
Keesokan harinya cuaca di kota S sangat cerah, matahari bersinar dengan terang menunjukan senyumannya di pagi hari. angin bertiup menembus sela sela dinding kaca kamar vivi kala itu.
vivi dikejutkan dengan sebuah bunyi telepon yang bertuliskan nomer tidak dikenal, vivi pun mengerutkan dahinya ia menimbang nimbang siapa gerangan kah yang menelpon menggunakan nomer pribadi tersebut.
tak lama kemudian "taakkkkk.... !"
sebuah batu yang terbungkus kertas putih pun mendarat tepat di depan matanya "ahhhh!!!astaga! " vivi pun terkejut dibuatnya. hampir saja batu itu mengenainya bila saat itu ia tepat berapa di tengah tengah kasur kesayangannya.
batu itu membuat sebuah celah yang cukup besar terlihat di sela sela kaca kamar vivi yang tertutup oleh tirai dan berterbangan karena tertiup angin. membuat sebagian sisi kamar itu menjadi sedikit berantakan akibat serpihan kaca yang pecah.
dari luar kamar terdengar suara bibi dan supir yang terus memanggil karena takut terjadi sesuatu di dalam sana.
"neng... suara apa itu? neng gapapa kan neng? neng jawab bibi, bibi khawatir!. bibi pun meneriaki dari luar dan melontarkan pertanyaan yang terus menerus. mencari penjelasan dari dalam sana.
dengn perasaan yang takut, serta bingung, vivi pun terdiam tak bisa melontarkan sepatah katapun. di pandanginya langit langit kamar ,dinding kaca jendelanya seperti sedang mencemaskan sesuatu.
"hmm.. a.. aku tak apa apa bi mira , pak kosim. kembali lah bekerja."vivi pun berusaha untuk tetap tenang sembari membukakan pintu, vivi memberikan sedikit senyuman tipis di ujung bibirnya.
" sungguh. aku tak apa apa bi! "
pungkas vivi singkat. dan raut wajah yang kaku.
jam pun berputar, setelah mendengar ucapan majikannya tersebut , bi mira dan pak kosim pun kembali menuju pekerjaannya masing masing. di sibukkan dengan rutinitasnya sehari hari.
hari semakin malam vivi pun bergegas memberikan perintah kepada pak kosim untuk membetulkan jendela kamarnya dan menggantinya dengan kaca yang baru.
vivi pun merebahkan tubuhnya sejenak. ia berusaha melupakan kejadian yang terus menimpanya sejak beberapa hari lalu. memejamkan matanya yang sudah sayu sedari tadi.
"kkriiiiing!!!! " kkriiiiing!!! alarm pun berbunyi menandakan hari sudah semakin siang, dengan wajah yang sumringah seolah olah tidak terjadi apa apa. ia pun bergegas menuruni anak tangga mencari cari dimana keberadaan mamahnya.
__ADS_1
"mah.. vivi boleh gak.hmm ...." dengan suara yang manja menyenderkan tubuhnya seketika di pelukan sang mamah.
mamah pun sontak memutar bola matanya menatap dalam mata anaknya tersebut. terlintas sebuah pertanyaan dalam benak sang mamah.
" vii.. kemarin kamu gapapa nak?apa yang terjadi?"
mamah pun menunjukan ekpresi kekhawatiran yang membuat vivi mulai tak tenang. takut takut kalau mamahnya akan panik dan jatuh sakit apa bila mengetahui kenyataannya.
"hmm.. gapapa mah, hanya ada sedikit masalah. tetapi sudah terselesiakan. " vivi pun menjawab dengan suara yang pasti, menunjukan ekpresi wajah yang gembira. "yakin...? pungkas mamah sambil menyipitkan matanya menatap kedua mata anaknya tersebut.
vivi pun bergegas berpamitan kepada sang mamah, ia tak mau berlama lama berada dekat sang mamah karena takut kekhawatirannya kembali muncul dan memicu berbagai pertanyaan dari sang mamah yang mengkhawatirkan anaknya itu.
jam sudah menunjukan pukul delapan tepat. vivi melajukan mobilnya secepat mungkin menuju kempus dimana ia menuntut ilmu.
melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju kelasnya. vivi di kagetkan dengan siraman air yang tiba tiba di jatuhkan ke atas kepalanya. seketika rambutnya pun menjadi basah.
" aduh. siapa sih! kalau buang air minum lihat lihat dong! jangan sembarangan! " dengan mata yang sedikit melotot vivi mencari cari seseorang yang sudah dengan sengaja menyiramkan air itu di atas kepalanya.
" rasakan itu! jauhi dia! "
suara tak di kenal itu semakin lama semakin mendekat. seketika ia melihat rina tepat di depan matanya yang memberikan senyuman sinis.
"dia? siapa maksut mu? " vivi pun melontarkan sebuah pertanyaan yang memicu kekesalan rina.
"tak usah basa basi! jauhi nathan! dia milikku! " rina pun menegaskan perkataan yang dari tanpa memperdulikan perasaan vivi yang rambutnya sudah basah oleh air.
vivi pun bingung dibuatnya, perkataan rina membuatnya berfikir bahwa setiap kejadian sejak kemarin adalah perbuatan nathan! "ya! itu pasti nathan! sok jadi pahlawan padahal dialah pelaku utamanya.! " gumam dalam hati
laki laki yang paling populer, kaya raya, wajah yang tampan lengkap dengan aura kepemimpinanya sekaligus seorang pebisnis muda,dialah Nathanael Standly. laki laki yang selalu jadi pusat perhatian.
__ADS_1
"aww! sakit! aku tak kenal dengan mu!"
rina pun langsung menunjukan ekpresi wajah yang marah dan pura pura menangis, seolah olah ialah yang menjadi korban kali ini.
"diam! dan turuti saja perkataanku! " rina pun langsung membungkam mulut vivi dengan tangannya sambil memelototinya.
vivi pun tidak tinggal diam diperlakukan seperti itu. ia membalas kembali perlakuan yang ia Terima tadi dengan cara yang sama, menyiramkan air dari botol minuman yang ia bawa dari rumah.
" rasakan itu! dan berhenti menggangu ku! " setelah menegaskan ucapannya vivi pun bergegas pergi meninggalkan rina sendiri melngkahkan kakinya secepat mungkin dan sejauh mungkin jadi jangkauan rina.
melihat kedatangan vivi, dina pun langsung datang menghampiri. "vii... ko lo basah gitu rambutnya? habis. . . . " belum selesai dina mengutarakan pertanyaannya vivi pun langsung memotong pembicaraan mereka seketika.
" habis. .... habis.... apa maksut lo?. " jawab vivi kesal.
"habisss. .... mal.. jum... mungkin heheheeee. " sambil minyipitkan mata dina pun berusaha mencairkan suasana dengan ucapannya.
"eeiitttt...! sembarangan! ni mal.... jum... buat lo! " vivi menepis tudingan dina dengan segera ia menyerahkan tumpukan berkas tugas yang harus segera di selesaikan.
dina pun membelalakan mata sambil menatap lekat tumpukan tugas itu. memasrahkn semuanya kepada vivi "ya... Tuhan... jangan lagi! " dina pun mengerutkan alis sambil menggenggam tangan vivi erat erat.
"eh.. eh... gak ada! ini tugas lo! " menegaskan kembali kepada dina dan tidak ada kata kompromi.
jam pun berputar dengan cepat mena'ndakan berakhirnya sudah pembelajaran hari ini.
vivi pun melajukan mobilnya secara perlahan, menikmati suasana di sore hari yang penuh dengan lalu lalang orang orang ramai.
sesampainya dirumah vivi memarkirkan mobilnya tepat di sebelah sebuah mobil mewah berwarna hitam. sambil memutar otaknya vivi pun berusaha berfikir siapakah pemilik mobil mewah tersebut.
berjalan terus menuju dapur dimana biasanya dijadikan tempat untuk vivi mengistirahatkan pikirannya dengan segelas ice cream strawberry. melirik ke arah jendela dapur vivi melihat disana kedua orang tuanya sedang bercengkramah dengan seseorang entah dari mana didampingi lengkap dengan kedua orangtuanya juga.
__ADS_1
"mereka.... siapa?
vivi pun hanya membuang nafas panjang dan melanjutkan aktivitasnya memakan ice cream kesukaannya tersebut.