
setelah berhasil menemukan Vivi, Nathan langsung membawanya ke rumah sakit untuk segera diperiksa. untuk mengetahui kondisi yang dialami Vivi saat ini.
"Dok, bagaimana kondisinya saat ini? "
"ya.. untuk saat ini kondisinya sudah stabil. tapi.. "
sambil mengambil napas panjang Erica pun menghentikan pembicaraannya.
Nathan hanya menatap lekat satu yang selama ini ia lihat selalu ceria berubah menjadi sendu bahkan saat ini lebam karena tangis yang tak terbendung ketika diruang yang terkunci itu.
setelah beberapa saat kemudian terdiam cukup lama Erica memulai kembali pembicaraan mereka yang terhenti.
"pasti, .... ada sesuatu ya? " tanya Erica penasaran dengan tatapan yang sedikit ragu ragu.
Nathan hanya bisa terdiam, memandang lekat wajah yang pucat dan tubuhnya yang terbaring lemas. hatinya terasa sakit seperti tersayat pisau ketika melihat kondisi Vivi saat itu.
"ya... " jawab Nathan singkat dan kembali menatap raut wajah Vivi yang belum juga sadar. "
Erica pun menjelaskan tentang kondisi Vivi yang sudah stabil untuk saat ini, namun Vivi harus memulai terapinya kembali untuk menghilangkan perasaan trauma yang kapan saja bisa muncul kembali.
sore harinya masih di rumah sakit, Vivi mulai membuka matanya kembali, ia pun berangur angsur sadar , melihat ke sekelilingnya mendapati ada salah satu perawat yang memang bertugas mengawasinya.
Vivi pun berusaha untuk bangkit untuk menjadikan posisinya menjadi duduk, namun kekuatan yang dimilikinya belum sepenuhnya pulih. Vivi pun bertanya kepada salah satu perawat yang ada diruang itu.
" Sus... maaf sa... sayaa.. dimana? " berbicara sambil terbata bata sembari memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
"jangan di paksakan untuk bangun dulu ya. " kata salah satu perawat yang bertugas.
perawat itu memulai kembali pembicaraannya memberikan senyuman kepada pasiennya tersebut untuk tetap berbaring agar mempermudah untuk memeriksa kondisinya saat ini.
"mba, saat ini mba berapa di rumah sakit Zaftern.
" si...si..apa yang mem..bawa saya Sus. " tanya Vivi kembali dengan menyipitkan kedua matanya.
__ADS_1
"sudah tenang dulu, saya akan periksa dulu kondisinya ya mba." jawab perawat itu sembari membantunya untuk tetap kembali berbaring di ranjangnya.
setelah selesai memeriksa semua kondisi Vivi saat itu, perawat itu langsung pergi meninggalkan ruangan Vivi dan mengisyaratkan nya untuk beristirahat.
ketika pintu ruangan itu akan di tutup Nathan pun menghentikannya." sus, bagaimana kondisi Vivi? " Nathan pun sudah menunggu cukup lama untuk dapat bertanya tentang kondisi Vivi saat ini namun terhalang karena tadi Vivi belum sadarkan diri.
"iya tenang ya pak, kondisi mba nya saat ini sudah tidak apa apa lagi. hanya memang harus sedikit lebih di awasi saja. jawab perawat itu dengan sangat jelas.
" syukurlah. " sambil tersenyum dan mengintip dari balik celah kaca di pintu.
Nathan sangat ingin sekali pergi menghampiri Vivi saat itu. tetapi niatnya tersebut is urungkan karena Nathan tahu betul bahwa selama ini kejadian yang menimpa Vivi adalah kelalaiannya, kecerobohannya semata.
"AARRRGGG!!! SIAL!!!
perasaanya pun berkecambuk pada seseorang yang memang dengan sengaja menjebaknya untuk semua kejadian yang menimpa Vivi.
" menjelaskan padanya saat ini pun tak akan berhasil! " umpat Nathat dalam hati.
pikirannya pun kalut saat itu, begitu banyak yang ia pikirkan. mulai dari memikirkan siapa pelaku yang sesungguhnya, bagaimana caranya menjelaskan ini semua, kondisi Vivi yang butuh pengawasan, urusan kantor dan masih banyak lagi.
"datanglah ke rumah sakit Zaftern sekarang, bawa beberapa anak buahmu! ." tanpa basa basi Nathan langsung memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya.
tak lama kemudian Dandy pun datang membawa beberapa anak buahnya. langsung menuju ruangan tempat Vivi di rawat.
" Dandy! cepat cari tahu siapa dalangnya! kerahkan semua anak buahmu mencari!!! dengan perasaan yang marah sambil mengepalkan tangannya yang ingin sekali memberikan sebuah tinjuan.
mengarahkan tinjuannya ke arah tembok!!
"BRUK!!!
" SIAL!!! SIAL!!!!
"cepat segera cari dia!!!
__ADS_1
" baik tuan. " Dandy pun hanya menundukan kepalanya patuh.
dari balik pintu Vivi yang terbaring berusaha untuk bangkit, meraih pinggiran benda yang dapat ia jangkau untuk berpegangan, perlahan demi perlahan Vivi berjalan menuju pintu ruangan tempat ia di rawat.
" krieettt!!! " pintu pun di buka tepat di depannya Nathan membolakan matanya terkejut melihat Vivi yang berjalan sedikit terhuyung seperti pohon yang tertiup angin namun berusaha tetap berdiri sambil memegangi benda di sekitarnya.
"Vii... sudah sadar, biar ku bantu. " Nathan berusaha untuk meraih tangan Vivi dan ingin memapahnya kembali masuk kedalam ruangannya.
"cukup!! berhenti di situ! aku... aku... tak butuh bantuanmu!!! seketika Vivi pun menepis tangan Nathan dan sedikit langkahnya menjadi mundur.
Vivi pun kembali kedalam ruangannya dan langsung menutup pintunya rapat rapat, tanpa memerdulikan kecemasan yang terlihat di wajah Nathan.
seorang pria yang selama ini acuh tak acuh berubah 180 derajat menjadi seorang pria yang cemas, perhatian dan selalu menatapnya dari kejauhan.
hari pun berganti malam, saat setelah memastikan semuanya ia memilih kembali keruangan Viv,i mendapati gadis itu sudah tertidur lelap,matanya pun sontak menatap wajah yang pulas itu dengan perasaan penuh kecemasan.
Nathan memilih untuk menempatkan beberapa penjara di sekitar ruangan Vivi dan sekitar rumah sakit untuk memantau dan melihat apakah si pelaku akan kembali atau tidak jika Vivi tidak dalam pengawasannya langsung.
benar ternyata apa yang di sangka oleh Nathan. pelaku yang sebenarnya pun menyambangi rumah sakit tersebut, sesaat setelah Nathan pergi meninggalkan rumah sakit dan melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Lee.
Nathan berniat menjelaskan semuanya kepada keluarga Vivi yang sudah pasti sejak kemarin menunggu kabar yang diberikan Nathan.
setibanya di kediaman Lee Nathan di sambut hangat namun wajah yang di perlihatkan tidak ada kegembiraan yang terlihat jelas kecemasan, kepanikan, kekhawatiran yang tertulis di raut wajahnya saat itu karena pikirannya yang bercabang membuatnya putus asa.
di ruang tengah nenek Aria , Riri, Kriss, Abi dan Jojo sudah menanti kedatangan Nathan. nenek Aria pun langsung memeluk erat , menitiskan sedikit air mata lalu cepat cepat ia usap agar tak ada seorang pun yang melihat.
" nek... nenek tak apa? "
" tidak apa apa.. jangan bertanya tentang nenek. jelaskan tentang bagaimana kondisi Vivi saat ini. dan semua kejadian naas itu.! " jawab Nenek Aria sambil memberikan pertanyaan yang bertubi tubi menatap lekat ke dalam sorot mata Nathan.
"aku. aku gagal nek menjaga Vivi! "
" coba ceritakan pada nenek semua yang kamu ketahui. kita cari solusinya bersama "
__ADS_1
Kriss pun menepuk pelan bahu Nathan kala itu. memberikan isyarat bahwa ia harus tetap tenang jika ingin menangkap dalangnya.
Nathan pun menceritakan semuanya mencurahkan seluruh kata kata yang ada di kelapanya tersebut tanpa ada yang di tutup tutupi. sedikit demi sedikit air matanya keluar ketika menceritakan masalah tersebut.