Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
30. Persiapan pernikahan


__ADS_3

Setelah pertemuan terakhirnya dengan Nathan kemarin hanya menguras emosi. kini kabar bahagia tersebut telah sampai di telinga Artha yang tengah duduk di teras dengan segelas kopi di hadapannya.


Mengambil benda pipih yang sedari tadi hanya tergeletak di meja dan mulai menekan beberapa nomer. hingga panggilan tersebut tersambung namun belum mendapatkan jawaban apapun.


kring... kring... kring...


"selamat pagi sayang i miss you i love you muach... " Artha pun tak mau ambil pusing ia ingin langsung mendapatkan jawabannya tersebut dari wanita pujaannya sendiri. kata-kata orang lain tak bisa ia percayai begitu saja tanpa mengkonfirmasi kan langsung kepada yang bersangkutan.


"halo... si... Pak Artha? " sontak suara tersebut membangunkan dari mimpinya saat tidur. mengusap ujung bibirnya yang terdapat bercap sebuah peta kecil yang masih basah karena keterkejutan nya saat itu.


"bisa tidak panggilannya yang biasa. aku masih belum terbiasa dengan panggilan itu. "


"Hari ini aku jemput ya kita pergi ke tempat yang aku suka. kayanya akan membutuhkan waktu 1 hari karena letaknya yang berada di luar kota. "


"apa... hanya kita? apa aku bisa membawa serta orang tua ku? atau kakak ku Jojo? "


"ayolah Silvia sayang ini adalah kencan pertama kita. aku tak ingin ada keluarga atau orang lain ikut. aku ingin menghabiskan waktu ku hanya berdua dengan mu saja. "


karena penolakan yang di lakukan oleh Artha membuat Vivi memunculkan sedikit rasa ke khawatiran di hati Vivi. rasa ragu yang mulai menghampiri membuatnya bertanya tanya akan tujuan dari ajakan yang di berikan oleh Artha padanya.


"apa aku hanya sebuah mainan untuk mu? tak bisakah aku membagi kebahagiaanku ini dengan keluargaku? aku ingin mereka tau bahwa pilihanku itu benar dan bukan untuk main-main. " Jawab Vivi dengan perasaan yang tak menentu.


"bukan bukan itu maksud ku Silvia. aku hanya ingin menghabiskan satu hari hanya berdua dengan wanita pujaanku yang suatu saat akan menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. "


dengan menggunakan kata-kata rayuannya Artha berusaha untuk meluluhkan hati Silvia. demi memuluskan semua rencananya untuk pergi berkencan hanya berdua dengan wanita pujaannya tersebut.


mendengar itu Vivi merasa bahwa Artha telah merencanakan sesuatu saat pergi berdua dengannya nanti. entah rencananya apa dan untuk tujuan apa. tapi satu hal yang pasti jika pada kesempatan kali ini Artha membuatnya kecewa sudah pasti Silvia akan sangat membencinya. dan sudah dapat di pastikan hubungan mereka akan berakhir tanpa perjuangan sedikitpun. membuat sebuah peluang besar pada saingannya Nathan yang sama-sama menginginkan wanita yang sama untuk saat ini.

__ADS_1


....


tin! tin! tin!


Deg!


"apa? apakah dia sudah ada di depan rumahku? bagaimana nanti kalo Mamah dan Papah tau? apa yang harus aku katakan pada mereka? " gumamnya dalam hati


"Artha bisa tidak kita bertemu di tempat lain mungkin yang lebih nyaman untuk mu supaya tidak terlalu lama menunggu? aku akan segera ke sana aku janji! "


"tidak! aku ingin orang tua mu tau bahwa aku bersungguh - sungguh ingin meminta restu mereka baik - baik. aku akan meminta mu secara baik- baik jadi aku harus memperlihatkan kesungguhan ku. " jawab Artha tegas dan tetap pada pendiriannya di awal.


"baiklah aku akan segera turun. tunggu aku sebentar lagi. "


"iya sayang. " Begitu bangga dan berbunga bunga hatinya ketika Vivi mau mendengarkan apa yang di inginkan nya dengan memanggilnya dengan kata-kata sayang.


...


melihat itu sang Mamah pun memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin mendapatkan jawaban dari sang anak perempuan tercinta. "hmm... kayanya ada yang lagi sibuk nih? ada sesuatu ya sayang tumben kamu pagi-pagi sudah rapih cantik pula."


Menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki membuat Silvia sedikit merasakan gerogi yang tiba-tiba saja muncul ketika persiapannya sudah seratus persen.


"emm.. itu Mah aku akan pergi keluar dengan Artha. Artha akan mengajakku ke tempat yang belum pernah aku datangi. " boleh kan Mah aku pergi dengannya?"


"sebaiknya kamu batalkan dari pada suatu hari menjadi bumerang antara kamu dan Nathan. Mamah tidak mau sampai mereka salah paham Vi kamu akan segera menikah ingat itu. "


Deg!

__ADS_1


begitu Mamah mengucapkan kembali kata-kataku menikah. seolah membuat Silvia kembali terbakar oleh api kemarahan. ingin sekali rasanya Silvia kabur dari tempat tinggalnya sekarang. menghentikan waktu atau memutar sejarah masa lalu yang sudah tertanam puluhan tahun sebelum ia lahir ke dunia. dan mengetahui keluarganya adalah salah satu pemegang kepercayaan itu sejak dahulu kala.


"Mah! cukup. aku tak mau dengar lagi kata-kata itu hari ini. Artha menungguku di luar aku ingin pergi dengannya. suka tidak suka Artha adalah kekasihku saat ini Mah ku mohon hargai dia. "


"cukup. Mamah hanya takut kamu akan terpengaruh seperti ini nak. "


"terpengaruh apanya Mah? aku dan dia berteman sangat baik di kampus atau di luar kampus. dia memotivasi menjadi pendengar yang baik teman sahabat keluarga semua ny abaikan Mah. apa lagi yang menjadi bahan pertimbangan Mamah dan Papah? kurang baik apa lagi dia? "


"tapi dia membuat kamu menjadi anak yang pembangkang seperti ini. kamu tidak pernah mendengarkan kata-kata Mamah lagi nak. apa kamu tau perasaan Mamah seperti apa ketika mengetahui anak perempuannya seperti ini? "


Deg!


"Mah tapi aku sudah janji dengannya akan pergi hari ini. maafkan aku Mah karna menjadi seperti ini. aku mempunyai alasannya aku harap Mamah mengerti. aku pamit Mah. "


dengan berat hati Vivi segera melangkahkan kakinya pergi dari kediamannya untuk memenuhi janjinya dengan Artha. tak ingin ia membuat Artha menunggunya terlalu lama namun tanda di sadari olehnya Vivi telah mengyisahkan sedikit rasa sesak di hati sang Mamah.


berjalan terus menuju tempat dimana mobil Artha sudah terparkir. "Hai... sayang selamat pagi." saat hendak menyelipkan sebuah kecupan manis Vivi langsung menepis nya dengan ucapan yang sedikit pedas.


"maaf tapi aku tak mau ada kontak fisik yang berlebihan. kita belum ada ikatan apapun aku ingin tetap menjaganya seperti itu. "


Artha pun mendengus pelan. napasnya seakan berat setelah mendengar penolakan yang di lakukan Silvia.


"kita kan sepasang kekasih apakah aku tak bisa memberikan sebuah ciuman hangat di pagi hari? "


"tidak. kita akan tetap seperti biasa sebelum benar-benar resmi. dan bersabarlah smpai waktunya. "


" kalau sebuah pelukan bagaimana? sebentar saja kan tidak akan jadi masalah besar. "

__ADS_1


"tetap tidak boleh apapun alasannya biarpun hanya sebentar. "


Artha tetap berusaha keras agar Silvia mau melakukan kontak fisik dengannya yang masih di anggap nya wajar. namun semua usahanya sia-sia karena Silvia tetap pada pendiriannya yang ingin menjaga sampai ia benar-benar bersatu dengan Artha apapun alasannya.


__ADS_2