Mommy Dara

Mommy Dara
PART 33


__ADS_3

Dengan semangat empat lima Adinda menyambut paginya. Ia tidak ingin terlambat di hari pertama nya bekerja. Pukul 07.00 gadis itu telah sampai di gedung perusahan Kaana. Ia turun dari taksi online yang membawa nya setelah merapikan blazer serta sedikit rambut depannya.


Ia bergeming di depan pintu masuk dengan dahi berkerut, ia bingung apa yang harus di lakukannya sekarang, ia tidak tahu akan di tempatkan di bagian apa dan dengan siapa ia harus bertemu dan menanyakan tentang perihal itu.


Saat ia akan mengangkat ponsel untuk menghubungi Salman, suara Bimo yang menyapanya, memberikan pencerahan di tengah kebingungan nya.


Bimo mengajak Adinda untuk ikut bersamanya menuju lantai teratas gedung tersebut. Di meja sekertaris Nita telah menyambut kedua nya. Bimo meminta Nita untuk menjelaskan apa saja yang harus di lakukan Adinda, setelah itu ia masuk keruangan nya.


Jika dulu Bimo selalu datang bersama Tuan muda pemilik perusahaan itu namun, saat Salman yang untuk sementara mengambil alih posisi itu, ia selalu datang sendiri karena Salman tak mengizinkannya menjemput dan mengantar seperti yang biasa ia lakukan saat bersama Gio. Salman selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir atau asisten pribadi.


Setelah kepergian Bimo kedua gadis itu mulai berkenalan secara resmi, dan berharap bisa menjadi partner kerja yang baik, meski hanya sementara namun, Adinda ingin berusaha melakukan yang terbaik, ia benar-benar ingin belajar di dunia kerja.


Saat Nita tengah menjelaskan tentang agenda hari ini dan apa saja yang harus di lakukan Adinda bunyi pintu lift yang terbuka serta langkah sepatu yang menghentak menghentikan pembicaraan keduanya.


Melihat Nita yang berdiri dan menyambut kedatangan Salman, Adinda pun melakukan hal sama tanpa di komando.


"Selamat pagi, Tuan" sapa Nita saat Salman telah berada di hadapannya. Begitupun Adinda yang mengikuti apa yang di lakukan Nita.


Salman yang mendapat sapaan dari meja sekertaris menghentikan langkah dan menatap gadis yang sedang menundukkan wajah sambil mencuri-curi pandang.


"Selamat pagi. Kau sudah datang, Adinda?" balas sapa Salman kemudian bertanya.


"Iya kak eh tuan" jawab Adinda sambil mengangkat wajahnya, lalu menutup mulut dengan satu tangan menyadari kesalahannya, dia sendiri bingung harus memanggil apa pada kakak ipar yang sekaligus menjadi bos nya saat ini.


Salman sedikit terkekeh mendengar jawaban Adinda. Pagi nya terasa berbeda dengan sapaan dan senyuman manis gadis itu. Kedatangan Bimo yang menghampiri, kembali membuatnya melanjutkan langkah dan masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Adinda masih betah berdiri di tempatnya bahkan saat Salman telah menutup pintu dan menghilang di balik benda persegi panjang itu. Hingga suara Nita mengalihkan fokus pandangannya pada gadis yang sedang merapikan map di atas meja.


"Adinda... Aku mau ke ruang meeting untuk mengecek kesiapan meeting pagi ini. Tolong kamu lanjutkan ini sendiri yah," Nita berucap sambil menggeser laptop ke hadapan Adinda.


"Iya mba, nanti Adinda selesaikan" jawab Adinda sambil mendaratkan pantatnya di kursi.


"Makasih ya. Kalo ada yang belum kamu ngerti, lewati aja, nanti aku jelasin lagi setelah meeting" pesan Nita dan di jawab anggukan oleh Adinda.


Dengan senyum sebagai ucapan semangat, Nita pun kemudian pergi meninggalkan Adinda menuju lantai bawah tempat dimana meeting biasa di lakukan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa semuanya telah siap, mulai dari presentasi yang akan di bahas oleh staf hingga kehadiran semua anggota direksi, barulah meeting bisa di mulai.


Saat Adinda tengah fokus mengerjakan pekerjaannya di depan layar lipat, sebuah suara mengalihkan atensi pada gadis berkursi roda yang berdiri di samping mejanya.


"Selamat pagi, apa tuan Salman sudah datang?" tanya gadis itu.


Untuk sesaat Adinda bergeming, ada rasa tak enak yang tiba-tiba singgah di hati nya melihat kedatangan gadis yang ia ketahui sebagai tunangan bos nya itu.


"Eh iya, maaf nona. Tuan Salman sudah datang datang, mari saya antar ke ruangannya." Adinda lekas beranjak dari duduknya dan hendak mengambil alih untuk mendorong kursi roda Bella.


Setelah Bella menyuruh sopir yang mengantarnya itu kembali dan meminta untuk menunggu di depan Adinda segera mendorong kursi roda itu menuju ruangan Salman. Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin masuk dari balik pintu, Adinda membawa Bella masuk ke ruangan itu.


Salman yang sedang mengecek email dari layar lipat menghentikan kegiatan nya dan beranjak melihat kedatangan Bella yang tiba-tiba datang ke perusahaannya. Lalu ia melihat rantang nasi dalam pangkuan gadis itu, ia langsung dapat menangkap maksud kedatangan gadis itu.


"Maaf. Aku datang sepagi ini ke kantor mu" ucap Bella. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk bisa datang menemui Salman di perusahaan Kaana karena ia tahu bahwa Gio sedang berangkat ke luar negeri.


"Tidak pa-pa. Apa itu?" jawab Salman lalu menunjuk rantang di pangkuan Bella.

__ADS_1


Sebelum Bella membuka suara, Adinda lebih dulu bersuara. Ia seolah tidak mampu bernafas jika lebih lama berada di ruangannya itu. Ia memilih berpamitan dan keluar dari ruangan itu segera.


Bella menatap kepergian Adinda hingga menghilang di balik benda persegi panjang, ia berpikir seperti pernah melihat gadis itu, namun ia tak bisa mengingat dimana dan siapa.


"Apa isi rantang itu sarapan untukku?" Salman bertanya sambil mendorong kursi roda Bella menuju sofa.


Bella mendongak untuk menatap wajah Salman lalu mengangguk pelan.


"Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih untuk tawaran pengobatan kak Salman waktu itu. Semoga kakak bersedia mencicipi masakan ku." ucap Bella dengan pandangan tertunduk, ia takut Salman tak mau mencoba makanan yang ia bawa.


"Tentu, kebetulan aku juga tadi sarapan sedikit. Terima kasih kembali karena kau sudah mau repot datang kemari dan membawakan ini untukku." jawab Salman menghentikan langkahnya dan mengambil rantang itu dari pangkuan Bella setelah kedua nya sampai di sofa.


"Kau sudah sarapan?" Tanya Salman sambil membuka rantang nasi itu di atas meja.


Bella menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau begitu, kita sarapan bersama!."


Bella mengangguk pelan. Saat ia akan menyiapkan sarapan untuk Salman, pria itu menolaknya. Salman mengambil makanannya sendiri lalu ia menyiapkan juga makanan untuk Bella.


Tidak ada perasaan berlebih untuk gadis itu, bagi Salman Bella adalah gadis yang baik, ia juga tidak ingin menyakiti hati gadis itu. Bukan ia memberi harapan pada gadis itu dengan sikap terbukanya, namun ia tak ingin meninggalkan kesan buruk dan tetap ingin menjalin hubungan baik.


*


*

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2