Mommy Dara

Mommy Dara
PART 16


__ADS_3

"Mampus! Gue bilang lu jangan ikutan mabok, jadi nabrak kan,"


"Udah tinggalin aja, lanjut jalan lagi, ga da saksi mata yang liat juga. Cepetan mumpung jalannya masih sepi!"


"Gila lu, kalo orangnya mati gimana? Lu mau di hantui sama arwah gentayangan. Kita turun dulu liat."


Perdebatan sopir dan kondektur truk kontener yang masih berusia 20 tahunan itu berakhir, dengan menahan pening di kepala dan kesadaran penuh yang coba di kumpulkan, keduanya turun dari truk besar itu, dengan perasaan was-was mereka menyusuri jalanan yang begitu sepi dan seketika terasa mencekam. Dengan langkah lebar mereka menghampiri mobil mewah yang terlihat terbalik dan ringsek di bagian depannya akibat keteledorannya dalam berkendara.


"Tu-tuan... To-tolong...!" rintihan suara wanita yang terdengar begitu lirih menghentikan langkah kedua pria yang masih dalam pengaruh miras itu.


"Orangnya masih hidup, ayo kita pergi!" panik pria yang menjadi kondektur itu dengan menarik tangan temannya.


Langkahnya terhenti karena temannya tetap tak bergeming. "Lu mau masuk penjara karena nabrak orang?" lanjutnya dengan wajah cemas.


"Gue lebih baik di penjara daripada di hantui arwah." tegasnya sambil menepis tangan kondekturnya dan melangkah pasti menuju mobil itu.


"Mba... Lu bisa denger gue ga?" sopir itu melongok ke dalam mobil yang ringsek tersebut.


Tubuh pria dan wanita yang terbalik dengan darah segar memenuhi wajah kedua orang tersebut membuat tubuh sopir muda itu gemetar.


"Eh ada hp tuh, coba di ambil!" pinta kondektur yang juga masih muda itu.


"Gila! Lu mau nyolong. Mereka lagi sekarat."


"Kita telponin ambulance pake hp itu, kaya gitu kan kita juga udah nolongin mereka." kondektur itu mencoba meraih hp yang berada di dalam mobil tersebut. Pandangan kondektur itu terhenti pada kedua tangan Gio dan Amanda yang sedang saling menggenggam.


Setelah berhasil mengambil ponsel Gio, kondektur itu segera menekan angka 119 untuk meminta bantuan ambulance.

__ADS_1


"To-to-long...!" rintihan suara Amanda semakin terdengar lirih.


"Kita udah telponin ambulance, sebentar lagi juga sampe, maaf mba - mas. Kita masih muda, kita takut masuk penjara. Semoga kalian selamat!" ujar kondektur itu sambil meletakkan kembali ponsel itu di dekat korban pria.


"Buruan kita pergi, sebelum ambulance nya dateng!" ajak kondektur itu menarik tangan temannya. Kali ini sopir itu menurut dengan berlari kecil kedua pria muda itu meninggalkan mobil Gio.


"Maaf! Semoga kalian maafin kita. Kalaupun kalian mati, semoga kalian bahagia di surga. Kita mah masih pengen hidup bahagia di dunia. Maaf.!" gumam sopir itu setelah duduk di bangku kemudi dan menatap sendu pada mobil yang terlihat begitu mengenaskan.


"Buruan jalanin mobilnya. Ga usah pake drama, ke buru ada orang yang liat!" Tak menunggu perintah dua kali sopir itu segera melajukan mobilnya menjauh dari tempat kejadian.


***************


Di perusahaan Kaana.


PRAAANG


Tuan Kaana yang hendak bangkit dari duduknya, tak sengaja menyikut dua buah figura kecil yang berada di meja kerjanya.


"Biar saya panggilkan OB untuk membersihkan pecahan kacanya," lanjut Bimo dan segera memerintahkan sekertaris nya untuk menghubungi OB.


Tuan Kaana tak menjawab dia kembali duduk dan meraih figura yang tertutup yang berada di ujung mejanya, ia kembali merapikan figura itu dan meletakkan di tempat semula. Kemudian Ia beralih pada figura yang telah pecah di bawah mejanya, ia menyingkirkan pecahan kaca yang menutupi pas foto itu. Dengan jari yang sedikit berdarah terkena pecahan kaca kecil itu, ia mengambil pas foto putranya dan menatap lekat wajah tampan putranya yang selalu tanpa ekspresi.


Dadanya tiba-tiba terasa sesak, angan saat kepergian sang istri yang tewas dalam kecelakaan 10 tahun yang lalu kembali melayang di ingatan nya. Dia segera menepis hal buruk yang sedang ada dalam pikirannya.


"Dia pasti baik-baik saja, dia masih begitu muda dan lagi dia sedang menikmati kebahagian bersama keluarga kecilnya. Putraku harus selalu baik-baik saja." gumamnya meyakini perasaannya sendiri.


Setelah menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan untuk menenangkan perasaannya, ia menyimpan foto di tangannya ke dalam laci. Ia meraih benda pintar yang berada di dekat layar lipatnya, lalu membuka layar ponselnya, sebuah foto yang di ambil saat makan siang bersama di kafe Salman masuk dengan Gio sebagai pengirimnya.

__ADS_1


[Rasanya aku ingin menambah cuti kerjaku, seperti ini sangat menyenangkan] Itulah teks yang berada di bawah foto kiriman tersebut.


Tuan Kaana menyunggingkan senyum setelah membaca pesan tersebut. Dia mengetik balasan. [Kau itu sangat pemalas, saham mu akan Daddy kurangi untuk kakak mu. Akan Daddy kurangi lagi karena kau bahkan tidak mengajak Daddy serta. 😠] kirimnya setelah ia selesai mengetik.


Tak ingin memperdalam pikiran buruknya ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Melihat Tuan Kaana yang sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, Bimo yang baru saja masuk kembali membuka pintu ruangan tersebut dan memberikan jalan pada penguasa perusahaan itu untuk keluar lebih dulu. Seorang OB masuk setelah Bimo memberikan perintah, kemudian dengan langkah lebar ia menyusul Tuan Besarnya yang sudah melangkah jauh di depannya.


**************


Di Rumah sakit.


"Selamat sore tuan Salman, saya Harun — asisten pribadi tuan An, dan ini nona Bianca serta nona Baby , mereka adik kandung nona Bella" Salman yang sedang duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya di depan pintu ruang UGD menatap sosok pria dan dua gadis dengan satu gadis yang masih memakai seragam putih biru berdiri di hadapannya. Dia memang menghubungi keluarga Bella lewat ponsel milik gadis itu.


"Kenapa bisa kak Bella tertabrak mobil? Apa yang terjadi? Kakak bersama nya seharusnya kakak bisa menjaga kak Bella. huu huu huu..." cerca gadis berseragam putih biru itu sambil terisak.


"Jangan dengarkan dia kak! Bagaimana kondisi kak Bella?" sanggah Bianca tak ingin mendengarkan ocehan adik kecilnya itu. Sepanjang perjalanan dia bahkan menutup telinganya dengan headset untuk menghindari tangis Baby yang menurutnya berlebihan.


"Bella sudah di tangani dokter. Maaf, ini memang salahku," jawab Salman dalam sesalnya. Dia masih tidak menyangka jika Bella akan mengorbankan dirinya sendiri seperti itu untuk bisa menyelamatkan nya.


"Seharusnya kau saja yang tertabrak, aku tidak akan menangis jika itu terjadi padamu." Baby menghentakkan satu kakinya lalu meninggalkan tempat itu dan mendekati pintu ruang UGD. Ia memandangi pintu yang tertutup itu dengan isak yang semakin terdengar jelas.


"Man...!" seruan seorang dokter yang berlarian di lorong mengalihkan fokus semua orang di tempat itu.


"Gue telponin lu kenapa ga di angkat?" tanya dokter itu dengan ngos-ngosan setelah berdiri di hadapan Salman.


"Oh iya? Ponselnya gue silent ga kedengeran. Ada apa?" Bukannya menjawab Jerico segera menarik lengan Salman. "Ada yang mau gue omongin."

__ADS_1


"Kalo ada kabar apapun tentang Bella, tolong hubungi saya!" pinta Salman menatap Harun.


"Baik tuan. Saya pasti akan menghubungi Anda." Setelah mendapat jawaban dari Harun, Salman mengikuti langkah Jerico meninggalkan tempat itu dengan sedikit kesal karena Jerico tak mau memberitahukan apa yang sebenarnya ingin dikatakan karena sahabatnya itu hanya mengatakan ini tentang Gio.


__ADS_2