
Hingga mobil yang di kendarai Gio telah berhenti di parkiran kafe tersebut.
"Sayang, itu kakak" suara Gio meleburkan segala sesak di dadanya. Ia menoleh keluar kaca dan terlihat seorang pria dewasa yang begitu gagah dengan setelah jas berwarna navy melekat di tubuh proporsional pria yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir di depan seberang parkir mobilnya. Pria yang sama yang pernah di temui nya di tempat yang sama pula dengan statusnya yang telah berbeda kini.
"Semoga kau juga secepatnya mendapatkan kebahagian mu bersama wanita yang mencintaimu."
"Ayo sayang!" Gio lebih dulu turun setelah mengambil Gerald dari pangkuan Amanda. Amanda mengangguk dan melepas seat belt yang melilit pinggangnya lalu ikut keluar.
"Kak!" seru Gio yang langsung menghampiri Salman.
"Gio โ Amanda! Kenapa kalian di sini? Kapan kalian datang dari kota S?" tanya Salman yang juga merubah alur langkahnya dan menghampiri dengan pandangan yang terfokus pada bayi mungil di gendongan Gio yang sedang asik memukul - mukul balon Doraemon yang di pegang Gio.
"Tadi pagi," jawab Gio lalu menyerahkan Gerald pada Salman, ia tahu sang kakak pasti sangat merindukan putranya itu. Terlihat dari wajah berseri Salman saat melihat bayi mungil yang sudah mengacuhkan mainan nya, saat Salman telah berdiri berhadapan dengannya.
Tanpa membuang waktu Salman segera memindahkan Gerald ke dalam pelukannya. "Apa kabar jagoan? Apa kau jadi anak pintar kemarin bersama Mommy dan Daddy mu,?" tanyanya sambil mengelus pipi cubbie putranya dan memainkan hidung mancungnya dengan hidung mancung putranya. Salman menangkap tangan Gerald yang terus menepuk wajahnya dan mengecup dalam telapak tangan bayi itu.
Amanda menatap haru kedua pria beda generasi di depannya. Seuntai rasa bersalah tiba-tiba menyeruak hatinya. Ia secara sengaja atau tidak sengaja telah memisahkan seorang putra dengan ayah kandungnya bahkan status ayah itu tergantikan secara hukum dengan pernikahannya bersama Gio, dan menjadikan Tuan suami adalah ayah sah Gerald secara hukum. Dan Salman, dia bahkan tak pernah mengungkapkan kepada putranya sendiri bahwa ia adalah ayah yang sesungguhnya. Entah terbuat dari apa hati pria dewasa di hadapannya itu, dia bahkan selalu menampilkan senyum terbaiknya.
Gio menarik tubuh Amanda dan memeluk posesif wanitanya, membuat Amanda mengalihkan kan pandangannya pada pria yang berdiri di sampingnya.
Bella yang sedari tadi masih duduk diam di mobil untuk menetralkan perasaannya, akhirnya ikut keluar. Dia berdiri mematung di samping mobil setelah menutup pintu mobil tersebut dan menatap bergantian pasangan yang berdiri di hadapan Salman. Netra nya terpaku pada bayi dalam gendongan Salman dan wajah yang diliputi kebahagiaan yang terpancar dari wajah pria tampan yang semakin membuatnya jatuh cinta, karena kehangatan yang selalu di tunjukan pria itu baik dulu hingga sekarang, dia selalu mengagumi sosok dewasa itu.
"Siapa bayi mungil itu kak?" Salman membalikkan badannya untuk melihat sumber suara.
Gio menatap tajam pergerakan gadis yang keluar dari mobil Salman dan langsung berdiri di samping kakaknya itu.
"Kenapa kau keluar dari mobil kakakku?" tanyanya begitu mengintimidasi.
__ADS_1
Bella yang baru akan mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Gerald terhenti di udara dan memilih menurunkan tangannya perlahan dan menatap bergantian sejoli di depannya. Dengan senyum terpaksa ia menyapa pria dingin yang begitu malas ia temui.
"Dia sama sekali tidak berubah, selalu saja posesif seperti itu," batinnya melihat tangan kekar Gio yang terus melingkar di pinggang gadis di sampingnya
"Dia memang datang bersamaku" Salman yang menjawab.
"Hai, saya Amanda, dia putraku," sapa Amanda begitu ramah sambil menunjuk Gerald dengan tatapan mata dan mengulurkan tangan kanannya.
Bella membalas uluran tangan Amanda, "Aku Bella, senang bertemu denganmu nyonya muda," Saat Bella akan menjabat tangan Amanda, Gio dengan segera menarik tangan sang istri dan menggenggamnya erat. Amanda hanya melirik tajam wajah datar yang terus menatap tajam gadis di depannya, dan membuat kening Amanda berkerut seketika.
Melihat wajah Gio yang terus menatap tajam Bella di tambah Gerald yang sudah merasa tidak nyaman karena cuaca siang hari yang terasa begitu menyengat, dia mengalihkan dan mengajak berpindah ke dalam.
"Di luar sangat panas. Ayo kita masuk!" lanjut ajak Salman sambil memindai sekilas wajah di sekelilingnya dan mengangguk kepada Bella lalu melangkah dan meninggalkan tempat parkiran yang lumayan ramai penitip kendaraan karena memang sudah masuk jam makan siang.
Amanda memandang punggung Salman dan Bella yang sudah mengambil langkah di depannya.
"Kenapa kakak bisa bersamanya, apa mereka memiliki hubungan?" Gio justru bermonolog dengan kepulan asap di kepalanya.
"Dia cantik!" seloroh Amanda tanpa melepas pandangannya dari Tuan suami.
Gio menolehkan wajahnya. Wajah dingin itu berubah imut saat berhadapan dengan wanitanya. "Mana ada, kau lebih cantik!" tandasnya dan langsung ******* singkat bibir ranum Amanda dan mengangkat tubuh wanitanya ala bridal.
"Tuan, turunkan aku!" rintih Amanda sambil memukul pelan dada Gio karena saat ini dirinya menjadi pusat perhatian di area parkiran dan itu membuat wajahnya terbakar malu.
"Kalau kau tidak mau menurunkan ku, aku akan tidur di kamar Gerald malam ini," ancam Amanda begitu lirih namun, penuh penekanan.
Patuh! Dengan segera Gio menurunkan tubuh Amanda saat keduanya telah berada di depan pintu masuk. "Kau menang, nyonya"
__ADS_1
Huh! Amanda menghembuskan nafas lega.
Gio terkekeh melihat wajah Amanda yang begitu menggemaskan, jika bukan karena ancaman itu, dia sangat ingin kembali merasai rasa manis bibir itu.
"Kak dimana Bella?" tanya Amanda saat dia sudah ada di dalam dan melihat sekeliling kafe namun, wajah gadis itu tak terlihat dimana pun.
"Dia ruangan atas. Kami ada meeting untuk membahas kerja sama perusahaan kita. Tapi, ini sudah jam makan siang, jadi kami mau makan siang dulu," terang Salman sambil menyerahkan Gerald pada Gio namun, bayi mungil itu justru semakin erat menggenggam jas yang dikenakan ya. Lalu ia beralih pada Amanda, bayi mungil dalam dekapan Salman seolah enggan untuk berpindah.
"Sepertinya Gerald masih merindukan kakak. Biar aku yang lihat dia ke atas," nego Gio dengan mengelus lembut kepala Gerald dan beralih mencium kening Amanda.
Tanpa menunggu persetujuan Salman, Gio langsung membalikkan badan dan menaiki anak-anak tangga. Dia harus tahu motifasi gadis itu mendekati kakak nya. Dia ingin kakaknya mendapatkan gadis baik-baik, dan dia tidak yakin pada gadis itu.
****
Nah loh, kok belum ada tanda-tanda akan kebersamaan Adinda dan Salman?
Awalnya konfliknya memang tentang kak Salman. Belum masuk konflik Adinda.
Setelah pecah konflik akan ada ******* pertama. Nah, itu lah baru awal cerita yang sebenarnya.
Terima kasih, untuk yang masih setia menemani otor labil ini hingga judul ini. Makasih banget. Lope ๐
Seperti judul - judul sebelumnya, untuk UP aku emang sering ga jelas, mohon maaf. ๐
Tapi aku selalu sempetin buat nulis selalu. Kalo jumlah katanya udh memenuhi pasti aku UP.
Happy reading. โค๏ธ
__ADS_1