Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
25. dasar licik!


__ADS_3

setelah lelah akhirnya Vivi pun menyerah karena tenaganya sudah terkuras habis. mencoba segala macam cara agar terlepas dari pelukan itu namun tetap tak membuahkan hasil apa-apa.


dari arah yang berbeda terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat. mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak bukan adalah Nathan.


ya Nathan setelah Bu Riri mendengar semua ucapan Artha tentang curahan isi hatinya ia langsung menelpon Nathan dan memintanya untuk segera datang menemui Vivi di rumahnya. Bu Riri takut kalau anak perempuannya nanti terlalu jauh terjerat dalam jalinan kasih yang tak seharusnya. tak ingin anak gadisnya tersebut salah memilih siapa yang harus bersamanya dan siapa yang harus dijauhinya. ia ingin yang terbaik untuk anak perempuannya tersebut.


"ehem... " tanpa basa basi Nathan langsung menarik tubuh Vivi agar terlepas dari pelukan yang disematkan oleh Artha. menariknya perlahan namun pasti dan membalikkan tubuh ramping itu bersembunyi yang saat ini telah berada tepat di belakang tubuh kekar miliknya.


"cih! ada keperluan apa jauh-jauh datang ? apa kau tak punya tugas kuliah yang harus dikerjakan Nathan? "


"aku tak perlu menjawab pertanyaanmu. aku hanya ingin memastikan wanita... " belum selesai Nathan berbicara. perkataan itu sudah di potong oleh Artha dengan sengaja.


"wanita ku! bukan wanitamu dia milikku hanya milikku! " setiap kata diulangnya dan penuh dengan penekanan.


setelah mendengar perkataan Artha yang langsung membuat dadanya terasa sesak sesaat. rasa kesal dan amarah yang mulai bergejolak tangannya menggenggam erat seolah ingin memberikannya sebuah pukulan keras yang akan dilayangkan nya kepada laki-laki yang telah membuat wanita pujaannya tersebut merasa sedih.


"diam kau! dia bukan milikmu! antara kalian tak ada hubungan apa-apa!" Nathan menoleh ke arah Vivi dengan pandangan yang serius untuk meminta jawaban atas pertanyaannya barusan.


melihat tatapan Nathan seperti seekor singa yang siap melahap mangsanya tubuh Vivi pun menjadi gemetaran dibuatnya. "aku... aku tak ada hubungan apa-apa dengannya antara kita... hnya sebatas teman dan dosen."


"bagus!" Nathan pun tersenyum lebar yang memperlihatkan barisan gigi yang putih bersih tertata rapih. terlihat sumringah dan bersemangat setelah mendengar jawaban Vivi tadi.


ekpresi yang di tunjukan oleh Nathan seketika membuat Vivi menjadi sedikit salah tingkah. dadanya terasa berdebar begitu cepat dan aliran darah yang mengalir membuat rona merah di pipinya.


Vivi tak tau mengapa dadanya berdebar begitu cepat setelah melihat ekpresi Nathan tadi. Laki-laki yang sangat dibencinya selama ini laki-laki yang telah membuatnya menderita laki-laki yang sangat ingin dijauhi olehnya malah datang untuk memenangkan hatinya dari laki-laki yang lain yang ingin mendekatinya.

__ADS_1


"Vi... beri aku kesempatan untuk menjelas... " belum selesai Artha berbicara Nathan dengan sengaja mendorongnya hingga Artha jatuh terduduk.


melihat Artha yang terjatuh Nathan pun memperlihatkan sebuah senyuman tipis di ujung bibirnya. menarik Vivi masuk kedalam pelukannya dan menyematkan sebuah ciuman singkat di bibir wanita pujaannya tersebut.


ciuman itu sontak membuat seorang Silvia membelalakkan matanya karena terkejut. seperti tersengat lebah ciuman itu begitu mengejutkannya membuatnya tak bisa berkata kata. begitu pula dengan Artha yang mengeratkan gigi dengan tangan masih mengepal kencang setelah melihat perlakuan Nathan kepada Vivi.


tak butuh waktu lama Artha segera bangkit dari duduknya dan langsung menarik kerah kemeja yang di pakai oleh Nathan. mengepalkan tangannya bersiap untuk mendaratkan sebuah pukulan keras tepat ke arah Nathan. namun Nathan berhasil menghindari pukulan tersebut dengan kembali mendorong Artha hingga memundurkan langkah kakinya.


"kurang ajar sekali kau Nathan! "


" BUGHH!"


" BUGHH!"


Nathan hanya bisa meringis kesakitan setelah mendapatkan sebuah pukulan yang mengenai sudut bibirnya. membuat sebuah cairan berwarna merah seketika keluar begitu saja. sebelum perkelahian mereka berlanjut Vivi sudah berada di tengah-tengah di antara mereka saat ini. meminta baik-baik kepada Artha dan Nathan untuk tidak memperpanjang masalah yang telah terjadi.


"hentikan! jangan ada yang mendekat! kalian berdua sama saja! tolong tinggalkan rumah ini sekarang juga sebelum aku menelpon polisi karena keributan yang kalian lakukan dirumahku. "


"Vivi...aku... "


"PLAK!! "


sebelum Nathan menyelesaikan ucapannya Vivi sudah lebih dahulu mendaratkan sebuah tamparan yang tepat mengenai wajahnya. membuat kedua pria itu sama-sama menatapnya bingung.


"dasar brengsek!" setelah menampar Natha Vivi pun pergi meninggalkan mereka berdua dengan berlari kecil. pergi dengan butiran kristal bening yang terus mengalir tanpa henti membasahi pipinya.

__ADS_1


"aku membencimu Nathan! sangat membencimu! " gumamnya dalam hati.


betapa terkejutnya Vivi mendapatkan perlakuan yang menurutnya sangat tidak sopan itu yang didapatkannya dari seseorang yang dulu pernah menjadi teman kecilnya teman dekatnya sekaligus yang pernah mengisi kekosongan dihatinya. namun setelah kejadian yang menimpa mereka semua status teman tersebut berubah seketika menjadi permusuhan yang tiada akhirnya hingga saat ini.


dadanya kini terasa begitu sesak membuatnya kesulitan untuk menghirup udara yang sama dengan orang yang begitu dibencinya. lehernya seperti tercekik jika memikirkan perbuatan yang dilakukan oleh Nathan kepadanya tadi.


ingin sekali Vivi berteriak keras meluapkan semua emosinya yang terpendam selama ini. kini ia bingung tidak tau harus berbuat atau bersikap seperti apa dan bagaimana di depan dua pria yang sekarang sedang memperebutkan nya.


sudah seperti boneka yang diperebutkan oleh anak kecil karena terlihat begitu cantik dan menarik penampilan yang begitu memukau memikat mata anak-anak kecil tersebut.


dihalaman rumah setelah mereka berdua melihat kepergian Vivi. Nathan pun memberikan Artha sebuah tinjuan yang ia sematkan di area dagu. Artha tak dapat mengelaknya karena Nathan membuatnya terkejut. seketika Artha pun terjatuh dan terbatuk-batuk karena tinjuan yang diberikan Nathan kepadanya.


"hahaha... brengsek!


" diam kau! dan segera pergi dari sini! karenamu pekerjaanku terbengkalai dan membuat wanitaku kecewa! "


"seharusnya yang berkata begitu adalah aku! AKU! DAN DIA WANITAKU! KAU PAHAM TIDAK KATA-KATAKU ANAK KECIL! "


"Bughh!


"Bugghh!


mendengar itu Nathan pun tersulut oleh amarahnya sehingga ia tak henti-hentinya memberikan pukulan yang bertubi-tubi kepada Artha saat itu. Artha kalah telak karena tenaganya sudah habis akibat menerima semua penolakan dari wanita pujaannya. ia tak berniat membalas perlakuan Nathan kepadanya ia hanya memulas sebuah senyuman tipis di ujung bibirnya dan berkata " kau lemah Nathan! kau sudah kalah dengan ini aku mendapatkan Silvia! hahaha.... " Artha pun tertawa puas setelah mengutarakan nya kepada Nathan


sedangkan Nathan menjadi semakin emosi mendengar setiap ucapan Artha saat itu. ingin sekali membuatnya musnah seketika dari pandangannya namun tak akan semudah itu menyingkirkannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2