagai pria normal ia butuh melakukan pelepasan untuk menghilangkan stress. Ia tidak menyangka jika aksinya kali ini akan di lihat putrinya serta Salman. Bukan lagi masalah perusahaan yang di khawatirkan nya melainkan asmara putri sulungnya itu sebab, ia sangat tahu jika putrinya itu telah lama memendam perasaan untuk Salman. Bagaimana pria itu akan memandang putrinya setelah melihat aksinya yang memalukan itu? Sungguh ia merasa bukan ayah yang baik untuk putrinya.


Salman yang melihat mobil Bella telah melaju kencang segera mengitari mobilnya kembali dan membuka pintu kemudi. Dia menambah kecepatan saat akan melewati tubuh Ananda Gunawan yang terlihat kacau dan sedikit terisak.


Sambil mengitari pandangan Salman melajukan mobilnya untuk mencari kemana kira-kira mobil Bella melaju. Ia memelankan laju mobilnya saat akan melewati sebuah mobil yang terlihat di kerubuti beberapa orang.


"Mobil itu seperti mobil yang di kendarai Bella" gumam Salman. Untuk memastikan dan berharap dugaannya salah Salman menepikan mobilnya dan turun menghampiri mobil sedan berwarna putih tersebut.


"Permisi..." Salman mencoba menerobos kerumunan orang di mobil tersebut.


"Bella...!" pekiknya saat ia melihat gadis yang sedang menangis dan memukul stir kemudi adalah benar gadis yang di carinya.

__ADS_1


"Anda mengenalnya Tuan?" tanya salah satu orang dalam kerumunan itu.


Salman menolehkan wajahnya dan menatap pemilik suara itu. "Iya,"


"Pengendara mobil itu, tadi melaju dengan kecepatan tinggi namun, tiba-tiba berhenti mendadak dan histeris seperti itu. Bahaya jika dia terus mengemudi, makanya kami menjegal mobilnya, tapi dia tetap tidak mau turun." terang salah seorang yang lain.


"Terima kasih telah mengkhawatirkan nya, saya akan menjaganya." perlahan kerumunan orang itu mulai membubarkan diri dan hanya menyisakan Salman di samping mobil tersebut.


Tok tok tok


"Bella, are you okey? Buka pintunya, please" pinta Salman dengan begitu lembut.


Gadis di dalam mobil itu hanya menatap sekilas wajah Salman yang tercetak di kaca mobilnya, lalu memalingkan wajah dan meletakan kepalanya di atas stir kemudi.


"Aku akan terus di bawah terik matahari ini sampai kau membuka pintu mobilmu," lanjut Salman masih berusaha.


Tanpa merubah posisinya Bella menekan lock mobilnya. Ceklek. Terdengar bunyi lock yang terbuka.


Salman membuka perlahan pintu mobil itu dan sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan body mobil.


"Turunlah! Tenangkan dirimu." pintanya lagi dengan nada yang sama.


Melihat gerakan kasar dari bahu Bella yang naik turun, Salman dapat menangkap kesedihan gadis itu. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut pirang gadis itu dan mengelus nya penuh kasih.


Salman menghentikan kegiatan tangannya dan justru menarik pelan bahu Bella, lalu mengambil wajah gadis itu untuk menatapnya lalu menyapu airmata Bella dan berpindah meraih kedua tangan gadis cantik itu untuk menuntunnya keluar dari mobil.


Seperti terhipnotis dengan kelembutan Salman, Bella mengikuti langkah pria itu tanpa berontak hingga tubuhnya di dudukkan di kursi plastik milik pedagang minuman yang mangkal di pinggiran jalan tersebut.


"Maaf, jika ada ucapan Gio yang menyinggung perasaanmu. Kau gadis baik, seperti apapun sifat ayahmu, tapi kau memiliki kepribadian yang berbeda." ucap Salman setelah ia juga ikut mengambil duduk di kursi lain di samping gadis itu.


"Kau sedang memujiku, apa artinya kau sudah menerima ku?" tanya Bella dengan menatap lekat wajah tampan milik Salman.


"Maaf." satu kata yang meluruhkan harapan gadis itu.


"Kenapa? Apa ada gadis lain yang singgah di hati kakak?"


"Ini adalah cinta yang rumit, kau tidak akan memahaminya. Kau pasti akan mendapatkan pria lain yang akan mencintaimu, jangan berharap padaku. Aku bukan pria yang pantas untuk kau harapkan."


"Itu bukan jawaban yang bisa membuatku menjauh. Aku baru akan menyerah jika hati kakak benar telah termiliki, hingga tidak ada ruang untukku lagi."

__ADS_1


"Aku memang mencintainya, tapi aku mungkin tidak akan bisa memilikinya,"


"Kenapa tidak bisa bersama? Kasta?"


Salman menggelengkan kepala pelan. "Karena dia adalah bagian cinta rumit itu,"


"Aku tidak mengerti" ucap Bella dengan wajah bingungnya.


Salman sedikit terkekeh melihat ekspresi wajah itu. Dia mencubit gemas hidung mancung gadis di depannya. "Kau tidak perlu mengerti," tegasnya.


"Terima kasih telah begitu mencintaiku. Cintaku tidak membuatmu bahagia jadi carilah cinta lain yang bisa memberimu kebahagiaan. Kau pasti bisa!" imbuhnya penuh dengan ketulusan.


"Tapi kak—"


"Bella...!" sela Salman yang kemudian mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh Bella sambil mengusap ujung rambut gadis itu.


Tak bisa di pungkiri, ia begitu nyaman dalam dekapan itu. Tapi, ia tak bisa memaksa hati untuk menerimanya, tak ingin semakin terbuai dan membuatnya semakin sakit karena tak bisa memiliki ia memilih melepaskannya. "Baiklah" pasrah nya.


"Aku haus. Setidaknya traktir aku es campur itu untuk mendingin kan hatiku." pintanya setelah pelukan itu terurai.


"Jangankan hanya es campur, aku akan membuat perusahaan mu kembali pulih," jawab Salman dengan pasti.


"Terserah, aku tidak tahu apapun tentang perusahaan. Kerja sama itu pun hanya alasan dan aku tetap tidak bisa mengambil hatimu." pungkas Bella dengan mengalihkan pandangan pada mobil yang berseliweran di jalan.


Dengan sedikit menarik kedua sudut bibirnya Salman bangkit untuk memesan minuman segar yang terasa cocok untuk cuaca sore itu.


Sambil menunggu pesanannya selesai di buat, Salman mengambil ponsel yang dia silent di balik saku jas nya.


"Banyak sekali panggilan tidak terjawab." ucapnya setelah membuka layar kunci di ponselnya. Baru dia akan melakukan panggilan balik, seruan pedagang yang menyodorkan dua gelas es mengurungkan niatnya dan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku namun, ia yang terburu-buru justru menjatuhkan ponsel tersebut.


"Eh sebentar, pak!" izinnya untuk mengambil ponselnya terlebih dulu.


Bella yang kembali menolehkan wajahnya, melihat Salman yang sedang membungkukkan badan. Matanya seketika membulat menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang seperti tak terkendali, ia kembali melihat pada sosok pria yang masih berjongkok dan hendak meraih sebuah ponsel yang tergeletak di aspal.


"Awas tuan ada mobil melaju kencang kemari!" seru pedagang itu sambil menjauh dari gerobaknya.


Dengan menyingkirkan kasar kursi plastik yang menghalangi jalannya Bella berlari. "Salman awas...!"


Salman yang baru akan menegakkan tubuhnya kembali merasa tersingkir dengan sebuah tangan yang mendorong keras tubuhnya.

__ADS_1


BRUUGGH


Mobil minibus tersebut menyeret gerobak es itu menjauh dan menghantam tubuh yang berada di depan gerobak itu hingga terjatuh bersamaan dengan gerobak yang menindih tubuh yang terkulai lemah itu.


__ADS_2