Mommy Dara

Mommy Dara
PART 07


__ADS_3

Dengan begitu lembut Gio membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang raksasanya. Tatapan mata yang begitu sayu dengan nafas yang memburu tergambar jelas di wajah Gio saat ini. Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya dan semakin dekat bahkan kening keduanya telah saling menempel. Tangan Amanda yang masih melingkar di balik leher Gio semakin di eratkan dan kedua bibir yang saling terbuka menyambut lalu bertaut dan terus melummat, menjelajah setiap rongga mulut keduanya, pertukaran saliva yang semakin membasahi bibir atas bawah keduanya secara bergantian dan saling membagi ruang untuk mengambil oksigen dan kembali berbagi nafas bersama dengan rasa manis yang selalu membuat candu.


"Tuan.. hmp"


"Iya nyonya.. "


Tanpa melepas kenikmatan dari kecapan-kecapan lidah yang saling menarik dan menyesap gerakan lain mulai aktif dari tangan nakal yang begitu liar menjelajah di balik gaun yang juga ingin menemukan kenikmatan lain. Kolaborasi kedua tangan yang telah melepas pengait di balik dada membuat wanita yang berada dalam kugkungan yang begitu agresif dari lawan di atasnya , tak mampu menahan desahannya, dan lenguhan panjang yang terlontar dari mulutnya, membuat tangan nakal itu semakin bekerja ekstra untuk melepas segala kain yang menghalangi aksinya, dan dengan penuh kesabaran dan kelembutan bibir yang terus menyatu hingga tanpa di sadari tak ada lagi kain yang menempel di tubuh keduanya. Gerakan demi gerakan yang telah menyatukan kulit keduanya dan telah saling menempel semakin membumbung tinggikan kenikmatan yang keduanya rasakan hingga keduanya sama-sama telah mencapai puncaknya dan terkapar dengan rasa lelah yang sebelumnya tak di rasakan.


"I Love You , sayang" ucap Gio begitu tulus setelah meninggalkan kecupan sayang di kening Amanda.


"Hmmm... Aku sangat lelah, tuan." keluh Amanda mendorong pelan tubuh Gio yang kembali berada di atasnya.


Gio menarik tinggi kedua sudut bibirnya, dan menutup seluruh tubuh polos Amanda dengan selimut tebal dan hanya menyisakan wajah cantik yang terlihat lelah dan sedikit berantakan karena ulahnya yang telah membabi buta dengan segala kenikmatan berulang untuk wanitanya itu.


"Istirahatlah, kumpulkan lagi tenaga mu untuk permainan selanjutnya kita nanti," Goda Gio. Rasa ngantuk yang sudah melanda Amanda di tambah tubuhnya yang sangat lelah setelah berolahraga ranjang seolah sudah tak memiliki lagi tenaga untuk menanggapi ucapan Tuan suami, dan langsung terlelap masuk ke dalam alam mimpi.

__ADS_1


"Selamat tidur, sayang" ucap Gio tanpa melepas pandangan dari wajah yang begitu membuat hatinya teduh. Setelah mendengar nafas Amanda yang mulai teratur dan menandakan wanitanya itu telah terlelap, Gio beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Melihat Amanda yang begitu damai dalam tidurnya, dan tak ingin mengganggu waktu istirahat sang istri ,Gio memilih beranjak dan menemui Gerald di kamar lain. Setelah melihat Gerald yang juga masih tertidur, akhirnya Gio memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang belajar.


Dia yang masih memiliki jatah libur bulan madu, tak ingin menyiakan waktu liburnya dengan bekerja , karena ia tahu pasti semua pekerjaan kantor dapat di handle dengan mudah oleh sang kakak, akhirnya membaca buku menjadi pilihannya.


"Sudah lama sekali tidak masuk ke ruang baca ini," gumam Gio sambil menuruni anak-anak tangga di lantai bawah ruang belajar. Ruang baca yang dulunya menjadi tempat sekolahnya karena ia tak pernah mengenyam pendidikan umum hanya 3 tahun saja di bangku Sekolah Dasar, setelahnya di tempat inilah ia menimba ilmu.


Dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam kantong celana, ia berjalan melambat menatap pada meja belajarnya. Kenangan masa kecil bersama sang kakak kembali hadir di meja panjang itu. Tanpa melepas arah pandangannya pada dua kursi di hadapannya ia mendaratkan pantatnya.


Gio menghela nafas beratnya, lalu melirik laci di bawah meja, membuka dan mengambil dua kotak hitam persegi panjang yang berisi bolpoin khusus yang di rancang dengan tertera namanya serta nama sang kakak yang terukir dengan tinta emas di masing-masing kotak tersebut.


Pandangannya kembali beralih pada dua kursi di hadapannya, percakapan dua bocah laki-laki yang duduk di kursi tersebut tergambar dalam bola matanya.


Salman remaja menghentikan aktifitasnya untuk menoleh dan menatap adik kecil yang sedang menatap kesal ke arahnya.


"Daddy bilang , aku harus mulai belajar untuk membuat tanda tangan, ini sangat berguna saat kelak aku membantu Daddy di perusahaan. Ini mungkin tugas yang mudah, tapi tanggung jawab ku akan sangat besar untuk tanda tangan ini. Kau juga nanti akan belajar hal seperti ini."

__ADS_1


"Mana yang sulit di kerjakan, biar ku bantu" lanjut tawarnya sambil mendekatkan tubuh untuk melihat buku tugas sang adik.


"Aku bisa dengan mudah mengerjakannya, tapi aku ingin menulis dengan bolpoin yang kakak pakai itu." tunjuk Gio kecil pada bolpoin dalam genggaman Salman.


"Kenapa harus bolpoin ku, kau memiliki bolpoin yang sama, ada nama masing-masing di bolpoin itu,"


"Tapi aku ingin bolpoin yang kakak pakai. Kalau kakak tidak mau memberikannya, aku tidak mau belajar lagi," Gio menggeser buku-bukunya menjauh dan melipat kedua tangannya di dada.


Melihat wajah kesal sang adik justru membuat Salman terkekeh. "Baiklah. Aku akan memberikannya untukmu." tulus Salman menyerahkan bolpoin itu ke tangan Gio.


Gio menerimanya dengan wajah gembira. "Kakak boleh mengambil bolpoin ku, ini!" Gio memberikan bolpoin miliknya sebagai ganti.


Salman mendorong pelan bolpoin di tangan Gio. "Itu milikmu, aku tidak akan mengambil milikmu." tolaknya.


"Tapi kakak sudah memberikan bolpoin kakak untukku, maka ambillah milikku sebagai gantinya,"

__ADS_1


"Aku memberikannya karena kau menginginkannya. Karena kau sudah mengambil bolpoin kesayanganku, kau harus menyimpannya dengan baik. Jika tidak, maka aku akan mengambilnya lagi nanti!"


"Mana boleh, ini sudah menjadi milikku. kakak tidak boleh mengambilnya lagi dariku," tegas Gio kecil menggenggam erat bolpoin di tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung.


__ADS_2