Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
10. Pengakuan


__ADS_3

di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda Dandy pergi menemui Nathan untuk segera melaporkan semua hasil percariannya selama beberapa hari ini.


"tuan...!?"


"langsung saja! " perintah Nathan singkat.


"nama wanita itu Mika, ia adalah teman non Vivi sejak kecil tetapi karena suatu kejadian mereka juga sudah lama di pisahkan dan baru bertemu lagi di rumah sakit kemarin. saat kejadian itu Mika tiba tiba hilang dan hanya non Vivi yang berada di TKP hingga akhirnya ia hilang ingatan biar pun hanya sebagian tuan."


"terus ada kah seseorang yang berada di belakang wanita itu? yang menjadi otak dari rencana yang di jalankan Mika. "


" ya... tuan benar. ada satu orang dan ia katanya sangat mengenal non Vivi, Lina dan Mika dengan baik. bahkan Mika saat ini bertempat tinggal di alamat yang sama dengan orang tersebut!. "


"katakan!. "


"dia adalah seorang pengusaha club malam yang bernama Adit. "


Deg!


mendengar ucapan Dandy sontak membuat Nathan membeku. ia membulatkan matanya menatap ke arah Dandy dengan tatapan yang heran, Nathan pun menggenggam tangannya kuat kuat memberikan sebuah tinjuan ke arah tembok tepat di sebelah Dandy berdiri.


tinjuan yang di berikan membuat Dandy sedikit menghindar dengan perasaan yang berdebar kencang dan hanya bisa menundukan kepalanya saja melihat reaksi dari majikannya tersebut.


"cari tahu tentang Adit! siapa dia, usaha apa saja yang di miliki nya, kenapa dia bisa mengenal mereka ber tiga dan apa hubungannya."


Nathan pun kembali memberikan sebuah perintah untuk menyelidikinya lagi. sesaat setelah semua informasi yang terkumpul sudah di sampaikan kepada majikannya Dandy bergegas pergi untuk melaksanakan tugas yang di berikan kepadanya. mengerahkan semua bawahannya ke berbagai sudut kota.


*


*


Kembali ke Supermarket


Vivi menyadari kejadian barusan sudah membuat beberapa orang pengunjung supermarket tersebut menoleh ke arah mereka, dan mulai membicarakan tentang mereka ber dua berdebat di dalam supermarket itu. dengan segera Vivi berusaha mendorong troli nya yang sudah penuh dengan barang belanjaannya untuk menjauh dari Rina yang sedari tadi menatapnya dengan kesal.


Vivi pun hanya membalasnya dengan tatapan yang malas seketika membuang mukanya ke arah yang berlawanan. membuat Rina semakin geram ia menggenggam tangannya kuat kuat memegangi troli belanjaannya yang hanya terisi beberapa perlengkapan.

__ADS_1


"tunggu! dasar wanita sialaann!!


Rina berusaha mengejar Vivi dari belakang dan ia pun langsung menjambak rambut Vivi yang terurai, mendorong tubuhnya hingga Vivi terjatuh bersama troli belanjaannya.


membuat beberapa pengunjung membelalakkan mata menatap ke arah mereka dan berbisik membuat supermarket tersebut menjadi ramai orang yang ingin melihat kejadian tersebut.


Vivi menghela napas panjang mencari cari keberadaan kaca mata yang ia kenakan. tanpa mereka sadari dari arah yang berlawanan terlihat seorang pria yang tengah berjalan ke arah mereka, berjalan melewati Rina dan berhenti tepat di depan troli belanjaan Vivi .memberikan kaca mata yang ia temukan mengembalikannya pada pemiliknya.


"Ar..Artha.... pak Artha"


"apa... apa yang kamu lakukan di sini?. " tanya nya lagi.


Artha yang memang dengan sengaja mengikuti lajunya mobil Vivi yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka dari kejauhan akhirnya pergi menemui mereka berdua.


"kamu gapapa? ada yang luka?" sembari menyerahkan kata mata yang di cari cari oleh Vivi.


"oh... iya.. gapapa, hmm... ga ada yang luka juga, thanks ya sudah membantu."


"okey."


perasaannya pun kini sangat senang melihat wanita yang bersamanya saat ini adalah wanita yang selama ini mengisi kekosongan di hatinya. wanita yang dapat membuatnya begitu senang dan dapat membuatnya terpuruk langsung setelah mendengar ceritanya dari salah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit Zaftern tempat Vivi di rawat.


Artha mengajak Vivi untuk menemaninya makan makanan kesukaannya di salah satu restoran ternama di kotanya. yang terkenal dengan ciri khas steak yang enak dengan harga terjangkaunya. steak yang berada tepat di deretan tengah di pusat perbelanjaan itu.


mereka memesan beberapa menu, hidangan utama hingga penutup yang terkenal laris di resto tersebut. sambil menunggu mereka pun berbincang bincang penuh keceriaan. sesaat Vivi melupakan semua masalah yang tengah di hadapinya.


"Vii kamu.... sudah punya pacar? "


Deg!


tanpa basa basi Artha melintatkan pertanyaan yang membuat Vivi sedikit tercengang mendengarnya. Vivi tetap berusaha untuk tidak terlihat gugup saat di tanya.


"ha? "


"pacar? " tanya nya lagi memastikan.

__ADS_1


"iya pacar Vii! "


"belum... memangnya kenapa? "


mendengar itu sontak membuat Artha kegirangan mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sampai saat pelayan datang, membawakan nampan berisi makanan pelayan resto itu terkejut dan menggelengkan kepalanya karena hampir menumpahkan semua makanan yang ada di nampan tersebut. membuat Vivi tersipu malu dengan senyuman tipis yang terukir di wajah polosnya.


"andai kau tau Vii tentang semua perasaan yang ku pendam selama ini padamu! " gumamnya dalam hati sambil tersenyum lebar saat saling pandang dengan Vivi membiatnya jadi salah tingkah.


"Vii..? "


"iya... ada apa Artha? " tanpa sadar Vivi pun seperti sudah terbiasa memanggil namanya tanpa embel embel awalan Pak yang biasanya ia ucapkan ketika bertemu dengan Artha di dalam kampus.


"ehem... penampilanmu hari ini sangat cantik. "


"hmm... ku anggap itu sebagai pujian dan terimakasih. " Vivi membalasnya dengan senyuman yang lebar di wajahnya sambil sesekali melihat kearah yang lain, takut kalau ia terlihat salah tingkah di depan Artha karena ucapan yang memujinya tadi.


"aku, ingin mengakui sesuatu padamu. "


Artha pun mengambil inisiatif untuk memegang tangan Vivi lebih dahulu sebelum ia mengutarakan perasaan yang ia pendam selama ini.


"meng... apa...? meng...utarakan sesuatu? padaku? " tanya nya lagi memastikan.


"iya Vii padamu.! " Artha menatapnya lekat , ia tak peduli lagi mau di katain apapun yang terpenting saat ini adalah Vivi mengetahui tentang perasaannya saat pertama bertemu dan saat ini. tak peduli jawaban atau komentar apa pun yang bakal di dengarnya.


"katakanlah."


"aku... aku begitu mengagumi mu, aku menyukai mu Vii sudah sejak dulu sejak awal kita bertemu. "


" tapi... kita kn ketemu belum lama... " Vivi yang bingung dengan semua pengakuan yang di ucapkan Artha menatap matanya dalam berusaha mencari jawaban atas semua ungkapan Artha tadi


"baru satu bulan kamu jadi dosen Bahasa Indonesia di kampus itu. bagaimana bisa? "


"tidak Vii... jauh sebelum itu, sebelum aku dan kamu berada dalam satu kampus seperti saat ini aku sudah menyukaimu. apa kamu sudah lupa? "


"aku? lupa? " mendengar itu Vivi berusaha mencari jawaban dalam pikiran nya yang menjadi kalut. seakan akan memang ada sesuatu yang hilang dan entah apa itu.

__ADS_1


__ADS_2