Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
28. rencana pernikahan


__ADS_3

Nenek Aria meminta Vivi untuk duduk di sebelahnya dan mendengarkan semua rencana yang sudah di susun rapih oleh dua keluarga besar tersebut.


mendengar rencana pernikahannya Vivi pun terkejut. ia membulatkan matanya saat mendengar berita tersebut dari mulut Nenek Aria. apa yang di harapannya ternyata tak dapat ia raih sepenuhnya.


hubungannya dengan Artha dosen terkeren di kampusnya tersebut tak berjalan mulus. kedua orang tua Vivi ingin mereka mengakhiri hubungannya karena telah menentukan pilihan terbaik untuk anak perempuannya tersebut. dan demi persahabatan kedua keluarga yang sudah turun temurun terjalin begitu lama.


Kriss Lee dan Neo Stanly sudah bersahabat sejak mereka masih anak-anak sbegitu pula dengan Nenek Aria dan Kakek Neol. hubungan itu akan terus berlanjut hingga anak cucu cicit mereka nantinya.


Vivi tak habis pikir dengan keputusan keluarganya itu. karena sebelumnya tak ada omongan atau penjelasan sama sekali dari pihak keluarganya. ia hanya di minta untuk mempersiapkan diri jauh dari bayangannya saat ini yang harus patuh pada aturan jaman dahulu yang masih dipegang oleh dua keluarga tersebut.


perasaannya pun kacau balau saat itu. hatinya seperti ada sebuah lubang yang dengan sengaja diberikan celah dengan menggunakan belati yang tajam untuk menusuknya dari dalam.


entah sudah berapa lama rencana ini di sembunyikan darinya. sampai hati mereka semua melakukan ini hingga Vivi merasakan sakit yang teramat sangat didalam hatinya. Orang-orang yang disayanginya ternyata sudah sering menggunakan topeng kebohongan untuk menutupinya.


"Nek... aku ingin bicara berdua saja bisa? "


"katakanlah nak. apa yang ingin kau sampaikan? apa cucu Nenek ini begitu bahagia sampai tidak bisa ber kata-kata? Nenek Aria pun tersenyum sembari tangannya membelai lembut kepala cucunya kesayangannya tersebut.


Nenek Aria dan Vivi pun berpamitan sebentar menuju sisi ruangan yang lain supaya pembicaraan mereka tidak terdengar oleh orang lain.


"Nek.. aku sudah mempunyai calon dan itu Artha kenapa Nenek dan kedua orang tuaku memutuskan hal seperti ini sendiri tanpa bertanya kepada ku? " matanya pun ber kata-kata dan tatapan yang menuntut penjelasan atas semua yang telah terjadi.


"ya. Nenek tahu tapi inilah keputusan Nenek dan kedua orang tuamu! kami ingin yang terbaik dan sudah sejak kalian kecil perjodohan ini telah terjalin. " Nenek Aria menegaskan setiap ucapannya dengan perasaan yang tetap terlihat tenang.


"aku tak bisa Nek! aku menolak perjodohan ini! batalkan semuanya aku tak terima laki-laki brengsek itu menjadi suamiku! aku menolak! " pada akhirnya Vivi tak bisa menahan tangis dan rasa sesak yang menyelimuti dadanya.


"apapun keputusan Nenek dan kedua orang tuamu itu sudah tidak dapat diubah. kamu adalah kebanggaan keluarga Lee Nenek akan pastikan kamu memilih yang terbaik untuk hidupmu kedepan. " dengan tatapan yang masih terlihat tenang dan berbangga diri atas semua keputusan yang telah diatur.


"aku tak mau! kalian semua tak adil padaku! aku benci kalian semua! " dengan berderai kristal putih yang terus mengalir membasahi pipi sembari berlari keluar ruangan tersebut dengan perasaan yang penuh sesak di dadanya.

__ADS_1


rasa kecewa yang begitu besar tengah di rasakan oleh Vivi. kekesalan yang begitu besar kepada keluarganya yang hanya berpegangan pada kepercayaannya dari jaman dahulu dan tetap dipegang hingga sekarang membuatnya muak.


mengunci dirinya sendiri adalah pilihan terbaik yang dimilikinya saat ini. tetapi untuk membuang sebuah hayalan masa depannya dengan seseorang yang benar-benar di cintainya adalah pilihan yang sulit. memperjuangkan di hadapan keluarganya seperti sebuah harapan palsu yang tak akan pernah terkabul sampai kapanpun.


...


di ruang tamu mereka semua begitu bersemangat dalam hal menentukan tanggal bulan pernikahan untuk kedua calon pengantin.


Nathan yang sedari tadi bersandar di tembok mulai mencari keberadaan Vivi yang entah sudah berapa lama menghilang dari pandangannya.


mengetahui Vivi sudah pergi dari ruangan itu Nathan pun bergegas mencarinya ke sekeliling rumah. namun hanya satu tempat yang pastinya akan di datangi oleh Vivi sendiri yaitu tempat ternyaman nya ketika berada dirumah adalah kamar pribadinya.


tok! tok! tok!


Vivi yang tengah dalam posisi tengkuret dengan wajah yang tertutupi bantal pun akhirnya menoleh ke arah suara ketukan pintu itu berasal. sembari membereskan riasan di wajahnya yang kacau akibat tangisan yang tak terbendung itu.


dengan mata yang sedikit sembab Vivi melangka menuju suara ketukan pintu tersebut. "siapa? aku tak mau diganggu cepat pergi! " Vivi pun pergi dengan melnagkahkan kakinya perlahan dengan tangannya yang sesekali mengusap cairan bening yang terus menerus mengalir tanpa henti.


karena suara ketukan itu terus berlanjut Vivi merasa sangat terganggu. " awas saja aku akan memakinya jika ketahuan dan tak mau berhenti mengganggu ku! " umpat nya dalam hati.


Cekrek!


akhirnya pintu yang terkunci itupun di buka. ketika pintu dibuka sontak saja membuat Vivi terkejut karena yang tengah berdiri di depan pintu tersebut adalah laki-laki yang sangat di bencinya karena menghancurkan semua rencana untuk masa depannya bersama Artha.


"KAU! Ada KEPER.... "


belum selesai Vivi berbicara Nathan udh menggendong nya dan menutup pintu tersebut rapat-rapat.


"diam!

__ADS_1


Vivi pun berusaha memberontak agar Nathan melepaskan dan menurunkannya dan gendongan. "akan ku beri kau pelajaran supaya hal ini tak terulang lagi di kemudian hari Silvia. kau begitu meremehkan ku rupanya! " dengan


mendengar kata-kata itu membuatnya sedikit takut. Vivi pun dengan terpaksa membungkam suaranya namun tangan yang masih memberontak tak terima.


Bruk!


Nathan menghempaskan tubuh ramping Vivi di atas kasur ia langsung mengangkat kedua tangan Vivi keatas dan mencengkram nya dengan kuat. dan tubuh atletis nya itu hampir menindih tubuh ramping Vivi yang saat ini tepat berada di bawahnya.


menghimpit nya dengan tatapan penuh makna seketika Nathan merasakan benda kenyal yang terus bergerak berusaha untuk melepaskan diri dari himpitan tersebut. darahnya pun seperti mengalir dan mendidih ketika memikirkan sesuatu yang begitu intim terbang dalam lamunannya.


sentuhan itu membuat buldoser yang sedari tadi tertidur pulas tiba-tiba saja menjadi berdiri tegap untuk meminta lebih dari yang dilakukannya barusan.


"apa... apa kau akan kau lakukan! lepaskan tanganku dan pergi dari sini. aku muak dengan mu! kau sama saja seorang sikopat gila! " Kata-kata ketus Vivi barusan telah membuat sayatan kecil di hati Nathan.


dengan senyum menyeringai Nathan menatap mata Vivi dalam. "apa yang akan aku lakukan? apakah itu sebuah pertanyaan? ha ha ha. " Nathan tertawa puas melihat raut wajah Vivi yang berubah kesal karenanya.


"Laki-laki yang tak memiliki perasaan! apa yang akan kau lakukan padaku! "


"aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya! dan persiapkan dirimu dari sekarang Silvia! " dengan tatapan yang tajam Nathan kembali menekankan setiap kata yang di ucapannya.


......................


mohon maaf karena alur ceritanya yang kurang penulis masih pemula dan masih harus belajar banyak.


terimakasih juga untuk kalian yang sudah memberikan dukungan , yang sudah menyukai dan membaca cerita ini.


semoga penulis bisa lebih kreatif lagi dalam menulis ceritanya 🤲 aamiin


diusahakan agar penulis bisa update secepat kilat. 😌 terimakasih untuk kalian semua

__ADS_1


jangan lupa di komentari yaa 😇


...****************...


__ADS_2