Mommy Dara

Mommy Dara
PART 19


__ADS_3

Sepeninggal Jerico pintu itu kembali tertutup, hingga setelah beberapa menit pintu ruangan itu kembali terbuka.


Salman yang telah selesai menekan tombol otomatis di bawah ranjang untuk membuat pasien lebih nyaman duduk berbaring di ranjang itu menolehkan wajahnya untuk melihat sosok yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.


Adinda yang sudah menutup rapat pintu itu, merotasikan tubuhnya dan wajah gadis kecil yang sedang duduk menatapnya di atas ranjang membuat kedua kelopak matanya terangkat dan kedua matanya melebar.


Dengan senyum semringah dia berlari kecil menuju ranjang dimana pasien itu berada.


Salman memilih menyingkir dan berdiri di depan ranjang.


"Gisela... Kau sudah sadar. Ya ampun, syukurlah... Akhirnya kau bangun juga."


Adinda langsung merengkuh tubuh Gisela dalam pelukannya setelah ia meletakkan rantang bekal bawaannya dan duduk di pinggir ranjang.


"Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?" tanyanya tanpa melepas pelukan itu.


"Badanku sakit semua, kau terlalu erat memeluk ku, aunty." jawab Gisela yang seolah menolak pelukan itu. Walau sebenarnya ia sangat senang aunty nya terlihat begitu mengkhawatirkan nya.


"Ah iya maaf. Aku sangat senang kau sudah sadar dan baik-baik saja. Kau pingsan selama dua hari. Mana ada orang pingsan selama itu." sesal Adinda sambil mengurai pelukannya.


"Pingsan? Dua hari?" Gisela mengulang kata yang di ucapkan Adinda dengan rasa tak percaya.


Dia memindahkan pandangan pada Salman. Uncle nya adalah orang yang paling ia percaya. Dan Salman menjawab tatapan Gisela dengan anggukan kepala.


"Jadi benar semua itu kemaren hanya mimpiku?" gumam Gisela dengan wajah berbinar.


"Memangnya apa yang ada di mimpimu?"


Gisela beralih menatap Adinda. "Kau tidak perlu tahu apa mimpiku,"

__ADS_1


Adinda yang menunggu jawaban Gisela berdecak kesal mendengar apa yang di katakan gadis kecil itu.


"Kau itu memang benar - benar menyebalkan. Aku menyesal sudah mengkhawatirkan mu."


"Aku juga tidak memintamu mengkhawatirkan ku." Sanggah Gisela.


Salman yang berada di antara keduanya hanya menatap dengan senyum tipis di bibirnya. Meski keduanya sering berdebat dan berselisih seperti itu tapi ia dapat melihat kasih sayang yang terpancar di mata keduanya.


"Uncle aku ingin melihat mommy!" rengekan Gisela membuyarkan lamunannya.


"Tidak boleh!" pungkas Adinda.


"Aku baru saja menjenguknya sebelum datang kemari. Jadi, kau harus menunggu beberapa jam lagi untuk bisa menjenguknya kembali. Mba Anda harus banyak beristirahat jadi tidak boleh sering di kunjungi." Lanjut terang Adinda karena melihat tatapan menajam Gisela tertuju ke arahnya.


"Aunty mu benar. Lebih baik kau sekarang sarapan terlebih dahulu, karena kau juga butuh banyak nutrisi dan banyak istirahat agar kau cepat pulih." ujar Salman memberikan nasehat.


"Aku tidak lapar. Aku mau—". Ucapan Gisela terhenti dengan suara celotehan yang berasal dari ponsel yang di pegang Adinda.


Gisela mencoba merebut ponsel Adinda namun, gadis itu lebih sigap dengan menjauhkan ponsel di tangannya.


"Kau mau lihat video terbaru adik bayi mu? Tentu saja tidak gratis nona," ucap Adinda dengan menaik-turunkan kedua alisnya dan tersenyum jahil.


"Ck kau itu. Kau mau apa?" ketus Gisela dengan masih mengulurkan tangannya di depan dada Adinda.


"Pertama, kau harus menyeka tubuhmu dan menyikat gigi lalu berganti pakaian."


"Baik," Gisela menurunkan tangannya dengan patuh.


"Kedua, kau harus memakan sarapan yang ku bawa,"

__ADS_1


Gisela menghela nafas jengah. "Ok," pasrah nya.


"Bagus," Adinda tersenyum penuh kemenangan.


Salman yang masih setia menjadi penonton ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat sikap Adinda yang merayu Gisela dengan cara memanfaatkan putranya.


"Aaww..." Rintih Gisela setelah melepas paksa jarum infus yang tertanam di punggung tangan kanannya.


Adinda yang hendak meletakkan ponselnya di nakas mengurungkan niatnya dan kembali berbalik mendengar rintihan Gisela.


Salman yang panik segera beralih ke samping ranjang untuk mengecek tangan mungil itu.


Karena terlalu panik Salman justru meraih tangan Adinda yang sudah lebih dulu menggenggam tangan Gisela.


Adinda yang menyadari tangan Salman sedang menggenggam nya, mendongakkan wajahnya untuk melihat sosok pria tampan yang ia lupakan kehadirannya sejak awal.


Kedua pasang mata itu saling menatap dengan selisih jarak kurang dari 10 cm. Tangan keduanya bahkan masih saling menggenggam meski tangan Gisela telah terlipat di dada.


"Uncle ingin menggenggam tanganku atau tangan aunty?" pertanyaan gadis kecil itu memutuskan tatapan Salman dan Adinda.


"Maaf maaf..." sesal Salman saat menyadari tangannya masih menggenggam tangan Adinda.


Adinda yang tidak bisa menutupi perasaan gugupnya hanya mampu menarik pelan tangan yang telah di lepas Salman. "Tidak apa-apa kak". Jawabnya sambil sekilas menatap wajah pria di hadapannya sebelum akhirnya menundukkan wajahnya.


"Kenapa kalian tidak menikah saja," seloroh Gisela.


"Mommy setuju," jawab Shalimar yang sudah berdiri di tengah ruangan sambil melihat pemandangan ke arah ranjang pasien dengan senyum di wajah yang semakin menambah kecantikan wanita yang tak lagi muda itu.


***

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2