Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
24. kesempatan


__ADS_3

setelah mengangkat dan mengetahui siapa penelpon tersebut Vivi menjadi semakin kesal karena sudah berulang kali menolaknya tetapi orang tersebut tetap berusaha untuk menghubunginya.


meminta bertemu dan mengatakan kata-kata yang sangat dibenci oleh Vivi. Kata-kata maaf dan cinta bagi seorang Silvia saat ini hanyalah sebuah kebohongan bagi siapapun yang percaya akan ucapan itu.


"untuk.... untuk yang terakhir Vi aku mohon padamu beri aku kesempatan. aku ingin mengatakannya langsung padamu. "


"oke. katakan sekarang ada apa? " tanpa basa basi Vivi pun menegaskan kata-kata nya.


"aku ingin mengatakannya langsung bukan melalui telpon. aku... " belum selesai Artha berbicara namun sambungan telponnya sudah diputus oleh Vivi tanpa memperdulikan perkataan Artha yang sebelumnya.


Vivi pun bergegas bangkit menjauhkan benda pipih itu dari pandangannya. namun, sesuatu yang tak diduga telah muncul. orang yang ingin sekali di hindarinya kini muncul kembali tepat dihadapannya. setelah menekan belum cukup lama akhirnya Artha di perbolehkan untuk masuk kedalam rumah kediaman keluarga Lee demi menemui wanita pujaannya.


sebelum mempertemukan Artha dengan Silvia sang Mamah pun sudah berpesan terlebih dahulu dengannya. "semua keputusan ada pada Vivi ya nak Artha. Mamah dan keluarga hanya bisa mendukung saja tidak dapat ikut campur lebih dalam kalau menyangkut urusan perasaan dan hati. jadi tidak bisa memberikan komentar apapun. " jawabnya sambil tersenyum.


"hmm... iya tante gapapa saya paham maksud tante. saya hanya berharap bisa meluruskan semuanya dengan Silvia supaya tidak ada kesalah pahaman. saya... saya sangat mencintai anak tante saya menyayanginya mencintainya sepenuh hati."


mendengar semua ucapan Artha membuat senyuman yang terukir diwajah sang Mamah tadi kini berubah dan hilang begitu saja. raut wajahnya pun berubah menjadi raut wajah yang tak suka.


"hmm.. nak Artha tunggu sebentar ya, tante panggilan Silvia. " tanpa menunggu jawaban dari Artha sang Mamah pun langsung pergi meninggalkan nya sendiri.


Artha pun hanya bisa berdiri mematung melihat tingkah laku Bu Riri yang sepertinya tidak suka dengan kehadirannya dirumah itu. semua kata-kata yang ia ucapkan barusan sepertinya sudah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan membuat Bu Riri menjadi tidak nyaman mendengar ucapannya.

__ADS_1


tok! tok! tok!


"siapa? "


"Mamah nak. boleh Mamah masuk? " sambil tersenyum kecut.


"boleh Mah ada apa? apa telah terjadi sesuatu lagi? ada apa Mah katakan padaku? " tanyanya lagi kemudian.


"dibawah ada laki-laki yang kemarin dosen kamu itu. kalau kalian lagi marahan jangan bawa-bawa Mamah dong sayang. "


"ih! siapa juga yang marahan siapa juga yang pacaran sih Mah?! "


"e.. e... e... Mamah kan gak bilang kalian pacaran. Mamah juga ngomong dibawah ada dosen kamu yang namanya Pak Artha. hayooo kamu ada hubungan spesial ya sama dia? "


"sudah temui dia takut kelamaan dibawah kasian anak orang nungguin princess Silvia. " tangannya pun mengusap lembut rambut anak perempuannya tersebut sambil tersenyum lebar.


"hmm... " Vivi pun hanya menjawabnya dengan mendehem tak ingin sang Mamah mengetahui kekesalan yang sedang dirasakannya Vivi pun hanya bisa menuruti semua permintaannya dan melangkahkan kakinya dengan malas.


setelah melihat Vivi yang berada tepat diambang pintu. Artha pun menghampirinya dan tangannya hampir menggapai tubuh ramping Vivi. ingin sekali rasanya memeluk erat mendekapnya dalam pelukan yang begitu hangat yang dapat mendamaikan hati. namun saat ingin meraihnya lebih dekat Vivi memundurkan langkahnya dengan cepat.


"lebih baik kita bicara diluar. " saat kembali bertemu dengan Artha Vivi pun tampak enggan memandangnya. ia hanya memalingkn wajahnya ke arah yang berlawanan dan melangkahkan kakinya segera menuju halaman rumah.

__ADS_1


Artha hanya bisa memandangnya dari kejauhan tanpa bisa berbuat sesuatu yang dapat membuat wanita pujaannya tersebut memaafkan semua kesalahannya. mengikuti setiap langkah kakinya dari belakang saja sudah dapat membuat hatinya berdebar tak karuan.


sesampainya dihalaman rumah Artha langsung menggenggam erat tangan Vivi tnpa melepaskannya sedetikpun namun Vivi menarik tangannya kuat-kuat hingga membuatnya sedikit memundurkan langkahnya demi melepaskan genggaman tangannya dari Artha saat itu.


"aku tau aku salah tak menjelaskan apapun dari awal padamu tapi aku mohon dengarkan aku dulu Vi. aku sangat mencintaimu dari dulu hingga saat ini aku mohon percayalah padaku. " dengan wajah yang memelas Artha berusaha untuk menyakinkan Vivi dengan semua ucapannya.


"apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar tidak sesuai! semua ucapanmu itu palsu kebohongan yang selalu ditunjukan kata-katamu! "


"semuanya sudah aku katakan sejujurnya padamu. aku mencintaimu Silvia! sangat mencintaimu aku ingin... " belum selesai Artha berbicara Vivi memberikan sebuah tamparan yang diarahkan tepat ke wajah Artha saat itu.


"jaga ucapanmu! semudah itu kamu berkata cinta? sayang? kamu pikir aku ini apa. boneka? kamu itu sudah punya tunangan Artha! tunangan! " setiap kata yang diucapkan oleh Vivi penuh penekanan.


"aku... aku terpaksa Vi itu semua permintaan orang tuaku! tapi itu semua bukan yng aku mau. aku hanya mencintaimu Silvia hanya kamu wanita itu. "


"tak akan ada kesempatan. aku tak mu menjalin hubungan dengan orang yang sudah bertunangan aku tidak mau merusak kebahagiaan wanita lain Artha! kamu harus mengerti itu! lupakan aku dan jalani kehidupanmu yang normal seperti sebelumnya anggap saja kita pernah berteman jauh. "


Artha pun terus memohon dan mencoba berbagai cara agar dia diberi kesempatan untuk memperbaiki semua dan memperjelas statusnya di antara mereka. yang dirasakannya saat ini adalah hatinya terasa sedikit kecewa dengan semua penolakan yang diberikan oleh Vivi. kini Artha ingin meminta bantuan Bu Riri namun sudah jelas Bu Riri pasti menolaknya. ia sudah memperjelas bahwa semua keputusan ada pada Silvia bukan pada keluarganya hanya saja menurut Artha keluarga Vivi sepertinya enggan menerima dirinya sebagai bagian dari keluarga itu jika suatu hari nanti Silvia mau menerimanya kembali.


"dengarkan aku! aku sangat mencintaimu tidak akan pernah aku mau melepaskanmu begitu saja Silvia! " Artha memandangnya sesaat sebelum ia menarik tangan Vivi untuk jatuh kedalam pelukannya.


Vivi pun berusaha untuk melepaskan pelukan itu dengan sekuat tenaganya meronta gonta hingga ia memukul punggung laki-laki yang sudah berani memaksanya untuk jatuh kedalam pelukan yang tak diinginkan itu.

__ADS_1


"kau jahat Artha! jahat! laki-laki tidak berperasaan! aku ini perempuan sama seperti tunanganmu! apa kau tak paham itu! lepaskan pelukanmu ini! " Vivi terus memukul-mukul punggung mencubit hingga menggigit sesekali untuk pelepas kan pelukan itu. namun usahanya belum membuahkan hasil karena Artha memeluknya dengan sangat erat dan tak mau melepaskan begitu saja pelukan itu.


__ADS_2