Mommy Dara

Mommy Dara
PART 21


__ADS_3

Di Universitas


Dengan pandangan ke depan dan pikiran yang di penuhi dilema Adinda melangkah masuk ke ruang kelasnya. Ia langsung mendaratkan tubuhnya di kursi dan terus membiarkan tas nya melingkar di bahu. Calista yang melihat gelagat sahabatnya bangkit dari duduknya dan mengambil duduk di depan gadis itu.


"Kamu kenapa, Nda? Ada masalah?" tanyanya hati-hati.


Adinda sedikit terperanjat dengan suara Calista, ia menatap sahabatnya tanpa membuka mulutnya.


"Adinda," lirih Calista sambil menggenggam tangan Adinda yang berada di atas meja dan membalas menatap lekat wajah sahabatnya itu.


"Ibu Cal..." ucap Adinda menggantung.


"Bude!? Bude sehatkan, bude baik-baik aja 'kan?" cerca Calista semakin khawatir.


Adinda hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Terus kenapa? Cerita dong, Nda!" lirih pinta Calista semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Ibu udah ketemu mas Harun di rumah sakit,"


"Terus?"


"Mas Harun meminta izin ibu dan mengutarakan niatnya untuk melamar ku,"


"Bukannya seharusnya kamu seneng, kok malah kaya sedih gitu,"


Adinda menghela nafas beratnya lalu melepaskan genggaman Calista dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kamu 'kan tahu gimana perasaan Bianca sama mas Harun. Aku ga mau ada salah paham antara kita, lagipula aku udah memutuskan untuk mundur,"

__ADS_1


"Mundur sebelum melangkah sama sekali, yang bener aja kamu, Nda."


A


"Terus aku harus maksain perasaan aku dan nyakitin hati perasaan temanku sendiri. Aku ga bisa, Cal!"


"Gimana sama perasaan kamu? Aku tahu kamu udah lama suka sama mas Harun. Dan itu juga yang jadi alasan kamu ada di sini. Kamu mau mengejar cintanya, iya 'kan? Dan sekarang itu semua udah ada di depan matamu, dan kamu malah mau menyia-nyiain itu semuanya."


Adinda terdiam tak menanggapi ucapan Calista. Awalnya, memang dia begitu ingin ke kota J untuk bisa bertemu dengan pria yang selalu mengisi hatinya dan berharap suatu saat pria itu akan mengerti dan bisa membalas perasaannya. Namun, yang dia rasakan saat ini justru berbeda.


Sepiβ€” entah mengapa hatinya merasa begitu sepi, sejak dua minggu lalu tepatnya setelah ia melihat Salman berpelukan dengan kakak Bianca yang dia enggan ingin tahu siapa nama gadis itu, Salman tak pernah terlihat lagi di Mansion. Saat ia mengunjungi Amanda di rumah sakit dan berharap bisa bertemu dengan pria itu pun harapannya tinggal hanya harapan, Salman tak pernah datang mengunjungi kakak serta kakak iparnya. Yang dia dengar dari Shalimar bahwa Salman sangat sibuk bekerja mengurus perusahaan Kaana.


"Hai ladies... Pagi-pagi udah pada ngelamun ajah. Mikirin apa sih?" suara Bianca memecah segala pikiran Adinda. Dia sedikit mendongak untuk melihat gadis cantik berambut pirang dengan lensa mata berwarna biru.


"Darimana aja, Bi. Ampe seminggu lebih bolosnya?" tanya Calista menghadapkan tubuhnya ke arah Bianca.


"Kakak kamu baik-baik aja 'kan, Bi?" Adinda ikut bertanya.


'Jadi kakaknya Bianca udah ga di rumah sakit, apa itu sebab nya juga kak Salman ga pernah lagi keliatan di rumah sakit' batin Adinda bermonolog sendiri.


"Adik macam apa kamu ini, kakak sendiri abis kecelakaan ga da perhatiannya sama sekali." seloroh Calista.


"Gue malas klo harus ke Mansion dan ketemu papah, gua ilfil sama dia. Lagian udah ada tunangan kak Bella yang selalu ada buat jagain kak Bella. Cowok itu keren banget bisa buat kak Bella dengan mudahnya maafin papah gitu aja." jawab Bianca yang selalu merasa malu dengan sikap Tuan An hingga dia memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemennya sejak ia mulai mengambil job model dan menghasilkan uang sendiri dari hasil kerja kerasnya itu.


"Oh... Jadi kak Salman tunangannya kakakmu." ucap Bianca sambil mengangguk - anggukan kepalanya.


"Kalian bakalan ipar-an dong." imbuh Calista.


"Eh iya, dia kakak ipar lu yah Nda." jawab Bianca sambil menaruh tas mahalnya di atas meja. Lalu menatap lekat punggung Adinda dan menarik bahu Adinda agar gadis itu menghadap ya.

__ADS_1


"Dia cowok yang lu suka ya, Nda? Gue inget! Dia yang di foto itu 'kan?"


"Apa!? Adinda suka sama kak Salman?" tanya Calista memastikan.


Adinda hanya menggerakkan kedua bibirnya tanpa sepatah kata pun yang keluar, kedua matanya nyalar mengitari seisi ruangan menghindari tatapan kedua temannya. Hingga suara deringan ponsel Bianca dan mahasiswa lain yang mulai menduduki kursi masing-masing karena kedatangan dosen yang mulai memasuki ruang kelas. Adinda dapat menghembuskan nafas lega dan langsung duduk dengan tegap menghadap ke depan dan mengacuhkan pertanyaan kedua gadis itu.


"Ok. Gue berangkat sekarang" ucap Bianca yang langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bangkit dari duduknya.


Adinda menoleh melihat Bianca yang hendak melewatinya.


"Mau kemana? Dosennya udah ada di depan tuh," tunjuk Adinda dengan ekor matanya.


"Ada pemotretan dadakan, gue udah di tunggu di lokasi. Lagian gue lupa belum ngerjain tugas. Nanti lu tolong bantuin kerjain tugas gue yah!" ujar Bianca dengan mencubit pipi Adinda dan berlalu dari hadapan gadis itu, setelah berucap dengan dosen pengajar dia keluar dari ruang kelas sambil melambaikan tangan dan menatap kedua temannya.


Melihat tatapan Calista yang masih tertuju ke arahnya, Adinda sedikit mengangkat tubuhnya untuk memegang bahu Calista, lalu memutar tubuh sahabatnya agar menghadap ke depan.


"Dosennya di depan bukan di belakang" ujar Adinda.


Calista yang ingin kembali merotasikan tubuhnya untuk menatap Adinda mengurungkan niatnya, setelah mendengar sapaan dosen di depan pertanda pembelajaran akan segera dimulai.


"Kenapa kedatangan cinta selalu meninggalkan sakit untukku? Huh... Mungkin emang belum saatnya buat aku mikirin cinta sekarang. Udahlah, fokus aja sama belajar dan ingat janjimu sama ayah untuk bisa jadi sarjana. Sarjana Adinda sarjana bukan Cinta."


*


*


*


Maaf yah Up nya lama bangeeettt... πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Pokoknya akan kaya gini, nulisnya aku cicil se kober nya, ga da waktu pasti buat nulis aku tuh, klo udh nyicil sampe 1k baru aku up. πŸ™πŸ™


Happy reading ❀️❀️


__ADS_2