
setelah selesai menceritakan semuanya, Nathan memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi .setelah menempuh waktu lima belas menit dan tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia sudah sampai kembali di rumah sakit.
memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju lift yang masih terbuka, tetapi langkahnya pun terhenti. saat itu Nathan berpapasan dengan seorang wanita yang mengenakan topi dan jaket hitam , wajahnya pun tertutup oleh masker yang dikenakannya.
Nathan hanya sesekali melirik ke arahnya.
"siapa wanita ini, mengenakan topi hitam, jaket hitam ber masker tapi. . . penampilannya sedikit mencurigakan. " umpatnya dalam hati
Nathan pun langsung menaiki lift menuju kamar tempat Vivi di rawat. sepanjang jalan Nathan hanya terdiam berkelit dengan pikirannya sendiri. Dandy asisten pribadinya pun mendatanginya tepat di depan Lift menuju kamar Vivi di rawat.
"tuan, ada informasi penting yang harus saya. . . "
belum sempat Dandy menjelaskan maksut dari kedatangannya wanita itu pun ikut keluar dari lift dan segera pergi meninggalkan Nathan dan Dandy yang sudah berada di depan lift.
"katakanlah. aku sudah lama menunggu.! " jawab Nathan dengan mengerutkan dahi.
" yang selama ini menjadi dalang atas semua yang di alami non Vivi tidak lain adalah temannya sendiri. " Dandy pun menjawabnya dengan jelas sambil menundukan kepalanya.
"apa? "
Deg!
"temen katamu? "
tanpa ia sadari Nathan pun sudah mengepalkan tangannya sembari menarik kaos hitam yang dikenakan oleh Dandy seperti hendak memberikan sebuah tinjuan tepat ke arah wajahnya.
"siapa! " KATAKAN SIAPA DIA! "
sontak Dandy pun terkejut dibuatnya karena ia belum pernah melihat majikannya tersebut kehabisan kesabaran seperti saat ini.
" maaf... maaf tuan sepertinya tuan mengenal wanita itu. " jawab Dandy dengan jelas dan sedikit perasaan takut yang menyelimutinya.
"wanita katamu? "
"ya, tuan. dia seorang wanita yang menjadi kupu kupu malam di sebuah club. "
"wanita? kupu kupu? club? apa hubungannya" sambil mengangkat alis Nathan pun menerka nerka tentang wanita tersebut.
Nathan terdiam sesaat memikirkan perkataan asistennya barusan. berusaha untuk mencerna kata kata itu.
"dia... dia... bernama Mika tuan"
"Mika?"
Kembali ke Masa Lalu
"Vi... Nathan di mana?"
" Nathan? bukankah tadi dia bersama dengan mu diluar? "
"ada yang ingin aku sampaikan pada Nathan Vi! "
Vivi pun membulatkan matanya, bingung dengan sikap yang di tunjukan temannya tersebut.
__ADS_1
"bukannya kamu tak suka kalau Nathan berada di dekat kita, saat bermain tadi kn kamu mengusirnya?" jawab Vivi dengan jelas.
"aku ... bukan maksudku mengusirnya Vi. " jawab Mika dengan suara yang memelas.
tak lama kemudian Nathan pun masuk kembali ke ruangan dimana Vivi dan Mika sedang bermain, mengobrol dan bercanda bersama.
krieettt!!
mereka berdua pun menatap ke arah yang sama secara bersamaan. mendapati di depan pintu sudah ada Nathan yang membawakan mereka beberapa cemilan.
"apa? "
"Nathan... kau dari mana, aku... aku mancarimu tahu. " dengan nada yang sedikit manja dan tatapan yang mengharapkan sesuatu yang lebih.
"ku bawakan kalian cemilan! "
setelah menyerahkan cemilan yang tadi dibawanya, Nathan hanya melirik ke arah Vivi yang sedari tadi hanya terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Nathan... aku... aku ingin bicara denganmu!. "
"katakanlah." jawab Nathan singkat.
Vivi yang tengah asyik dengan lagu yang ia putar sambil mengenakan headset nya tidak memerdulikan apa yang mereka katakan, hanya berfokus pada nyanyian yang sedang di dengarnya.
"aku... AKU MENYUKIAMU! " dengan senyum yang lebar dan nafas yang menggebu gebu Mika mengutarakan isi hatinya.
Deg!
Nathan membelakakkan matanya ia memundurkan langkahnya, terkejut dengan apa yang dikatakan Mika barusan.
"Tuan... Tuan! "
"ya."
suara Dandy membangunkan Nathan dari lamunannya, membuatnya terburu buru melangkah menuju kamar Vivi di rawat.
saat hendak membuka pintu kamar terdengar suara teriakan Vivi dari dalam.
"BERHENTI DI SITU! APA... APA SALAH KU!" Vivi berbicara dengan suara yang keras dan sedikit berteriak, tangannya yang sudah gemetaran berusaha untuk menepis tangan seseorang untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan seseorang yang entah siapa yang sedang berusaha untuk menyakitinya.
"ini aku Vi! " tanpa basa basi membuka penutup wajah dan topi yang dikenakannya. memberikan tatapan yang dingin sambil tersenyum menyeringai.
Deg!
Vivi pun menyalakan mencari polsel, berusaha untuk menyalakannya dan mengarahkannya pada datangnya suara tadi.
Vivi membelakakkan metanya seketika. terteguh mendapati yang di lihatnya saat ini. betapa terkejutnya Vivi mendapati orang yang selama ini ia pikir telat pindah keluar negeri demi menghilangkan bekas luka di hati dan pikirannya meninggalkannya sendiri disini tanpa satu kabar apapun. tiba tiba datang ke hadapannya.
"Mi... Mika?
dengan tangan yang masih gemetar memberikan tatapan yang penuh tanda tanya Vivi mendekatkan dirinya kearah datangnya suara tadi.
" ya, ini aku Mika!. " Mika hanya tersenyum kecut.
__ADS_1
"Mika? betulkah itu Mika? "
"ya! MENJAUHLAH DARIKU!!"
mendengar suara Mika yang penuh amarah saat itu juga Vivi langsung menghentikan langkah kakinya, memilih untuk mundur perlahan. dan hanya menatap pada sinar lampu yang menyoroti wajah Mika dari kejauhan.
"kenapa?
" masih bertanya kenapa? kau lah penyebab matinya Lina! kau yang membuat Lina terbunuh! SEMUA INI SALAH MU!!!" dengan suara yang menggebu gebu Mika memberikan semua kesalahan itu pada Vivi.
" katamu semua salah ku? " matanya pun menjadi berkaca kaca mendengar ucapan sahabatnya tersebut. tatapannya menjadi kosong kala itu membuat tubuh Vivi tak berdaya. dan kini Vivi hanya bisa terduduk di lantai menatap bayangannya sendiri.
"ya! apa kau sudah lupa kejadian sepuluh tahun yang lalu! "
"aku sudah berusaha menghentikannya. " jawab Vivi dengan sedikit penekanan.
dibalik pintu luar Nathan hanya bisa menunggu sambil mendengarkan percakapan mereka.
" kamu tahu kesalahanmu! mengiyakan semua yang Lina katakan! termasuk untuk masuk ke dalam bangunan tua itu!!! " mengepalkan tangannya sembari sesekali ia menatapnya dengan tajam.
"kalau saja waktu itu tidak ada yang masuk ke dalam bangunan tua itu! mungkin. . . . mungkin kita semua masih bersama sama sampai saat ini. mungkin ini semua tidak akan jadi seberantakan ini!!! " jelas Mika dengan suara yang meninggi.
"kenapa!? semua kesalahan di timpah kn pada ku? "
"SEMUA SALAHMU! DASAR WANITA SIALAN! "
"apa semua itu ulah mu?"
"kau tuli ya!"
"jawab saja pertanyaanku! " dengan perasaan yang kesal Vivi pun memukul mukul tangannya ke lantai
Mika pun hanya menatapnya sinis sambil tersenyum kecil.
"kejadian di halaman? "
"ya! "
"dikamar ku? "
"ya!
" ruang uks? "
"YA! "
"AKU LAH PELAKUNYA! HAHAHAHAA...." sambil menyeringar Mika pun mengakui semua perbuatannya dan tertawa puas.
seketika air matanya pun tumpah, hatinya kala itu teras sangat sakit sekali seperti di cambuk ribuan kali oleh sahabatnya tersebut.
krieettt!
pintu pun di buka oleh Nathan secara perlahan.
__ADS_1
Melihat kedatangan Nathan yang saat ini sudah berdiri tepat di depan pintu Vivi menatapnya dengan tatapan yang kosong. membuat Nathan membulatkan matanya melihat kondisi Vivi saat ini yang terlihat memprihatinkan.