
kriing!! kriing!!
alarm pun berbunyi waktu menunjukan tepat pukul lima pagi matahari masih bersembunyi di balik selimut yang menutupi nya. saat itu Nathan tengah bergegas untuk menemui seseorang di salah satu cafe ternama di kota itu.
"tuan... semua sudah siap di sana. apakah kita jadi menemui orang itu?" tanya Dandy sambil mengepalkn tangan nya.
"ya! kita ke sana untuk melihat bagaimana kondisi orang itu saat ini! aku mau dia hancur! buat dia mengaku! " jawab Nathan dengan memberikan tatapan yang begitu tajam dan sebuah senyuman di pinggir bibir nya.
"baik tuan. sudah seharus nya dia hancur. "
"apa anak buah mu sudah menghancurkan tempat terkutuk itu! bagaimana dengan anak buah nya? apa sudah di beres kan? "
"semua nya sudah di bereskan. tempat itu sudah seluruh nya hancur lebur hampir seluruh nya rata dengan tanah. butuh biasa besar kalau mau merenovasi tempat itu seperti semula.
"bagus! itu baru anak buah ku! " Nathan pun tersenyum lebar sambil sesekali ia pandangi jendela kaca di mobil nya melihat ke sekeliling jalan raya , keramaian yang di tampilkan seolah menutupi semua luka yang pernah di rasakan seseorang. tangisan nya yang tak terbendung bagaikan hujan yang tak kunjung reda membasahi setiap inci jalan raya yang di lalui saat itu.
sesampai nya di tempat yang sudah di rencanakan Nathan segera pergi menuju ruangan khusus untuk tamu VIP.
Kriett!!
Dandy pun membuka pintu secara perlahan dengan di iringi Nathan yang berada di belakang nya. kedatangan mereka sontak membuat seseorang yang berada di ruangan itu menjadi terkejut di pandangi nya Nathan dari kejauhan sudah terlihat kemarahan yang begitu membara di wajah nya.
"cuih!! " Adit yang tangan nya terikat hanya bisa pasrah dengan melemparkan sebuah senyuman menghina tepat ke arah Nathan yang sedari tadi memperhatikan nya. "kau siapa? ada keperluan apa dengan ku sampai usaha ku di hancurkan! "
"kau tak tahu apa masalah mu? "
"Buughh!!! Buughh!!!"
Nathan memberikan dua buah tinjuan maut tepat ke arah wajah Adit di mana sudah ada beberapa luka lebam lain di sekitar wajah nya. setelah menerima pukulan yang terakhir Adit pun akhirnya tumbang ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri dengan tangan masih terikat.
"sudah berapa lama dia kau siksa Dandy? baru ku pukul dia kali sudah terjatuh tak sadarkan diri! "
"maaf tuan, sudah hampir semalaman dia kami siksa seperti itu. "
__ADS_1
"bagus bagus. . . . hahahahaha...... " Nathan pun tertawa puas mendengar jawaban Dandy yang sudah menyiksanya lebih dahulu. di mata nya Adit dan beberapa orang lain nya hanya lah segerombol orang yang baru sukses setelah mencapai beberapa anak tangga kesuksesan. namun terlalu sembrono dan sombong sebagai seorang pemula. bagi Nathan sangat mudah untuk menghancurkan seseorang, bisa saja ia melakukan lebih dari ini untuk menghancurkan orang orang yang tidak menyukai nya atau orang orang yang memiliki pikiran jahat kepada nya.
*
*
" I miss you... Silviana Lee! "
Deg!
Langkah kaki nya pun seketika terhenti saat mendengar suara lembut yang menyebut nama nya terus menerus " Pak Artha! cukup! hentikan omongan itu ku bilang! " Vivi pun berbalik menatap mata Artha sambil mengepalkan tangan nya karena kesal. melihat itu justru semakin membuat Artha terpesona dan semakin ingin menggoda nya lagi dan lagi.
"belum cukup! "
"I MISS YOU SILVIANA LEE! " Artha pun berteriak cukup keras membuat sebagian suara nya terdengar hingga keluar jendela yang terbuka sepanjang lorong.
"Pak Artha!! hentikan! aku malu! " Vivi seketika menutup wajah nya dengan kedua tangan nya sembari berlalu pergi meninggalkan Artha yang sedang tertawa lucu melihat kelakuan yang di buat Vivi.
saat setelah melihat wajah Vivi yang berubah menjadi merah, Artha pun menghentikan keusilan nya. ia berinisiatif menggenggam erat tangan Vivi yang menutupi wajah nya. di lepaskan nya secara perlahan.
"mana ada wajah yang berubah merah itu cantik! " jawab Vivi ketus.
"ada sayang, bukti nya wajah mu walau pun merah tetaplah wajah mu cantik. aku ingin selalu melihat senyum itu di wajah mu. " Artha pun mengecup punggung tangan Vivi dan membelai lembut rambut panjang nya itu.
Deg!
seperti tertiup oleh angin, sebuah kecupan manis di punggung tangan nya itu dapat membuat sebuah getaran hebat di dalam hati nya. menumbuhkan benih benih cinta perasaan yang mendamba, yang seolah oleh ingin di berikan lebih dari itu. memberikan kesan tersendiri di hati seseorang yang tengah merasakan kasmaran.
"Vivi... mau kah engkau menjadi kekasih ku?" Artha pun berlutut di hadapan Vivi sambil memberikan sebuah bunga mawar merah yang sudah jauh jauh hari ia persiapkan untuk menyatakan perasaan nya seperti saat ini.
"hmm... apa kah harus ku saat ini juga? "
"kalau kau tak menjawab nya saat ini juga, maka aku akan mencium mu karena mengabaikan pertanyaan ku! "
__ADS_1
"aku kan memikirkan nya dengan baik Pak! jangan seenak nya aja meminta jawaban seperti itu! "
"hitungan ke tiga! 1! "
"tunggu... beri aku beberapa hari lagi! "
"2! "
"stop! kasih aku waktu untuk berfikir! ini semua terlalu cepat sulit untuk menjawab nya. "
"tidak ada kata besok Vivi, minggu besok aku sudah harus pergi keluar kota untuk mengurus beberapa pekerjaan mungkin butuh waktu satu atau dua bulan di sana. "
"aku akan menunggu di sini, menunggu mu di sini!dan aku berjanji itu"
mendengar kata kata yang di ucapkan Vivi seolah olah Artha telah menemukan tempat nya untuk kembali pulang. tempat ternyaman nya di mana seluruh kasih sayang dan cinta nya dapat ia curah kan sepenuh nya. Artha pun kembali memberikan senyuman lebar ke arah Vivi saat itu juga Artha mencium lembut bibir Vivi yang tengah tersenyum.
"pak Artha! "
"sttt... diam nanti ada yang melihat mending kamu langsung masuk ke ruangan kelas aja sana. "
" ih.. ko merintah seenak nya aja sih! "
"iya iya... aku minta.... "
"minta apa?
" minta di cium lagi! " Artha pun langsung berlari meninggalkan Vivi yang berdiri tepat di belakang nya.
"pak Artha!!! "
setelah beberapa saat Vivi pun sampai di depan kelas nya, membuka pintu kelas secara perlahan dan mendapati seseorang tengah menatap nya dengn tatapan sinis.
"habis dari mana cantik? " Nathan pun menggenggam tangan Vivi smbari memberikan sebuah senyuman tipis di ujung bibir nya.
__ADS_1
"aku... aku tak perlu menjelaskan apa pun pada mu! lepaskan tangan ku! "
"kata siapa tak harus memberikan penjelasan!? apa kau tahu tadi kami semua mendengar suara suara aneh dari luar yang menyebutkan nama mu! ap yang sedang kamu lakukan tadi! " Nathan pun memberikan pertanyaan yang bertubi tubi menginginkan sebuah jawaban yang dapat membuat nya percaya dan menepis semua prasangka yang ada di pikiran nya.