Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
11. Hatinya Berdebar


__ADS_3

hari pun semakin malam setelah pertemuannya dengan Artha berakhir, Vivi memutuskan untuk kembali ke rumah dengan sigap Artha berinisiatif untuk mengantarnya pulang.Artha yang sedari tadi hanya memperhatikan wajah Vivi yang terlihat malu malu membuat Vivi menjadi salah tingkah di buatnya. wajahnya pun menjadi merah ketika mengingat kembali moment dimana Artha menyatakan perasaannya pada Vivi.


akhirnya Vivi mengiyakan kata kata Artha yang ingin mengantarnya pulang dengan alasan " seorang gadis tidak boleh pulang sendirian kalau sudah malam. " memberikan senyuman lebar sambil menatapnya dengan lekat.


"hmm.. iya mobilmu sendiri gimana nanti? "


"urusan mobil ku gampang Vivi, yang penting kamu. pulang dengan selamat. " Artha pun mengulurkan tangannya berharap Vivi mau menggenggamnya dengan tatapan yang penuh harap.


"i.. iya.. silahkan.. eh boleh maksutnya. "


Artha dan Vivi memutuskan untuk langsung kembali ke rumah, sepanjang perjalanan Artha tak melepaskan sedikitpun genggaman tangannya pada Vivi. membuat wajah Vivi pun semakin memerah seperti tomat.


"wajahmu kenapa sayang? merah seperti tomat ingin rasanya ku gigit"


saat mendengar kata kata barusan membuat Vivi Membelalakkan mata seketika ia tak percaya dengan kata kata yang barusan di dengarnya.


"say...yang? gigit? maksutnya?. " jawab Vivi memastikan.


"hmm... gapapa kita langsung pulang aja yu. "


sepanjang perjalanan Artha terkadang tetap terus memperhatikan Vivi yang telah duduk di bangku sebelah. melihatnya tersipu malu membuat perasaannya begitu bahagia. Artha menjadi bersemangat untuk terus menggoda Vivi, Vivi hanya bisa membuang wajahnya ke arah yang lain supaya tidak bertatapan dengan Artha.


sesampainya di rumah Vivi, Artha memarkirkan mobil tersebut secara hati hati. memastikan wanita yang saat ini ingin ia rebut hatinya masuk ke dalam rumah dengan aman. kemudian Artha mengeluarkan handphone dan menelpon asistennya untuk menjemputnya.


*


*


saat hendak menaiki tangga menuju kamar pribadinya, Vivi di kejutkan dengan kedatangan Bu Riri dari arah belakang yang langsung memberikan sebuah pelukan hangat.

__ADS_1


"nah.. loh... anak Mama di antar siapa tuu... "


"eh...Mama mengagetkan saja! " jawab Vivi singkat sambil terus berjalan menuju kamarnya dengan senyum yang kecut.


Mama pun mengikuti langkahnya dari belakang dan terus bertanya "Vivi... ayo katakan siapa tadi? Vii ayo dong Mama kan mau tau siapa yang mengantar tadi? "


seketika Vivi menghentikan langkahnya dan berbalik memandang wajah sang Mamah. "itu.. dosen bahasa Mah, belum lama ia mengajar di kampus ku. "


"siapa namanya? apa kamu pacaran sama dia? ko bisa kalian pulang bersama.? " dengan tatapan yang heran Bu Riri pun terus melontarkan pertanyaan yang berulang.


"aku? berhubungan dengannya? dia itu dosen Mah! " mana mungkin seorang dosen mau sama anak didikannya sendiri, lagi pula kami hanya sebatas teman saja saat ini."


"saat ini? berarti ada hari lain yang bisa di ubah menjadi.... "


"tidak! tidak akan! aku hanya menganggap nya teman Mah TEMAN. hanya teman dan akan begitu" Vivi pun menghela napas yang panjang, menjelaskan setiap kata yang di ucapkan Vivi penuh dengan penekanan. ia berharap bahwa setelah ini tidak ada lagi yang dapat membuat hati nya bergetar.


"tapi... Mama lihat kamu pegangan tangan tadi! berarti kalian ada sesuatu kn? tanya Mama penasaran.


Deg!


"melihat laki laki itu menggandeng tangan mu. "


langkahnya pun terhenti tepat di depan pintu kamar. seketika Vivi mematung mendengar ucapan sang Mamah.


" ya sudah... kalau tidak mau cerita. masuk sana istirahat. " dengan raut wajah yang kecewa Bu Riri mengurungkna niatnya untuk terus bertanya pada anak kesayangannya itu. tangannya pun mendorong tubuh Vivi untuk segera masuk ke dalam kamar.


melihat raut wajah sang Mamah yang seketika itu langsung berubah muncul sedikit perasaan bersalah dalam hatinya. Vivi mengigit ujung bibirnya ia merasa bersalah karena sebuah kebohongan yang ingin buat sendiri.


"maafkan aku Mah. bukan maksud Vivi tidak mau cerita dengan Mama tapi.....untuk saat ini kami hanya berteman. " umpatnya dalam hati sembari menutup pintu kamar setelah melihat kepergian sang Mamah.

__ADS_1


di rebahkan tubuhnya di atas tumpukan kasur yang empuk sambil menatap langit langit kamarnya, pikirannya pun menjelajah entah kemana ketika mengingat kejadian di mobil membuat pipinya pun kembali memerah jantung nya pun berdebar kencang terbayang raut wajah Artha dan tangan yang terus menggenggam tangannya sepanjang perjalanan pulang tadi.


seseorang yang dengan sengaja berani memegang tangannya dengan lembut, memberikan tatapan yang hangat kenyamanan yang belum pernah ia rasakan dengan teman lelaki yang lainnya. kini muncul ketika berdekatan dengan Artha dosen Bahasa Indonesia yang baru di kenalnya satu bulan lalu.


Deg!


Vivi kembali teringat dengan ucapan Artha yang mengatakan ia mengenal baik Vivi dari dulu sebelum mereka di pertemukan kembali di satu kampus. Vivi pun memutar otaknya bertnya kepada diri sendiri apa yang sebenarnya hilang dari diri nya! menatap ke arah jendela dengan penuh tanda tanya. "


"sebenarnya siapa dia? apa dahulu... kami berteman baik? " gummnya dalam hati.


ketika berusaha untuk mengingat kembali Vivi merasakan kepalanya menjadi sedikit sakit ketika memaksakan untuk mengingat semua yang terjadi sebelum peristiwa naas itu.


*


*


di tempat lain Nathan terus berusaha mencari informasi tentang keberadaan Mika dan seseorang yang berada di belakang mereka. mengerahkan semua bahawannya tanpa menyisahkan satu orang pun di sisi nya.


tepat pukul sebelas malam Dandy melaporkan hasil temuannya yang membuat Nathan terkejut.


"Tuan sepertinya mereka saling berhubungan baik. karena Mika berada di kediaman Pak Adit. seorang pengusaha club malam yang cukup terkenal dan Mika adalah salah satu pekerja di club malam tersebut untuk saat ini mereka bertempat tinggal di rumah yang sama di kediaman Pak Adit. Mika menjadi salah satu wanita penghibur dan hari ini baru tiba di bandara setelah seminggu berada di satu kamar hotel yang sama dengan Pak Adit di kota S.


"apa katamu! " Nathan yang geram menatapnya dengan tatapan amarah yang menggebu gebu tanpa sadar langsung melayangkan sebuah tinjuan tepat ke arah wajah Dandy namun di terhenti.


"apa bisa ku pegang kata kata mu Dandy! saat ini aku sangat marah ingin rasanya ku acak acak club malam itu! " bawa beberapa anak buah mu buat tempat itu berantakan! kacaukan tempat itu sekarang! " dengan amarah yang membara Nathan mengepalkan tangannya sembari memberikan perintah kepada Dandy.


"pegang ucapanku tuan, baik aku akan membawa anak buah ku yang jauh untuk mengelabui mereka semua. "


"cepat lah! jika waktunya terlalu sedikit aku takut kita tidak akan sempat!. " ucap Nathan labil berlalu pergi meninggalkan Dandy yang berdiri tepat di sampingnya.

__ADS_1


Dandy pun berlalu pergi meninggalkan kediaman Stanly dan kembali mengerahkan semua anak buahnya untuk menghancurkan club malam tersebut.


__ADS_2