Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
15. Sebuah Informasi


__ADS_3

"Vii... Vii.... SILVIANA LEE! " dengan suara yang cukup keras sambil berteriak Dina berusaha membangunkan Vivi dari lamunannya.


mendengar teriakan Dina Vivi pun tersadar bahwa sejak yadi ia hanya memandangi pepohonan yang ada di luar jendela kelasnya saja. mencoba menerawang tentang lamunan dan mimpi yang pernah ia rasakan sebelumnya kini seolah olah pudar yang terhapus oleh waktu. "eh... iya Din sorry ngelamun ya tadi. "


"iya, baru di senggol dikit aja langsung ngelamun. mikirin apaan sih dari tadi di panggilin gak di respon? "


"gapapa Din, cuma kepikiran kata kata tadi aja. "


"eh iya itu mending jauhin Pak Artha ya dari sekarang, takut makin deket makin baper yang ada susah. "


"hmm... emang tau kisahnya? ya informasinya tentang Pak Artha Din? "


dengan berat hati Dina pun menimbang nimbang untuk menceritakan semuanya kepada Vivi, walaupun Dina tau Vivi pasti sudah menaruh sedikit harapan dan perasaannya kepada Pak Artha. pait manisnya harus segera ia ceritakan kepada sahabatnya tersebut.


Artha adalah salah satu pewaris sekaligus calon CEO dari salah satu anak perusahaan milik keluarga besarnya Rajasa, ya . memiliki wajah yang tampan tubuh yang atletis rambut yang tertata rapih dengan bibir yang tidak terlalu lebar namun senyumannya mampu membuat para gadis bertekuk lutut di hadapannya. siapa pun yang Melirik pasti tak akan tahan bila sudah melihat senyuman khas yang menghiasinya.


mendengar itu membuat Vivi membelalakkan mata karena sedikit terkejut, informasi yang ia tau selama ini Artha hanyalah seorang Dosen Bahasa di kampusnya dan memiliki kepribadian yang baik di mata orang orang sekitarnya. dan yang pastinya Artha telah mengenal Vivi sejak lama namun ia tak pernah menceritakannya kepada Vivi.


"oiya Vivi ada satu lagi informasi menurut ku gak kalah pentingnya sama informasi Artha. " Dina pun menjawabnya dengan sebuah senyuman tipis di ujung bibirnya.


"siapa? tentang apa lagi? " Vivi pun merangkul kan tangannya ke lengan Dina dan bergelayut ke arah pundaknya meminta untuk di ceritakan segera.


"ih... kalau mau manja manjaan nanti saja sama pangeran kodok! "


"what!!! kodok? apaan sih siapa sih pangeran kodoknya! ada ada saja sih" Vivi menjawabnya dengan kata kata berulang yang seketika membuat Dina tercengang mendengarnya.


"lebeh mana lebeh .... lebeh Vii lebeh deh! "


"yaudah buruan cerita! " jawab Vivi dengan nada memerintah.


"Nathan! "


mendengar nama Nathan di sebut langsung membuat raut wajah Vivi berubah seketika. melepaskan tatapan matanya ke arah yang lain sambil mengerucutkan bibirnya.


"stop! aku malas mendengar nama itu jngan di ceritakan! aku gak jadi penasaran. " sembari mengangkat tangannya dan berjalan ke arah pintu Vivi meghela napas panjang sambil berlalu pergi meninggalkan Dina.


Dina pun berusaha mengejar Vivi keluar dari ringan itu dengan suara yang sedikit tergolong gopoh "hey! ini informasi penting lainnya Vi! kamu harus tahu soal ini juga! dua orang kandidat yang sama sama memperebutkan kursi kosong di sebelahmu Vii!! "


mendengar ucapan Dina langkah kaki Vivi pun terhenti seketika. membuat Dina menabrak punggung Vivi dari belakang karena berhenti begitu saja.

__ADS_1


"Nathan? informasi apa yang kamu temukan soal laki laki brengsek itu! "


"lah ko ucapanmu seperti itu Vii tentang Nathan? dendam kesumat ya? "


"bodo amat sama itu manusia! "


setelah beberapa saat Dina pun menceritakan tentang Nathan dan seorang wanita yang sangat tergila gila dengannya. sampai rela membuat orang lain terluka atau orang lain yang tiba tiba dekat dengan lelaki itu akan selalu merasa dirinya terancam.


*


*


kembali ke masa lalu


siang berganti malam dan malam pun berganti menjadi pagi kembali, sesuai janjinya kepada Vivi Lina membawa teman barunya untuk bertemu dan bermain bersama mereka di taman.


dengan suara yang sedikit serak Lina mempertemukan anak laki laki yang berada di sampingnya dengan semua teman temannya.


"Vivi, Mika, Nathan, Kak Jojo ini kenalkan teman baru kita


" Hai... aku Artha salam kenal. " mengenakan sandal biasa dengan kaos hitam polos anak laki laki itu pun memberikan senyum yang merekah di sepanjang bibirnya senyuman lebar yang terpancar dari wajahnya itu seolah olah memberikan tanda bahwa ia sangat senang bisa bertemu dengan teman teman lainnya yang seumuran.


melihat itu Nathan hanya menatapnya dengan dingin tanpa memberikan respon apapun. tangannya mengepal di dalam saku celana jins yang ia kenakan saat itu.


*


*


"tuan, bagaimana langkah selanjutnya? mau kita apakan lagi orang ini? "


"tinggalkan saja dia di jalanan biarkan orang orangnya menemukan majikan mereka! "


"baik tuan. "


melihat majikannya yang tengah menatap Adit dengan tatapan membunuh Dandy segera mengambil langkah untuk menghentikan majikannya tersebut. tanpa basa basi lagi Dandy pun langsung melaksanakan semua perintah Nathan dan membawa majikannya tersebut untuk segera menjauhi tempat tersebut.


setelah beberapa saat Nathan kembali masuk ke dalam mobil sport miliknya, ia menatap selembar foto yang di pegangnya saat itu. mengelus nya dengan lembut sembari sesekali mengucapkan kata kata maaf dengan suara yang lirih.


"maaf... maaf... maafkan aku. aku akan segera membuatmu aman dengan berada di sisiku dan selalu dalam pengawasanku."

__ADS_1


*


*


Dina dan Vivi berjalan menyusuri lorong kelas menuju tempat parkir, sepanjang perjalanan Dina terus berusaha untuk menceritakan tentang sosok laki-laki yang bernama Nathan.


"Vii... kamu tahu Nathan itu seorang CEO? "


.


Deg!


.


"CEO? Nathan?


" iya CEO Vii. dia itu salah satu CEO termuda dan salam satu yang sukses dalam bidang properti Vii, banyak perusahaan asing yang berusaha buat kerjasama namun sesuai dugaan merebut hati seorang CEO cukup terbilang sulit katanya.


"aww!! "


saat setelah mendengar semua yang di ceritakan Dina ,mendadak Vivi merasakan kepalanya menjadi sedikit sakit karena mengingat sesuatu potongan potongan kecil dari kejadian di masa lalu yang hilang.


melihat kondisi Vivi yang seperti itu membuat Dina khawatir. "Vii.. Vii... kamu kenapa? Silviana! " Dina pun memapah tubuh Vivi yang hampir terjatuh. Dina membawa Vivi untuk duduk di ujung lorong dekat dengan pintu keluar.


merasakan tubuhnya sudah baik baik saja Vivi pun memutuskan untung bangun kembali, namun Dina tetap memegangi tubuhnya dari belakang karena takut kalau sewaktu waktu sahabatnya tersebut dapat terjatuh.


"aku sudah tak apa apa lagi Din. tidak perlu di pegangin cantik. " Vivi pun menjawabnya dengan senyuman lebar dan sesekali memuji kecantikan sahabatnya hari itu.


"beneran udha gapapa? perlu aku bantu lagi untuk berjalan? " tanya Dina memastikan.


"iya, sudah gapapa Dina cantik. "


"okee tapi aku yang bawa mobilnya ya! "


"memang bisa? "


"huh! meremehkan! "


setelah perdebatan yang cukup panjang mereka pun memutuskan untuk pulang bersama sama, dengan syarat mobil yang dilendarai harus Din ayang mengemudikan sedangkan Vivi di minta u tuk duduk santai di sebelahnya saja. sepanjang perjalanan Dina sesekali melirik ke arah sahabatnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2