
"yang aku tahu Nathan sangat peduli padamu, kenapa sampai hati kau membencinya Vi? jika mengingat kala itu perhatiannya jauh lebih besar dibandingkan dengan yang lain Vi" jawab Dina dengar mata berkaca kaca.
"kala itu? makasud mu? apa aku melewatkan sesuatu? " tanya Vivi lagi.
"hmm... tidak sepertinya tidak ada yang terlewat hanya saja mungkin potongan ingatanmu yang masih bermasalah! jika aku jadi kamu Vi aku akan bersyukur memiliki seseorang yang selalu melindungiku. " jawab Dina sembari menghapus kristal bening yang mengalir membasahi pipinya.
"apa sih yang kamu bicarakan! ingatanku kenapa? tidak ada yang hilang atau bermasalah dengan ki mengapa kalian semua memperlakukanku seperti seorang pasien yang hilang ingatan! " mendengar ucapan Dina membuat Vivi menjadi kesal. ia terus berusaha untuk menepis semua yang di tudingan padanya.
"aku sudah tak tahan Nathan! kau harus segera membereskan ini! " gumamnya dalam hati.
"maaf kalau perkataanku memang menyinggungmu Vi, hanya saja... apa yang aku lihat dengan apa yang aku dengar tidak sesuai makanya aku protes denganmu. karena sudah membenci orang yang salah menurutku" dengan raut wajah yang cemas Dina memberanikan diri untuk mendekati Vivi yang sedari tadi hanya duduk termenung di balik tirai dekat dengan balkon kamarnya.
"hmm... tak apa aku juga mungkin yang salah karena memang pernah terjadi apa yang kamu ucapkan tadi Dina, tentang ingatanku yang dulu dan sekarang. aku takut tak bisa membedakannya, orang yang seharusnya ku benci dan yang harusnya ku lindungi juga yang dulu dan sekarang apakah masih sama atau berbeda? "
Deg!
buku yang sedari tadi dibaca oleh Dina pun terjatuh seketika, setelah mendengar pengakuan dari Vivi yang membuatnya sedikit terkejut. "Vi... apa kamu mengingat sesuatu? tapi jangan terlalu memaksakan diri pelan pelan saja kondisimu belum bisa untuk mencoba.... " belum selesai Dina berbicara matanya pun kembali berkaca kaca setelah berbalik badan seketika ia melihat kondisi Vivi yang sudah terbaring di lantai balkon kamarnya.
Dina pun panik dan bergegas berlari menghampiri Vivi, memapahnya sekuat tenaga sembari terus berteriak meminta bantuan dari luar ruang kamar Vivi. setelah lelah berteriak akhirnya Bu Riris dan Bi Mira pun bergegas masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Bu Riri Bi Mira dan Dina pun bersama sama berusaha membawa Vivi mengangkatnya dan menidurkan nya di atas kasur yang biasa ia gunakan. wajahnya pun terlihat sedikit pucat. melihat kondisi Vivi yang terbaring lemah membuat Dina merasa bersalah karena telah memancing Vivi untuk mengingat tentang masa lalunya, membuat cairan bening seketika membasahi pipinya. melihat itu Bu Riri pun mengelus punggung Dina untuk membuatnya sedikit tenang.
"seharusnya aku tak memancing Vivi untuk mengingat masa lalunya tante! tolong maafkan aku. " suara Dina samar karena isak tangis yang tak tertahankan namun Bu Riri dapat memahaminya karena sejatinya Bu Riri lah sama khawatirnya dengan Dina namun ia tetap tegar dan tidak mau memperlihatkannya kepada orang lain.
setelah 30 menit berlalu Vivi pun akhirnya sadar ia merasakan kepalanya terasa sedikit sakit karena terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya yang hilang. namun ke sadarnya tersebut sedikit membuat Bu Riri merasa lega, setidaknya kondisi Vivi sudah tidak mengkhawatirkan lagi.
"sayang... apa yang sekarang kamu rasakan? kepalanya masih sakit? " tanya Mamah penasaran.
"sshh.. masih Mah, sedikit sakit saja. sudah gapapa Mah.
" Vi... beneran gapapa? apa ada bagian yang masih terasa sakit? mau di pijitin kepalanya? " tanya Dina lagi memastikan sahabatnya tersebut tidak merasakan sakit di kepalanya lagi.
"heemm..." Vivi hanya menjawabnya dengan mendehem.
"boleh, mau tanya tentang apa sayang? " membelai lembut rambut Vivi yang terurai.
"hmm... apa yang sebenarnya terjadi kepada ku Mah setelah kejadian itu? mengapa kalian semua sepertinya mengetahui sesuatu tetapi aku tidak? "
Deg!
__ADS_1
mendengar itu hati seorang ibu pun meronta seperti tertusuk seribu jarum dalam sekali waktu sekaligus. tak tahu harus memberitahu semua kenyataan atau untuk sementara menyembunyikan kenyataan yang ada. entah kondisi anaknya tersebut kuat atau tidak jika mendengar semua cerita lengkapnya.
"jawab aku mah! sudah saatnya aku tahu semua. sudah cukup aku bersembunyi di balik kalian aku juga harus menghadapi kenyataannya pait atau pun manisnya masa laluku"
menatap mata bulat anaknya Bu Riri pun hanya bisa menghela napas panjang seperti sedang menimbang nimbang sesuatu. Bu Riri pun mengeluarkan benda pipih dari dalam saku bajunya mencari nama dan mengetik beberapa kata lalu mengirimkannya ke seseorang. setelah beberapa saat benda pipih itu pun berbunyi menandakan ada satu pesan masuk, nama yang tertera adalah suamiku.
Bu Riri pun membuka pesan tersebut secara perlahan, saat hendak memasukkan benda pipih itu ke dalam skau bajunya tiba tiba terdengar suara berdering. sontak membuat Vivi dan Dina menoleh ke arah yang sama secara bersamaan Bu Riri pun hanya bisa memoles sebuah senyuman kepada dua anak gadis yang menatapnya secara bergantian.
"hmm... maafkan Mamah Vi melihatmu seperti ini Mamah sudah sangat bersyukur tapi, Mamah tidak bisa berlama lama disini karena di bawah sana ada seseorang yang sedang menunggu. nanti kita lanjutkan lagi ya pembicaraan ini. " Bu Riri tau itu bukanlah alasan yang tepat untuk begitu saja meninggalkan Kamar Vivi dengan mata dua gadis yang masih menatapnya bingung. nemun Bu Riri tidak tahu harus berkata dari mana karena pesan yang tertulis tadi ia di minta untuk merahasiakannya karena tidak mau membahayakan nyawa Vivi lebih jauh lagi sebelum Vivi mengingat semuanya. dan karena kasus yang menimpa anaknya tersebut sebenarnya belum selesai dan masih proses pencarian pelaku utamanya.
*
*
"setelah berkelit dengan pikirannya perlahan namun pasti Nathan mulai merebahkan tubuhnya sesaat di atas tempat tidur miliknya. ia mulai mengingat salah satu rekan bisnisnya yang memiliki ciri ciri persis seperti yang Dandy bicarakan, namun Nathan tak bisa begitu saja melayangkan tinjuannya ataupun hukuman langsung kepada orang tersebut sebelum bukti buktinya terkumpul jelas.
membayangkan itu saja sudah bisa membuat isi kepala Nathan seolah olah ingin meledak keluar karena tak kunjung menemukan bukti dan jawaban yang pasti. sesaat ia memikirkn kondisi Vivi yang kian hari potongan ingatannya mulai kembali.
karena lelah yang di rasakan nya sudah sampai ke ubun ubun Nathan memilih untuk mendiskusikannya dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mom... Dad... apa yang harus aku lakukan sekarang? pikiranku sudah buntu, tak tahu harus bagaimana lagi. informasi Dandy belum sepenuhnya akurat masih harus mencari lebih dalam lagi. tapi bagaimana dengan kondisi Vivi apa aku harus tetap seperti ini? "
"Momy tahu kamu pasti lelah tapi harus sabar anak ganteng, kita semua ingin yang terbaik buat Vivi. Momy juga pingin kamu segera menikahinya. " jawab Momy dengan nada yang santai sambil menepuk nepuk pundak anaknya tersebut.