Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
12. Sebuah Kecupan


__ADS_3

Matahari bersinar terang di pagi hari menerangi seluruh permukaan yang tertutupi oleh embun. dedaunan tertiup oleh semilir angin yang masuk lewat celah celah cendela, bubur pipit pun bernyanyi dengan riang. jam menunjukan pukul tujuh pagi


Kring... kring... kring...


"Vii... Viviii...VIVI!!!" teriak Mamah.


"eh.. iy.. iya Mah ada apa? masih jam berapa ini?.


" idih... anak gadis ko bangunnya siang sih! tu di bawah sudah ada yang nungguin. "


Deg!


"si.. siapa mah? "


"cie... katanya bukan siapa siapa tapi ko dia rela nungguin kamu sih Vii?


seketika wajahnya pun menjadi merah dengan rambut yang berantakan memakai pakaian tidur tanpa sadar Vivi langsung berlari ke bawah melihat pundak yang tegap yang di miliki seseorang dari belakang di balut kemeja yang berkerah membuat jantung nya semakin berdebar.


"Ar.. Artha...! "


"Hai Vii... selamat pagi? "


Artha membalasnya dengan sebuah senyum lebar , Vivi yang sedari tadi menjadi mematung ketika melihat orang tersebut adalah Artha hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"hmm.. itu.... ada.. ada apa ya? pagi pagi sudah kemari? "


"ya Tuhan!!! Vivi apa yang kamu lakukan!!! dasar bodoh!!! " gumamnya dalam hati.


"ayo.. kita ke kampus bareng? " jawab Artha dengan lemah lembut.

__ADS_1


melihat pantulan wajah nya dari balik kaca Vivi pun Membelalakkan mata nya karena terkejut. rambut yang berantakan pakaian tidur yang di gunakan melihat itu semua membuat Artha terkekeh kecil.


"Viviii... penampilanmu bagaimana!! cepat mandi!!! " teriak Mamah sambil menuruni anak tangga satu persatu.


"iy... iyaa Mah. " jawab Vivi sambil berlari menarik anak tangga menuju kamar mandi yang letaknya berada di dalam kamar tidurnya.


"hmm... maaf ya nak.. Tante tidak tahu harus ngomong apa soal penampilan Vivi tadi , tolong di maklumi ya?."


"iya... gapapa ko Tan, saya hanya bisa berharap kita bisa lebih akrab ke depannya. "


"oiya.. Tantee bisa panggil dengan sebutan apa ni pak dosen?. "


"jangan seperti itu Tante, cukup panggil saya Artha saja sama seperti Vivi. "


"kalau boleh Tante tanya nak Artha ada hubungan apa dengan Vivi? Vivi itu manja loh dia di depan memang terlihat tanggung tapi di delakang cengeng. "


"hanya teman Tante, tapi mungkin akan berlanjut kalau saja Vivi mengizinkan. "


Bu Riri pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu di antara mereka berdua. membuat nya teringat akan masa lalu di antara ia dengan suami nya yang pernah terjadi hal yang sama seperti Vivi saat ini. susah senang mereka lalui bersama sama layaknya anak muda yang sedang berbunga bunga satu dengan yang lain nya.


"ehem... kaya nya... ada yang salting nih... "


"eh.. iya Tan... eh.. tidak Tan hanya terpesona aja dengan.... " Artha pun hanya mampu dengan menggeleng gelengkan kepalanya menatap nya dalam dan penuh damba. ingin rasa nya perasaan yang ia pendam meledak seketika bagaikan bom atom yang akan mengguncang seluruh jagat raya.


"nah loh... " Bu Riri terkekeh kecil.


"ih.. Mamah apa sih. udah ayu kita berangkat. "


"iy... iya say.... eh maksut nya Vii... "

__ADS_1


"hahaha..... " Bu Riri pun tertawa karena ucapan yang di lontarkan oleh Artha.


seketika wajah Vivi pun memerah mendengar godaan dari sang Mamah, memutuskan untuk segera pergi tanpa ia sadari tangan nya sudah menggandeng erat tangan Artha dengan cara berlari ke arah pintu.


sesampainya di tempat parkir Artha segera melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan tanpa Vivi sadari tangannya pun masih menggenggam erat tangan Artha membuat Artha tersenyum kegirangan melihat tingkah laku Vivi yang sedari tadi menatap nya bingung. menyadari itu Vivi melepaskan genggamannya dan segera menoleh ke arah yang lain agar merah di wajah nya tak terlihat oleh Artha.


"ehem... ehem..." suara Artha dengan sedikit penekanan.


"batuk? mau minum dulu? menepilah sudah jauh dari rumah ku. "


Artha hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan tangan nya memberikan sebuah belaian tepat pada rambut ikal yang terurai milik gadis yang bernama Vivi. sentuhan yang berulang ulang itu membuat hati nya semakin bergetar gejolak hati nya semakin membara ingin rasanya mengeluarkan semua perasaan yang sudah di pendam nya yang dapat meledak sewaktu waktu, namun tertahan karena ia teringat tentang gelar yang Artha sandang saat ini.


sesampainya di kampus Artha mengajak Vivi untuk bersama sama turun dari mobil yang ia tumpangi, namun keraguannya muncul seketika melihat mobil yang terparkir tepat di samping mobil Artha adalah Mobil milik Rina. wanita yang sangat membenci nya karena pria yang sangat ia cintai lebih memilih Vivi dibandingkan dengan Rina sendiri . sedangkan sekarang seseorang yang ingin menggandeng tangan Vivi tidak lain adalah salah satu Dosen terpopuler di kampus nya ynag akan membuat kejadian itu terulang kembali.


akan banyak pasang mata yang akan memandang ke arah nya, bertutur kata yang kasar dan bersikap kasar pada nya setelah mengetahui kedekatan nya dengan dosen yang sangat di idolakan di kampus nya.


"Vii... ayo kita turun. " Artha pun tersenyum sembari mengulurkan tangan nya ke arah Vivi.


"hmm... pak bisa tidak kedekatan kita yang seperti ini di luar dari kampus. saya takut kalau ada yang melihat kita mereka akan salah paham dan saya nanti yang terkena dampak nya kalau para pengagum bapak sampai tahu kita dekat walau pun belum lama.


" bilang pada ku siapa yang akan mencelakai mu! aku akan maju menghajar nya akan ku buat dia menerima semua akibat nya telah berani membuat wanita ku menjadi ketakutan seperti ini. siapa katakan."


"tidak tahu siapa tapi jangan sampai ada korban saja sudah bersyukur pak. tolong jaga rahasia kita ya pak. janji loh pak "


"iya sayang aku janji rahasia kita akan aman sampai maut memisahkan. aku sayang pada mu Vii. " sebuah kecupan manis pun akhir nya mendarat tepat di kening Vivi membuat nya mematung seketika karena terkejut oleh sikap hangat yang di berikan Artha pada nya.


"jangan pak.. nanti di lihat orang di kira nya kita pasangan mesum lagi.! " sedikit menggenggam tangan nya saat menerima sikap hangat yang tiba tiba di berikan membuat Vivi ingin sekali mengomeli orang yang memberi nya sebuah kecupan tadi.


"tak apa kan... kalau ada yang melihat syukur kita bisa seger adi nikah kan.! "

__ADS_1


"Pak Artha!!! " teriakan Vivi membuat Artha semakin kegirangan ia pun tertawa lepas karena tingkah lucu yang di lihat nya tadi. Vivi pun baru melihat bahwa ketika dosen nya tersebut tertawa seperti itu ke tampanan nya pun tak pudar bahkan menambah ke tampanan nya menjadi perfect di mata Vivi.


__ADS_2