Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
16. Aku Bisa Jelaskan!


__ADS_3

sepanjang perjalanan Vivi hanya bisa terdiam tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya saat itu. pikirannya entah sedang melayang kemana, namun satu hal yang pasti Vivi memikirkan semua peristiwa yang belakangan ini telah terjadi. dan benang kusut itu pun satu persatu menjadi semakin jelas, tersusun secara acak juga nampak nyata.


setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Vivi dan Dina pun sampai di kediaman rumah Vivi. saat hendak memarkirkan mobilnya, terlihat satu mobil yang telah terparkir. kedatangan mereka di sambut dengan panggilan dari seseorang yang sedari tadi sengaja menunggu di luar.


"Vivi...Vii...Vivi...Silviana! "


saat Vivi membuka pintu mobil terdengar suara seseorang tengah memanggil namanya beberapa kali. mendengar namanya di sebut Vivi pun menoleh ke arah datangnya suara itu, namun raut wajahnya pun berubah seketika. ketika melihat seseorang yang tengah memanggil namanya adalah Artha.


laki laki yang belum lama ini dekat dengannya dan mulai menaruh sedikit harapan di hatinya, ternyata tak lebih dari seorang penipu bagi Vivi. kenyataan yang harus di hadapi tidak semudah dengan impian yang di bayangkan selama ini.


perasaan yang bergejolak antara rasa senang, marah, sedih, kesal pun bercampur menjadi satu. menjadikan perasaan yang bergemuru bagai ombak yang akan melahap siapapun yang akan berusaha untuk melintasinya. perasaan itu tak karuan berkecambuk di dalam hati dan pikirannya yang sedang tak berjalan mulus.


"Vii... aku... minta maaf, aku bisa jelaskan semuanya ka kamu Vii apapun itu tanyakan saja aku akan menjawabnya dengan jujur. "


"jujur? kenapa baru sekarang mengatakan itu. apa karena sudah ketahuan jadi baru kepikiran buat berkata jujur?seharusnya dari kemarin sebelum terlanjur seperti ini! "


kata kata yang di ucapkan Vivi berhasil membungkam Artha tak berdaya, hanya kata maaf lah yang sekarang sering terlontar dari mulut Artha kepada Vivi.


"aku bisa jelaskan semua Vii, apapun yang kamu dengar tidak semuanya betul Vii. aku mohon percaya pada ku."


" tak perlu menjelaskan apapun semuanya sudah jelas. jangan pernah ganggu aku lagi."


"kamu salah paham Vii! aku gak ada hubungan dengan siapapun perasaan ku hanya untuk kamu Vi! aku mencintai kamu dari dulu! ayolah sayang aku baik jelaskan ini kita ngomong baik baik ya"

__ADS_1


"cinta!? sayang? jangan pernah panggil aku seperti itu! cintamu sayangmu cuma sebatas mimpi untuk ku! "


Artha hanya bisa terdiam setelah mendengar penolakan Vivi untuk kesekian kalinya. ia menatap Vivi dengan penuh harapan agar Vivi mau mendengarkan semua penjelasannya. dn tak mendengarkan kabar itu hanya dari satu pihak saja, ia ingin Vivi mendengarkan dari situasinya saat itu.


"sudah Pak hentikan! biarkan Vivi beristirahat dahulu. masalah antara kalian masih bisa di bicarakan besok, tolong bapak pergi saja." dengan memasang raut wajah kesal Dina pun langsung memotong ucapan Pak Artha tanpa basa basi, dan membawa Vivi masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.


setelah melihat penolakan Vivi akhirnya Artha menyerah dengan berat hati ia memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya. karena jika ia memaksakan kehendaknya untuk tetap berbicara dengan Vivi malam ini maka dapat di pastikan semuanya tidak akan berjalan dengan lancar, itu akan berakibat buruk untuk hubungan yang ingin ia jalin ke depannya dengan Vivi.


"terimakasih ya Din udah bantuin ngusir itu orang, sorry bikin repot hari ini. mendingan nginep dulu di sini udah malem juga perawan itu di larang keluyuran, apa lagi kalau malam itu banyak setan berterbangan. " sambil memoles senyum sudut bibirnya pun sedikit terangkat.


"nyamuk kali Vii yang suka berterbangan."


suasana yang tadinya tegang akhirnya berubah menjadi cair kembali setelah candaan yang mereka lontarkan. mereka pun terlihat senang karena bisa bercengkramah dengan bebas setelah makan malam selesai, Dina memutuskan untuk menginap malam itu di rumah Vivi.


*


*


setelah kembali ke kediaman keluarga Stenly, Nathan segera naik menuju kamar pribadinya. saat Nathan hendak merebahkan kepalanya di bantal belum ada lima menit handphonenya pun berbunyi. nama yang tertera dalam panggilan tersebut adalah dari asisten pribadinya Dandy, laki laki yang memiliki usia yang tak jauh berbeda dengan Nathan. memiliki badan tegap dan kekar membuat setiap orang yang melihatnya seperti seorang algojo.


"ada informasi apa Dandy? " tanyanya tegas.


"Adit telah sampai di kediamannya tuan, setelah menuruhkannya di jalanan beberapa anak buahnya langsung membawanya pulang. tapi...."

__ADS_1


"tapi...? tapi apa? " Nathan pun mengerutkan dahi sambil sesekali menatap layar ponselnya karena diamnya Dandy pasti mengisyaratkan sesuatu yang lain pasti telah terjadi.


"Adit tuan, saat di dalam mobil yang di tumpanginya ada salah seorang pria yang tidak di kenal namun sepertinya pria tersebut begitu familiar tuan."


"apa yang di lakukan pria itu? apa yang mereka bicarakan? siapa dia? " tanya Nathan lagi.


"saya belum mendapat informasi tentang pria itu tuan, namun saat di dalam mobil terdengar suara pria itu memaki Adit. sepertinya terjadi baku hantam diantara mereka tuan. entah permasalahan apa namun telah terjadi sesuatu di dalam sana. " Dandy pun menjelaskan semuanya dengan wajah yang sedikit pucat dan suara yang sedikit bergetar.


"Dandy! apa yang sebenarnya terjadi? sekarang kamu ada di mana? " tanyanya dengan sedikit panik.


"maaf tuan sepertinya dari tadi ada yang mengikuti saya pergi. beberapa di antara mereka membawa senjata tajam, saya bersembunyi di antara toko toko yang masih buka." dengan napas yang terengah entah Dandy pun berusaha menjelaskan kondisinya kepada Nathan.


"kamu tunggu di situ! saya akan segera ke sana! " jawab Nathan dengan jelas.


"tunggu tuan! sebaiknya anda jangan kesini, karena terlalu berbahaya jika hanya sendirian. "


"tentu saja tidak sendirian. aku akan membawa banyak orang kesana. " dengan senyum menyeringai Nathan pun memanggil beberapa bawahannya untuk membawa banyak pasukan ke tempat dimana Dandy berada.


setelah semuanya siap Nathan membaa para bawahannya untuk segera menjemput Dandy yang tengah bersembunyi di dalam salah satu toko di pinggir kota itu.


Dandy yang sedari tadi merasa dirinya terancam, bersembunyi dari satu toko ke toko lainnya. hanya bisa menunggu pertolongan dari sang majikan yang memerintahkannya untuk tetap mengawasi pria itu.


"kalian semua berpencar lah! jangan sampai kalian sendirian tetap berpencar dengan beberapa orang, yang lainnya awasi situasi di sekitar sini. kalau ada yang mencurigakan segera hubungi aku! " ucap Nathan memerintah.

__ADS_1


"baik tuan! "mereka pun menjawabnya dengan kompak.


setelah beberapa menit Nathan pun akhirnya berhasil menemukan lokasi tepat dimana Dandy berada. saat hendak keluar dari toko ternyata sudah ada beberapa orang yang berdiri tepat di depan pintu masuk. mereka serba mengenakan seragam hitam beserta membawa beberapa benda tajam yang juga ditutupi oleh sarung yang berwarna hitam pekat.


__ADS_2