
"huh. akhirnya habis juga ice cream ini. " ia pun menghela nafas sambil sesekali melirik ke arah jendela yang tertutup tirai putih. vivi teringat sebelum memasuki rumahnya tadi ia melihat sebuah mobil mewah yang terparkir.
angin berhembus melalui celah celah pintu dan jendela yang terbuka, menerbangkan sebagian tirai putih membuat rambut ikal nan panjang milik vivi pun tertiup oleh hembusan angin.
dengan perasaan yang penasaran ia pun berusaha untuk mencari tahu pemilik dari mobil mewah tersebut. vivi pun membuka sebagian tirai jendela melirik ke arah si pemilik mobil tersebut namun terhalang oleh dedauhan pepohonan yang ada.
hayalannya pun terpecahkan seketika terhenti oleh kedatangan bi mira di dapur.
" non! lihat apa? mau bibi buatkan makanan kesukaan non vivi?" bi mira pun berusaha menawarkan makanan kesukaan vivi sambil tersenyum lebar berusaha mengalihkan pandangan vivi dari balik jendela.
" eh.. itu... tidak bii tidak usah.! hmm..bii aku mau....mau tanya “
bi mira pun mengangguk seperti sudah dapat membaca pertanyaan apa yang akan di lontarkan oleh vivi.
" cowo itu ganteng loh non. " bi mira pun tersenyum kegirangan seolah olah telah melihat bahwa majikannya tersebut telah salah tingkah di depannya, " bukan itu bii..aduh itu loh...siapa dia bii? vivi hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan bi mira yang sedari tadi memandangnya.
di bawah tangga vivi hanya bisa terdiam tanpa tahu harus bertanya dan memulai pertanyaan tersebut pada siapa. kedatangan sang mamah dari arah belakang pun tidak disadari oleh vivi yang sedari tadi duduk termenung. saat itu lah bu riri yang biasa di sapa mamah oleh vivi memegang pundak anaknya tersebut yang sontak membuatnya terkejut.
"dorr!!!viviviviviiiiiii...! "
"astaga!!mah! jatungku mah!" vivi pun membulatkan matanya sambil memegangi dadanya karena dikejutkan. "untung tidak copot ya heheheheeee" mamah pun tersenyum begitu senang melihat keterkejutan anaknya tersebut sambil mengelus rambut panjangnya yang terurai.
waktu pun tak terasa vivi berbincang sangat lama dan menceritakan berbagai topik mulia dari topik A sampai Z dan mendiskusikan berbagai macam hal yang ia suka dan tidak suka dengan sang mamah. mamah terlihat sangat senang mendengarkan anaknya tersebut bercerita banyak hal dengannya.
vivi pun terdiam sesaat dan memandang lekat kedalam mata sang mamah. "siapa dia mah? "
__ADS_1
tatapan mereka pun bertemu menjadi satu ,bu Ida pun hanya membalasnya dengan senyuman yang merekah terpancar di wajahnya yang menandakan betapa bahagianya hati sang mamah hari ini.
"jawab pertanyaan ku mah!. " dengan tatapan yang penuh teka teki vivi pun memberanikan diri untuk kembali bertanya. " dia? tamu penting mamah papah vii. " jawab mamah santai.
"hanya itu? apa sudah pulang orangnya? " tanya vivi kembali dengan nada sedikit tinggi. bu Riri pun hanya menggelengkan kepalanya dan memberikan sedikit kecupan manis di kening vivi.
"nanti juga kamu tahu. " bu Riri pun bergegas pergi meninggalkan vivi yang masih terduduk di bawah tangga menuju kompor untuk kembali memasak.
setelah selesai semua vivi pun bergegas menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya yang lelah dan menyadarkan kepalanya diatas tumpukan bantal yang begitu lembut.
keesokan paginya vivi melajukan mobilnya dengan santai berangkat dari rumah menuju kampus nya, tiba tiba ia di berhentikan oleh lampu lalu lintas yang menyala di pertigaan rel kereta api yang ia lewati.
vivi pun termenung menunggu pergantian lampu lalu lintas menjadi hijau, dari sisi lain ada yang sedang menunggu dan memperhatikan gerak gerik mobil yang di kendarai oleh vivi, seketika wajahnya pun menjadi sedikit pucat karena ia merasa sedang di perhatikan oleh seseorang yang entah siapa.
tak butuh waktu lama orang itu pun langsung mendatangi mobil vivi dan mengetuk kaca jendela mobil miliknya." astaga! orang ini!. " orang itu hanya menunjukan sebuah kotak yg terbungkus plastik putih.
mendengar itu vivi pun tak tega karena sudah berprasangka buruk padanya. dengan segera vivi menurunkan kaca mobilnya dan menjulurkan tangannya yang menyerahkan beberapa lembar uang untuk diberikan.
"ambilah uang ini pak." jawab singkat vivi.
"tidak nona. saya menjual hanya penjual bukan pemgemis. " orang itu pun menegaskan kata katanya lagi.
karna kasihan melihat orang tersebut sembari menimbng nimbang akhirnya vivi pun memutuskan untuk membeli kotak tersebut tanpa tahu isinya.
"terimakasih nona, terimakasih"
__ADS_1
dengan wajah yang gembira akhirnya orang tersebut pun pergi dan menghilang di balik padatnya kendaraan yang berbaris.
ketika hendak membuka kotak tersebut, lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau saatnya untuk vivi kembali melajukan kendaraannya.
setibanya di depan kampus ia pun memarkirkan mobilnya seperti biasa. dilihatnya kotak tersebut yang masih terlihat rapih tanpa lecet sedikitpun. perlahan namun pasti vivi mulai membuka kotak tersebut.
matanya pun seketika terbelalak setelah melihat isi kotak tersebut. vivi pun langsung membuangnya jauh jauh dari hadapannya. sekujur tubuhnya pun menjadi gemetar dibuatnya.
"si.. siapa..la...lagi lagi ini!" wajahnya pun pucat seketika, cara berbicara vivi pun menjadi terbata bata, yang ia ingat hanya membeli kotak tersebut dari seseorang yang tidak ia kenal dan sudah membayarnya dengan beberapa lembar uang.
vivi pun tak menyangka bahwa orang tersebut bisa setega itu membuatnya gemetar hingga seperti ini.
dari kejauhan terlihat kedatangan sebuah mobil hitam yang di kendarai oleh nathan, ia pun segera memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil vivi.
ketika nathan keluar dari pintu, ia melirik memberikan tatapan yang dingin melihat ke arah vivi yang masih gemetaran.
"ada apa? hei. . . hallo?" nathan pun menjentikkan jarinya beberapa kali, membuat lamunan vivi pun buyar.
"kau... kau lagi! ini pasti ulah mu atau anak buahmu lagi! vivi pun geram ia mengepalkan tangannya seakan akan ingin memberikan sebuah tinjuan yang keras tepat di wajah dingin itu.
" aku?" sambil menyipitkan mata nathan pun mengulurkan tangan kanannya untuk membantu vivi berdiri. namun tangan tersebut di tepis oleh vivi "tak perlu! aku tak butuh bantuanmu! " vivi pun menjawabnya dengan ketus. dan vivi pun memutuskan untuk pergi meninggalkan nathan di parkiran.
hatinya sungguh kecewa karena perbuatan yang di lakukan nathan terhadapnya."tak habis pikir! dia tega sekali terhadapku! " vivi melanjutkan langkah kakinya terus berjalan menuju kelasnya sendiri.
melihat vivi yang pergi begitu saja meninggalkannya sendiri, nathan hanya bisa menggelengkan kepala dan membuang nafas panjang. ia tak tahu bahwa vivi menjadikannya tersangka utama karena mengira dialah pelakunya selama ini yang telah meneror nya terus menerus.
__ADS_1
nathan pun berjalan perlahan sambil sesekali ia memberikan senyuman tipis di ujung bibirnya karena teringat kejadian tadi.