
setelah kedatangannya untuk pertama kalinya kembali setelah kejadian terakhir. Erica kembali menginjakan kaki dikediaman Lee untuk kesekian kalinya. memeriksa kondisi Vivi yang kini tengah dalam masa pemulihan yang terbilang cukup membutuhkan waktu dan proses yang panjang.
Kring! kring!
benda pipih yang sedari tadi terus di genggamnya kini berdering. sebuah panggilan masuk yang bertuliskan nama Dandy asisten pribadi Nathan yang selalu setia. dengan segera Nathan mengangkat telpon tersebut dan mendengarkan semua perkataan yang diucapkan Dandy.
Dandy memberikan kabar bahwa Albert kini telah resmi ditahan dan statusnya sudah menjadi seorang tersangka. Nathan mengumpulkan semua bukti yang ada dengan bantuan Dandy dan tnpa disangka seseorang dari masa lalu membantunya diam-diam.
memberikan semua informasi yang diketahui lalu dikirimkan nya kedalam sebuah pesan bertuliskan nama Nathan dengan sejumlah foto didalamnya. pesan tersebut dikirimkan nya melalui seorang kurir dan harus diterima langsung oleh Nathan. dengan begitu semua bukti yang terkumpul telah aman ditangan orang yang tepat.
Nathan menyerahkan bukti tersebut kepada pihak kepolisian yang bertanggung jawab atas kasus yang tengah bersarang saat ini. serta saksi-saksi yang mulai dipanggil untuk dimintai keterangan atas kesaksiannya. hari pertama sidang pun telah di tetapkan hari dan tanggalnya disertai semua bukti-bukti yang sudah terkumpul.
tok! tok! tok!
"Silvia? boleh saya masuk?"
"hmm..." Vivi hanya menjawabnya dengan mendehem.
"aku Erica boleh aku masuk? " Erica pun mengerutkan dahi karena tak mendapatkan sebuah jawaban yang pasti. namun Erica tetap berusaha untuk membuat Vivi mau membukakan pintu kamarnya sendiri.
Krieett!
dengan posisi yang masih berbaring di atas ranjang Vivi pun segera bangkit dari tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya. "apa suaraku terlalu kecil kak Erica. masuklah pintu tak ku kunci kak? "
"selamat pagi Silvia hari ini mataharinya cerah. bagaimana kalau kita pergi untuk berjalan-jalan?" dengan wajah yang sumringah senyum yang lebar Erica berusaha mewarnai hari ini dengan aktivitas baru bersama Vivi. berusaha membuatnya merasa nyaman dengan semua suasana dan dengan banyak orang disekitar.
hari itu Erica dan Silvia memutuskan untuk pergi mencari udara segar ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Vivi. disana banyak terdapat tanaman bunga yang sangat memanjakan mata dan indra penciuman Vivi dan Erica.
angin berhembus dengan dihiasi harum bunga dan kelopak bunga yang tertiup oleh angin. Vivi membawa beberapa kotak bekal makanan dan Erica membawa sebuah karpet yang berwarna senada dengan taman tersebut.
"ceritakan padaku apa saja kegiatanmu setiap hari saat aku tak mengunjungi? "
__ADS_1
"kenapa? apakah kak Erica khawatir padaku? "
"aku memintamu melupakan semua kejadian dimasa lalu tetapi jawabannya waktu itu hanya sebuah anggukan saja. tatapanmu juga masih sama seperti waktu itu. " Erica pun memutar bola matanya memandang Vivi dengan bibir dilipat.
sontak kelakukan Erica membuat Vivi tersenyum kecil saat itu. membuatnya sedikit melupakan kepedihannya dan penderitaannya selama ini. waktu pun terus berputar Erica dan Vivi disibukkan dengan pembicaraan mereka mengenai kesukaan dan kebiasaan yang tak dapat di ubah sampai saat mereka dewasa.
Vivi terlihat sangat antusias mendengarkan Erica yang sedang menceritakan tentang dirinya sendiri. semua itu tentu saja membuat Vivi tertawa karena setiap cerita yang keluar dari mulut Erica kenyataannya itu semua seperti cerita hayalan anak-anak.
.
.
.
malam pun sudah berganti menjadi pagi kembali persidangan pertama Albert telah ditetapkan menjadi tersangka. hakim memutuskan hukuman yang pantas untuk Albert adalah penjara seumur hidup atau hukuman mati.
mendengar keputusan dari hakim membuat hati Vivi merasa lega. belenggu yang selama ini menjeratnya kini telah hilang dan musnah untuk selamanya. betapa bahagianya Vivi saat itu kini bayang-bayang masalalunya tak akan pernah lagi menghantuinya.
tok! tok! tok!
saat Vivi tengah membaringkan tubuhnya tak lama terdengar suara pintu diketuk. Vivi menoleh kearah pintu tersebut mendapati sang Mamah yang tengah berada diambang pintu sambil tersenyum.
"Hai sayang... Mamah boleh masuk? " sambil menelisik ke berbagai sudut ruangan.
"boleh Mah masuk sini duduk disebelahku. " jawab Vivi sambil tersenyum.
"bagaimana kondisi anak kesayangan Mamah ini? " tanyanya sambil memeluk erat Vivi mengelus rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.
"sudah Mah jangan khawatirkan aku lagi. aku sudah tidak apa-apa sekarang Mamah sudah bisa tenang." Vivi pun membalas pelukan tersebut dengan eratnya seperti tak ingin melepaskan pelukan hangat dari sang Mamah.
" yasudah Mamah tenang kalau begitu. sayang... Mamah ingin membicarakan sesuatu yang penting bisakah? " sambil mengangkat salah satu alisnya keatas dan menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"boleh Mah katakanlah Mamah mau membicarakan soal apa? "
kring! kring!
saat Mamah ingin meneruskan pembicaraan dengan Vivi tiba-tiba benda pipih yang g dari tadi hanya tergeletak di atas meja tersebut pun berdering dan bergetar. sebuah pesan masuk berbarengan dengan sebuah panggilan telepon masuk. namun saat melihat nama yang tertera Vivi pun seperti enggan untuk menanggapi panggilan telpon tersebut.
kring! kring!
benda pipih itu terus berbunyi hingga beberapa kali ada juga yang dengan sengaja menekan tombol merah sehingga panggilan tersebut pun langsung ditolak. sang Mamah pun hanya menatapnya dengan heran karena jarang sekali Vivi mengabaikan sebuah panggilan telpon jika telpon tersebut telah tertera nama seseorang.
"ada apa sayang? kenapa telponnya tidak diangkat?"
"biasa Mah nomer tidak dikenal. " jawab Vivi malas. Vivi pun kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur berbalut selimut kesayangannya tersebut.
"masa sih? nomer tidak dikenal atau tanpa nomer? " mendengar pertanyaan Mamah Vivi pun terkekeh kecil membuat sebuah senyuman kecil terlihat di wajah anak kesayangannya tersebut.
"Itu nomernya ada Mah tapi tidak kenal nomernya siapa. " sambil mengangkat tangannya ke atas dan memutar bola matanya.
"yasudah terserah kamu saja kalau ada apa-apa panggil saja Mamah ya. "
"iya Mah. " Vivi pun memulai senyum tipis saat melihat bayangan sang Mamah mulai menjauh dari kamarnya.
kring! kring!
dengan berat hati dan perasaan yang masih kesal Vivi pun mengangkat telpon tersebut. namun Vivi tak menyangka bahwa nomer yang tak dikenal itu adalah seseorang yang masih membuatnya marah sampai saat ini.
"halo siapa ini? lebih baik kamu hentikan mengganggu saya! menelpon dengan nomer tak dikenal kamu pikir kamu siapa? " dengan intonasi yang tinggi Vivi berusaha mengakhiri panggilan telpon tersebut.
"Silvia... tunggu ini aku. aku ingin bicara denganmu kasih aku waktu ku mohon Vi. " suara tersebut terdengar seperti sedang memelas sesuatu namun tak diindahkan oleh sang pemilik.
...**************...
__ADS_1