
"apa... apa katamu! aku tak mau menikah dengan mu! sebentar menjadi malaikat lalu kembali menjadi seseorang yang menakutkan apa kau tak waras? atau memang memiliki dua kepribadian? "
"lepaskan aku! aku mau bangun dan mengatakan kepada mereka semua kalau aku menentang pernikahan ini! aku minta batalkan pernikahan ini sekarang juga Nathan Stanly! "
"ha ha ha. . . kau pikir bisa semudah itu membatalkan pernikahan ini! aku menginginkanmu dan akan aku dapatkan apapun itu caranya! " jelas Nathan dengan tatapan yang tajam.
"ahh... sakit hentikan tanganku Nathan! "
"apa kau mencoba merayu ku dengan suara ******* mu itu Silvia! "
"kau menyakiti tanganku dasar bodoh! aku benci padamu! "
"ga ha ha. . . . teruslah membenciku! ha ha ha. . . " Nathan pun tertawa puas tertawa hingga ia merasakan sedikit rasa sakit di perutnya.
"kau gila! kau tak waras! apa kau tau? yang akan menikah denganku adalah Artha! Artha adalah kekasihku! "
mendengar nama laki-laki lain yang disebut membuat Nathan geram! tangannya menggenggam erat dan semakin kencang hingga sedikit menyakiti pergelangan tangan Vivi.
"aauuhh..." Vivi hanya bisa meringis kesakitan karena tekanan yang begitu besar yang diberikan oleh Nathan padanya.
tubuh mereka pun semakin lama semakin dekat. tubuh ramping Vivi kini benar-benar tertindih oleh tubuh atletis Nathan hingga saat ini tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua.
Nathan membuat sebuah celah diantara kedua belahan kaki Vivi menguncinya menggunakan kakinya. menaiki kedua kaki Vivi ke atas pinggangnya hingga terlihat kaki yang mulus dan putih.
saat menatap wajah Vivi seketika membuat hatinya berdebar begitu kencang dan berapi-api karena situasinya saat ini. situasi yang dinantinya selama ini yang sangat ingin ia rasakan bersama wanita pujaannya tersebut.
__ADS_1
namun saat mengingat sebuah ucapan Vivi yang memanggil nama laki-laki selain dirinya hatinya pun merasakan sesak yang teramat. membuatnya kesulitan untuk menghirup udara yang sama dengannya.
"sudah berani sekali kau menyebut nama laki-laki itu di hadapanku! akan ku buat kau menyesali apa yang telah kau ucapkan Silvia! " dengan tatapan yang setajam elang Nathan menatap setiap sudut bagian wajah Vivi yang terlihat panik namun lucu baginya.
"apa... apa yang akan kau lakukan padaku! dasar mesum! gila! lepaskan aku."cacian dan makian terus terlontar dari mulut Vivi tanpa henti. Nathan hanya membalasnya dengan sebuah senyuman menyeringai.
Nathan saat itu sudah tak tahan ingin sekali ia menyematkan sebuah kecupan di bibir manis nan mungil itu. namun kebersamaan mereka tak berlangsung lama karena dibalik pintu Bi Mira telah menunggu mereka.
tok! tok! tok!
"Non Vivi... ini Bibi mau menyampaikan kalau Non di tunggu di bawah sama Nyonyah. "
"untuk saat ini kau beruntung! lain kali akan ku buat kau merasakan akibatnya! " Nathan pun bangkit dan berjalan perlahan ke arah pintu sambil berkata. "punyamu besar juga Vi jadi tak tahan untuk melahapnya ha ha ha.... "
Nathan tersenyum puas mendapati reaksi yang di perlihatkan oleh Vivi begitu menggemaskan baginya. ketika mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi terlihat rona merah pada pipi yang membuatnya salah tingkah.
Vivi yang berlalu pergi dengan segera ia menemui keluarganya yang menunggu kehadiran mereka di ruang tengah.
"Nek... aku tak bisa menikah dengan cara seperti ini! aku tak mau aku juga tak terima diperlakukan seenaknya saja oleh Nathan Nek tolong aku . aku mohon sama Nenek bantu aku batalkan pernikahan ini. " ucapnya dengan memelas dan raut wajah yang hampir berlinang kristal putih kembali.
"sayang sudah ya keputusan ini sudah dibuat untuk kebaikan kamu Nak. kami semua ingin yang terbaik buat kamu kedepannya kita sudah saling kenal dengan keluarga mempelai laki-laki nya apa lagi memangnya yang kamu cari? "
"aku... aku sudah punya seorang kekasih Nek. aku mohon dia juga akan memperjuangkan aku Artha Nek akan menemui Nenek nanti. "
Vivi pun terus berusaha menyakinkan keluarganya supaya membatalkan pernikahan yang tidak masuk di akal tersebut. menurutnya pernikahan ini sangatlah mengganggu karena ia tidak menginginkan pernikahan ini dan Vivi sudah memiliki calon tersendiri untuk dipertimbangkan menjadi pasangannya dikemudian hari. mulai dari Nenek Aria Bu Riris Kriss dan Jojo pun tak mau bersuara ataupun bergeming dengan keputusan yang sudah dibuat tersebut.
__ADS_1
Vivi terlihat sangat kecewa karena sikap yang sangat di junjung tinggi oleh keluarganya tersebut. sampai Kakaknya sendiri pun tak bisa membantunya dalam hal ini. Jojo hanya dapat mengingatkan Vivi bahwa Nathan adalah laki-laki yang terbaik untuk kehidupan Vivi setelah menikah nanti.
rasa takut dan kebencian yang begitu besar kepada Nathan membuatnya seolah ia akan menikah dengan seekor beruang kutub yang tidak berperasaan.
demi mendapatkan mangsanya beruang tersebut akan melakukan segala cara walaupun harus menumbangkan beruang lainnya yang mengincar apa yang diinginkannya.
seketika ruangan pun menjadi hening tanpa adanya suara setelah mendengar kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh Vivi. yang menyebutkan bahwa telah memiliki seorang kekasih yang akan saling memperjuangkan perasaan mereka masing-masing.
di saat yang bersamaan Nathan memperhatikan situasi diruangan itu yang entah sudah beberapa menit yang lalu seperti ruangan yang tanpa tanpa suara ataupun canda tawa yang semula menghiasi ruangan tamu tersebut.
"ehem... apa yang diucapkan Vivi itu tidak benar ya kan Vi? maksudnya seorang Silvia yang terkenal dari keluarga terpandang dan menjunjung tinggi apa yang diyakini oleh keluarganya tidak akan pernah menentang pernikahan ini bukan? "
dengan segera Nathan menyelipkan sebuah senyuman kecil sembari mengedipkan matanya mematapnya lekat. namun tak dihiraukan oleh Vivi. ia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan dengan Nathan.
"apa... aku... aku tetap ingin... " dengan terbata-bata dan rasa ragu yang menyelimuti nya sebelum Vivi menyelesaikan ucapannya tiba-tiba dari arah belakang dengan santainya Nathan melingkarkan tangannya ke pinggang wanita yang menjadi pujaannya tersebut.
sontak perbuatan tersebut telah menyulut api kemarahan yang terlihat di mata Vivi kalau itu. namun saat menyadari banyaknya mata yang sedang memperhatikan tingkah mereka berdua. membuat sebuah rona merah yang terlukis di pipinya hingga ke kuping.
betapa malunya Vivi setelah beberapa keluarga yang lain menyoraki mereka. "apa sih maunya ini orang?! membuatku malu saja" gumamnya dalam hati.
Nathan pun membisikkan sebuah kata-kata yang membuat Vivi bulu halus di sekujur tubuhnya seolah berdiri tegap. " aku akan memanjakanmu lain kali di lain kesempatan untuk kita berdua habiskan bersama-sama dalam kenyamanan dan kenikmatan. "
...****************...
πmohon maaf untuk semua pembaca karena terlambat mengupdate dikarenakan anakku sedang kondisi bapil diusahakan secepat kilat yaa untuk update selanjutnya terimakasih yang sudah setia ππ
__ADS_1