
tanpa pikir panjang vivi pun lngsung membuang kotak tersebut! " siapa sih yang iseng seperti ini! " dengan nada kesal bercampur aduk dengan perasaan yang bercampur aduk! vivi memikirkan siapa yang kira kira yang tidak menyukainya sampai mengirimkan kotak tersebut.
" vii, jangan jangan si laki laki kemarin " sambil merapihkan isi tasnya dina mulai menebak nebak tentang si pelaku pengirim hadiah tersebut.
"jangan mengada ngada deh din! nanti kalau orang nya dengar bisa jadi masalah! " pungkas vivi tergesa gesa.
tak butuh waktu lama ternyata seseorang yang dari tadi menunggu di depan gerbang adalah si pengirim kotak tersebut! " hei! perempuan ! dengan sengaja laki laki itu berteriak, sontak membuat orang orang di sekitar mereka pun mulai mencari sumber suara tersebut.
"hei! katakan padaku! apakah kau suka dengan hadiah yang ku kirim itu? " dengan menegakkan kepala, sembari memberikan senyuman nakal laki laki itu pun menggoda vivi dan dina yang sedari tadi memperhatikannya.
"apa maksut mu, mengirimkan hadiah konyol seperti itu! tidak sopan! " perasaan vivi pun makin bercampur aduk, ia ingin sekali dapat memberikan pelajaran pada laki laki tersebut! "sepertinya sebuah tamparan pun tak akan cukup bagimu! " mengumpat dalam hati.
"hahahahaha. . . . gadis BODOH!" laki laki itu pun tertawa dengan perasaan yang puas hingga ia hampir terjatuh. karena mengetahui laki laki itu tertawa vivi dan dina pun bergegas pergi meninggalkannya.
saat hendak meninggalkan laki laki itu mereka kembali di hadang oleh beberapa laki laki lainnya. "Hai gadis gadis. . . hahahahhaa " sambil mencoba untuk menarik tangan salah satu dari vivi dan dina dengan tatapan yang menyeramkan, seakan ingin memangsa dia gadis ini pun ketakutan di buatnya. terlihat dari kejauhan nathan sedang memperhatikan mereka tanpa disadari satu orang pun.
"ka... kalian ada keperluan apa! " vivi memberanikan diri untuk bertanya dengan hati yang masih kebingungan. "siapa kalian? kenapa menghadang kami? salah apa kami? " tanpa pikir panjang dengan cepat vivi pun melontarkan pertanyaan yang bertubi tubi.
"hahahahahaaaa..... hahahaaaaaa. . . " setelah puas mempermainkan vivi dan dina laki laki itu pun pergi meninggalkan mereka tanpa memberikan penjelasan apapun.
"din! lo gapapa?" tanya vivi penasaran dengan perasaan yang cepat ia pun memeriksa kondisi sahabatnya tersebut. " gue gapapa vii. udah tenang aja" dengan sedikit gemetar, tanpa sadar dina pun terjatuh karena lemas.
"eh.. eh.. din lo.. kenapa? " tanya vivi cemas menghkhawatirkan sahabatnya tersebut. lalu membantunya untuk berdiri kembali. "gue gapapa vii , cuma kaget aja. " dina pun langsung sigap memberikan jawaban agar sahabatnya tersebut tenang dan tidak mencemaskan nya lagi.
"udah sini, gue anter pulang! " dengan nada sedikit memaksa vivi pun bergegas pergi menuju tempat parkir sambil memapah dina hingga masuk ke dalam mobil. "thanks... vii lo yang terbaik. " dengan perasaan yang lega dan senyuman tipis di wajah dina, dina pun mulai tertidur. vivi pun mulai berpikir adakah kejanggalan jadi peristiwa tadi atau siapakah pelaku yang sebenarnya.
__ADS_1
sepanjang perjalanan turunlah hujan dibarengi dengan gemuruh petir dan kilat yang menyala, vivi pun melajukan mobilnya dengan kencang.
setelah selesai mengantar dina pulang, hatinya tak tenang karena kejadian tadi sore yang menimpa vivi dan sahabatnya tersebut. vivi pun memutuskan memutar kembali mobilnya ke arah kampus. dari arah yang berlawanan terlihat nathan mengendarai sebuah mobil sport melaju perlahan.
"mobil sport. siapa malam malam yang menggunakannya ? " vivi pun meminggirkan mobilnya dan menoleh ke arah kaca spion dengan perasaan yang bingung. dan terus melakukan mobilnya secepat mungkin.
selang beberapa saat vivi pun sampai di depan kampus, dan melihat lihat sekitar seperti sedang mencari cari sesuatu. " mencari apa? " suara itu datang dari arah belakangnya, sontak vivi pun terkejut karena mendapati laki laki yang muncul di hadapannya itu adalah nathan.
"tidak mencari apa apa." vivi pun bergegas pergi meninggalkan nathan.
keesokan harinya jam menunjukan pukul delapan, vivi pun bergegas menaiki anak tangga menuju kelasnya, hingga sesampainya di depan kelas jari jemarinya mulai memegang gagang pintu berusaha untuk membuka pintu tersebut namun terhenti oleh tangan seorang laki laki yang juga berusaha memegang gagang pintu.
sontak vivi pun mendelik melihat laki laki di sampingnya tersebut. dan menarik kembali tangannya.
"ya Tuhan.... sihir apa yang ia gunakan! " mengumpat dalam hati. vivi pun tak bisa berkata apa apa lagi setelah memandang nathan.
apa orang ini bisu! tidak bisakah dia menjelaskan apa maksut kejadian barusan. memegang tangannya tanpa ijin adalah sebuah pelanggaran besar bagi ku. vivi pun mengumpat dalam hati.
vivi tak suka apabila ada orang lain yang asal menyentuh tangan tanpa seijinnya.
vivi pun bergegas pergi meninggalkan nathan di depan pintu , hanya menatap ke arah punggung vivi dari kejauhan.
nathan hanya diam saja, ia tau bahwa pembelaannya saat ini bukanlah yang di inginkan oleh vivi.
vivi pun duduk dan bersandar di salah satu bangku terdepan, ia mencoba meraih sesuatu di dalam loker mejanya dengan tangannya sendiri dan mendapati ada sebuah kotak lagi yang tersimpan di bawah mejanya.
__ADS_1
kotak itu terbungkus oleh kertas berwarna pink dn diberi sedikit hiasan pita di ujungnya.
"punya siapa ini? "
sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari cari pemilik dari kotak tersebut. tetapi tak ada satu pun yang merasa memilikinya.
vivi pun membuka kotak tersebut dan seketika bola matanya pun membulat.
vivi pun mendorong kursinya sedikit menjauh dari meja. " ini... ini... ulah siapa lagi! " vivi pun menyipitkan mata dan berusaha bertanya kepada teman teman di kelas nya tanpa tahu siapa pemilik sekaligus pengirim kotak tersebut.
"viii ada apa? tanya riri sembari menepuk pundak temennya tersebut. sontak menyadarkan vivi dari pikirannya yang sedang kacau.
vivi pun menggelengkan kepalanya dan berusaha agar tetap terlihat tenang , lalu menutup kotak tersebut secara tergesa gesa dan memilih untuk pergi.
saat vivi ingin membuang kotak tersebut nathan datang menghampiri dan merebut kotak tersebut dari tangan vivi.
"sini! "
vivi pun menoleh ke arah nathan dan matanya terbebalak karena di kejutkan dengan kehadiran nathan yang tidak ia sadari.
"kamu! yang mengirim kotak itu? "
nathan pun hanya memberikan tatapan yang dingin kepada vivi setelah mendengar ucapannya barusan .ia pun pergi meninggalkan vivi sendiri melajukan mobilnya dengan cepat.
vivi pun merasa kecewa. ia seperti di permainkan pikirannya pun bercampur aduk memikirkan satu satu temannya dan menebak nebak siapa kah yang membencinya sampai seperti ini.
__ADS_1
" aku vivi tidak boleh takut oleh apapun itu! " ini pun berusaha membuat hatinya kembali tenang dengan kata katanya tersebut, seolah menebalkan pertahanan di hatinya agar tidak mudah berprasangka buruk dan tetap tenang.