
setelah berbicara panjang lebar dengan kedua orang tuanya, barulah Nathan bisa sedikit merasa lega setelah berbagi keluh kesahnya kepada orang lain dapat meringankan sedikit beban dipikirannya.
tak lama kemudian benda pipih yang sedari tadi ia genggam pun berbunyi, sebuah panggilan telepon pun masuk nama yang tertera dalam panggilan tersebut adalah Dandy. melihat panggilan itu dari Dandy ia pun begera melangkahkan kaki meninggalkan kedua orang tuanya yang berada di ruang tengah. dengan segera Nathan pun mengangkat teleponnya yang terus berbunyi.
"apa informasinya sudah akurat? " sambutan pertama yang diberikan Nathan adalah sebuah pertanyaan yang mengharuskan Dandy untuk segera menjawabnya.
"ya tuan, sudah semuanya akurat. " jawab Dandy.
"siapa dia? dan apa hubungannya dengan aku dan Vivi? " tanya nya Nathan lagi kemudian.
"dia adalah Albert rekan bisnis tuan yang sering berpergian keluar kota membawa serta Adit dan... " belum selesai Dandy berbicara sudah di potong langsung oleh Nathan.
"dan Mika benar? lantas apa hubungannya mereka? segera kembali kesini dan ceritakan semuanya padaku!" jawab Nathan memerintah dengan raut wajah yang marah dan bingung.
Nathan berusaha menelaah setiap ucapan yang Dandy ceritakan tadi. memikirkan masing masing peristiwa yang terjadi dan dikaitkan dengan yang terjadi dimasa lalu kini mulai terhubung dengan jelas. potongan potongan kejadian itu pun mulai nampak. kini Nathan tahu siapa dalang dibalik semua peristiwa yang selama ini terjadi.
Dandy pun bergegas menemui Nathan di kediamannya untuk menyampaikan informasi yang ia dapat. melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memerdulikan benda pipih di sampingnya yang sedari tadi telah berdering kembali.
setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya Dandy pun sampai didepan gerbang utama rumah keluarga Standly tempat majikannya berada. saat Dandy ingin memasuki pintu utama Nathan telah menunggunya dengan tangan masih mengepal dan raut wajah yang kesal.
"ceritakan padaku semuanya! " perintah Nathan.
"menurut informasi Albert sudah beberapa kali pergi keluar negri untuk melakukan oplas. merubah wajah dan penampilan nya yang berbeda setiap berkunjung di negara yang berbeda dan dengan identitas yang berbeda beda. entah untuk tujuan apa tuan. yang pasti dia begitu antusias mengikuti perkembangan Vivi sejak kejadian itu. "
Deg!
"apa... apa katamu? dia mengikuti setiap perkembangan Vivi sejak kejadian? " tanyanya Nathan lagi kemudian.
"sejak kejadian naas yang menimpa kalian. "
__ADS_1
mendengar setiap ucapan Dandy seolah membuat hati Nathan seperti tersayat. dadanya terasa sangat sesak saat itu luka lama yang telah tertutup rapat kini terbuka lebar kembali. menampakan daging yang awalnya sudah mengering kembali basah dan terbuka oleh luka sayatan yang baru.
"tuan... tuan... anda tidak apa apa? Dandy pun menatapnya kasihan baru kali itu majikan nya tersebut terlihat begitu tak berdaya.
informasi yang baru diberikan seperti sebuah sayatan dan tamparan keras bagi Nathan. ia mengira ini semua adalah setingan yang sengaja Albert buat untuk menjatuhkannya di masa mendatang. dengan cara mengincar hal yang begitu penting bagi Nathan sejak dulu.
Nathan pun memutar otaknya untuk dapat berpikir keras tujuan sebenarnya dari rencana yang dijalankan oleh Albert. apa yang sebenarnya dia incar dan kenapa harus orang terdekatnya yang terkena imbas dari perbuatan yang entah letak kesalahannya dimana.
"apa... anda mengingat kejadian dimasa lalu tuan?" tanya Dandy ragu ragu.
"ya! jelas aku ingat bahkan tak terlupakan sedikitpun semenjak hari itu terjadi. tubuhku waktuku tak pernah lupa. " jawab Nathan lemas.
"apakah ada satu kejadian yang membuat seseorang atau anda menyinggung perasaan orang lain? "
"seingatku tidak ada kejadian semacam... tunggu! tunggu dulu! ada yang tidak pas dari kejadian itu! " sudut bibirnya pun terangkat. Nathan pun menjawabnya dengan ragu sembari menimbang nimbang sesuatu.
"coba katakan pada saya tuan. saya akan membantu. " Dandy pun berusaha mengorek informasi majikannya tersebut supaya dapat membantunya.
"aku ingat sekarang! sepertinya beberapa hari sebelum kejadian itu terjadi. aku bertemu dengan seorang laki-laki kira-kira usianya mungkin delapan belas tahun. dia adalah seorang gelandangan yang meminta uang untuk membeli rokok pada saat itu. namun yang aku katakan padanya sedikit menyakitkan, menghinanya dan memukulnya hingga dia terjatuh. saat itu aku tengah bersama Vivi yang berlari lebih dahulu dan aku mengikutinya dari belakang."
kembali ke masa lalu
"Vi... tunggu aku! nanti tersesat bagaimana?" Nathan berusaha mengejar Vivi yang terus berlari di depannya. namun saat ingin meraih tangan Vivi ia dihentikan oleh seorang laki laki.
"katakan saja pada kakak ku aku akan segera pulang kerumah! " Vivi pun melebarkan senyumannya sambil terus berlari meninggalkan Nathan yang seketika mematung karena keterkejutan nya.
"tolong bantu aku. berikan aku sedikit uang! "
mendengar itu Nathan pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara yang terdengar seperti memohon sesuatu kepadanya yang hanya seorang anak-anak biasa.
__ADS_1
"sudah dewasa kenapa meminta uang kepada anak kecil seperti ku? dasar sampah! "
saat hendak meninggalkan Albert yang terus memegangi tangannya sambil memohon. Nathan pun menghempaskan tangannya hingga terlepas dari cengkraman tangan Albert.
"aku tahu anak sepertimu ini memiliki uang yang banyak. aku hanya memintanya sedikit untuk keperluan ku saat ini! "
Nathan hanya membalasnya dengan memberikan tatapan yang hina. membuat Albert menjadi semakin marah karena ulahnya.
"anak kecil kurang ajar!"
plak!
"aku tak meminta pendapatmu! dasar sampah! pergi sana menjauh dariku! orang sepertimu begitu menjijikan. orang dewasa yang meminta uang kepada anak kecil adalah seorang sampah! " Nathan pun pergi meninggalkan Albert yang menatapnya penuh dengan kebencian karena telah berhasil melayangkan sebuah tamparan tepat di wajahnya.
mendengar ucapan Nathan yang menghinanya. Albert pun mengepalkan tangannya lalu mengejarnya sekuat tenaga. menarik kerah bajunya dan mendorongnya cukup kencang kearah jalanan yang kosong kala itu.
akibat dorongan itu Nathan terjatuh tersungkur dengan sedikit luka gores di lutut kakinya. ia pun hanya bisa meringis karena merasakan sedikit rasa sakit yang mulai menjalar di tubuhnya saat itu.
"akan ku buat kau menyesali kata-kata mu barusan anak kecil! bisa apa kau tanpa orang tuamu! bocah sialan! "
bbuugghh!
Nathan pun bangkit dan berusaha melayangkan sebuah tinjuan tepat kearah wajah Albert yang saat itu sedang menatap kearah yang lainnya.
"aku? setidaknya aku tak meminta belas kasihan dari seorang anak kecil sepertiku bodoh! meminta uangku? usaha lah! orang dewasa sepertimu hanya bisa meminta? apa kau lumpuh?"
"berisik kau anak kecil! akan ku buat kau menderita suatu hari nanti! liat saja pembalasanku! "
"Nathan.... kamu dimana? Nathan Nathan .... jawab aku! " dengan napas yang terengah-engah Vivi pun akhirnya menemukan Nathan. Vivi pun menatapnya heran saat melihat ada luka di ujung bibir temannya tersebut.
__ADS_1
"pria dewasa tidak tahu diri! pergi kau! akan ku hajar bila kita bertemu lagi. jangan pernah tampakan wajahmu di hadapanku lagi! "
"suatu hari nanti! ingat itu!" setelah mendengar ucapan pedas Nathan yang bertubi-tubi Albert pun memutuskan untuk pergi meninggalkannya lebih dahulu sebelum ada orang lain yang melihat perbuatan kasarnya kepada seorang anak kecil.