Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
21. Lepaskan AKU!


__ADS_3

usaha yang terus dilakukan oleh Vivi akhirnya membuahkan sedikit hasil. karena Vivi berhasil melayangkan sebuah tamparan keras tepat ke wajah Albert saat itu. ia pun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis. jari jemarinya pun menghapus butiran Kristal yang menetes membasahi pipinya.


"rupanya tenagamu masih tersisa ya Sa.. yang... ku." mendapatkan sebuah tamparan malah membuat Albert kembali bersemangat untuk dapat menyematkan sebuah kecupan di pipi yang basah karena butiran kristal.


"hentikan! aku bilang hentikan! jangan dekati aku. jijik melihat tua bangka sepertimu berada di satu ruangan denganku! " jawab Vivi ketus.


Karena penolakan yang dilakukan Vivi membuat Albert pun menjadi murka. ia terlihat sangat marah karena perbuatan Vivi tadi. keinginannya yang belum terpenuhi juga membuatnya nekad untuk bersikap kasar kepada seorang wanita yang berada di hadapannya saat ini.


"aku akan melepaskanmu tapi dengan satu syarat. syaratnya mudah sekali. apa kau bisa melakukannya? "


"katakan apapun itu aku ingin bebas! lepaskn aku. aku mohon lepaskan. " tangan Vivi pun terlipat ke atas memberikan isyarat memohon kepada Albert agar bisa dibebaskan.


"bisa saja kau bebas sekarang. tapi syaratnya harus kau turuti dulu. " jawabnya sambil tersenyum menyeringai.


"katakan apa syaratnya itu? "


"BUAT AKU PUAS SILVIA! PUASKAN AKU DIRANJANG EMPUK ITU! HAHAHA.... "


setelah mendengar jawaban Albert tubuh Vivi pun gemetaran begitu hebat. pikirannya pun menjadi kalut, wajahnya sudah terlihat pucat saat ini. hatinya pun hancur seketika yang tadinya ingin memaafkan semua perbuatan ketika ia sudah di lepaskna hidup-hidup namun permintaan yang dibuatnya menjadi hal mustahil yang bisa Vivi berikan selain kepada suami sah nya kelak.


"berhentilah berharap jika permintaanmu hanya untuk agar aku melepaskanmu!"


"kau gila! AKU TAK SUDIH TIDUR DENGAN TUA BANGKA SEPERTIMU! TUA BANGKA MENJIJIKAN! "


PLAK!


"berani sekali kau memanggilku tua bangka! sini! akan aku buktikan yang kau sebut tua bangka sepertiku dapat membuat seorang wanita sepertimu bertekuk tulut di hadapanmu setelah aku memberikannya sebuah kenikmatan! "


"aaa... jangan... jangan... LEPASKAN! aku mohon lepas... kan! "


tanpa memerdulikan ucapan Vivi yang sudah terbaring lemas karena mendapatkan sebuah tamparan lagi. Albert pun mengikat tangannya dengan sebuah kain dan mengangkatnya keatas. dengan begitu Albert bebas memandangi wajahnya dari ujung kepala hingga ke perut.

__ADS_1


pakaian itu pun sedikit terselip keatas memperlihatkan bagian pusar Vivi lekuk tubuh Vivi pun terlihat seketika membuat darah yang mengalir di dalam tubuh Albert menjadi mendidih terasa sangat panas rasanya sangat ingin ia menumpahkan semuanya kepada wanita yang sekarang bersamanya di ranjang.


"cantiknya wanitaku. hari ini aku berjanji padamu akan memberikan sebuah kenikmatan yang akan membuatku ketagihan yang tidak akan bisa dinikmati oleh wanita yang lainnya."


dengan tatapan yang mendamba ia begitu menginginkan wanita yang berada bersamanya saat ini menjadi wanita pertama yang akan ia berikan semua bibit dan memuaskan keinginannya. Albert mulai mengecup mulai dari kening turun ke hidung dan pipi lalu turun kembali. namun saat ingin melanjutkan perbuatan kejinya Albert dikejutkan oleh suara ketukan di pintu yang menandakan tentang keberadaan seseorang dibalik pintu.


tok! tok! tok!


"siapa? " Albert pun menoleh kearah pintu yang diketuk.


"aku... aku tuan. " dengan suara sedikit bergetar.


"tinggalkan saja didepan pintu kalau ada pesan! aku sedang sibuk saat in! "


"ini penting tuan. maksudku... berita penting! " pelayan itu pun menjawabnya ketakutan.


"aku sudah bilang tinggalkan saja pesannya didepan pintu akan ku baca nanti! aku sedang sibuk! " tanpa memerdulikan permintaan pelayannya yang berada diluar pintu. Albert melanjutkan aksinya dengan terus membuka kancing baju yang dikenakan Vivi.


karena merasa terganggu Albert pun menghentikan perbuatannya lalu bangkit menuju pintu tersebut dan dengan hanya mengenakan sebuah handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


krieett!


"sudah aku bilang jangan..... " belum selesai Albert berbicara ia pun sudah dikejutkan dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut bagian yang membuatnya terpental cukup jauh.


Albert pun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman karena merasakan sakit akibat tendangan itu.


"dimana kau sembunyikan dia! "


"dia? dia siapa?nada bicaranya sopan sekali kepada orang yang lebih tua dari mu bocah!cuih...! "


Nathan tak memperdulikan ucapan Albert pandangan matanya terus menelisik ke setiap sudut ruangan itu. pandangannya pun mulai tertuju saat mendengar sebuah suara yang keluar dari balik tirai yang menutupi sebagian dari sisi ranjang. Nathan dengan segera menghampiri suara tersebut dan melihat kondisi Vivi yang kacau.

__ADS_1


dengan segera Nathan melepaskan jas yang dikenakannya lalu menutupi tubuh Vivi dengan jas tersebut.


"SILVIA! SADARLAH SILVIA! " dengan suara yang sedikit tinggi Nathan berusaha membuat Vivi sadar. namun Vivi tak kunjung sadar ia terlihat begitu pucat dengan beberapa luka memar di wajahnya. membuat Nathan semakin naik pitam ingin sekali Nathan membunuh laki-laki yang sudah berani membuat wanita yang sangat berharga baginya menderita sampai seperti ini.


bagi Nathan mungkin membunuhnya saja tak akan cukup karena semua siksaan dan tekanan selama ini yang dirasakannya juga dirasakan oleh semua orang termasuk keluarganya yang mengetahui kejadian dimasa lalu.


"tuan. lebih baik kita segera pergi melihat kondisi Vivi yang tidah bagus." Dandy pun berusaha membuat majikannya tersebut menjauh dari masalah yang akan segera terjadi apabila tidak dihentikan dari sekarang.


"tunggu! aku akan membunuhnya lebih dahulu! kau bawa SILVIA kembali ke mobil! dan jaga di baik-baik! suruh anak buahmu naik kesini menjaga pintu dan ikat laki-laki itu. akan ku buat dia menderita karena telah berani mengusik ketentraman wanitaku! " jawab Nathan dengan tatapan membara dan siap melahap siapapun yang telah membuat semua orang menderita.


"tapi tuan...? "


"cepat pergi ku bilang! jangan buat aku mengulangi kata-kata ku! " jawab Nathan tegas.


Dandy pun segera menggendong Vivi menuruni tangga menuju kedalam mobil. sesaat sebelum menuruni tangga Dandy memerintahkan anak buahnya untuk berjaga jaga di pintu dan dua orang masuk kedalam kamar.


"HAHHAA.... SIALAN KALIAN! DATANG.... "


BUGHH!


BUGHH!


BUGHH!


tinjuan demi tinjuan pun diarahkan ke bagian wajah, dada, dan kepalanya tanpa henti membuat sekujur tubuh Albert dipenuhi oleh luka kebab darah yang terus mengalir dari beberapa bagian luka yang terbuka.


"aahhh! konyol sekali anak kecil ini berani membawa wanitaku... " suaranya pun mulai terdengar terputus-putus namun dapat didengar jelas oleh Nathan. tak ada satu katapun perkataan meminta maaf yang terlontar dari mulutnya saat itu. hanya terdengar suara napas yang memburu dan suara lirih yang hampir tak terdengar oleh orang lain yang berada sedikit lebih jauh dari mereka.


saat Nathan hendak menusuknya sebuah pisau kearah dada Albert. bawahannya pun menghentikan aksi tersebut karena amanat yang diberikan oleh Dandy.


"jaga tuanku! jangan sampai tua bangka itu bener benar mati oleh tuanku! lakukan segara cara menghentikannya . dan kalian urus tua bangka itu ditempat lain. "

__ADS_1


"Vivi!


__ADS_2