
melihat pintu yang dibuka secara perlahan Mika terkejut dan menjadi sedikit panik, terlebih lagi mendapati seseorang yang membuka pintu ruangan itu adalah Nathan. ia takut perbuatannya diketahui oleh orang lain.
begitu mendapatkan sebuah ide Mika pun menjalankan kembali aksinya yaitu mencoba menipu dan berperan selayaknya aktris yang disakiti oleh sahabatnya.
"kau.. kau tega Vii! salah ku apa bisa bisanya semua yang terjadi pada mu menjadikan aku sebagai pelakunya!. " dengan suara yang memelas Mika berusaha mencuri simpati dari Nathan.
"apa....?" Vivi hanya membalasnya dengan tatapan mata yang kembali menajam setelah apa yang ia dengar barusan.
"aku hanya ingin mengetahui kondisimu. kenapa kau mengusir ku! aku ini sahabat mu! aku sahabat baikmu" teriak Mika saat mengucapkan kalimat terakhir sembari meneteskan sedikit air mata yang membasahi pipinya.
"apa maksudmu? " Vivi tak percaya dengan apa yang di dengarnya. mencoba untuk bangkit namun tidak bisa karena tidak memiliki tenaga lagi.
"aku.. hanya ingin tahu kondisimu Vii? "
"tidak mungkin." lirih Vivi dengan menggelengkan kepalanya meski lemah. berusaha untuk tetap fokus dengan apa yang di lihat dan di dengarnya.
"kau benar benar keterlaluan Silviana Lee!" bentak Mika dengan penuh amarah. ia pun berlari menghampiri Nathan.
"mulai hari ini jangan tampakan wajahmu lagi di depanku.! " sahut Vivi dengan datar. wajah yang semua terlihat senang melihat kedatangan sahabat yang telah lama ia rindukan berubah seketika.
mendengar ucapan Vivi, Mika berlari menghampiri Nathan yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka dengan tatapan yang dingin dan memberikan sebuah pelukan erat. mendekapnya dengan penuh kemesraan.
Nathan pun menarik pinggang Mika dengan lembut, jari jemarinya membelai rambut panjangnya yang terurai, lalu menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya. melihat Vivi yang terdiam Nathan pun mengajak Mika untuk pergi dari ruangan yang membuat dadanya sesak.
*
*
"pergi kalian!! jangan pernah tampakan wajah kalian lagi di depan ku!" Vivi menatapnya dengan dingin, sembari memegangi tangannya yang masih gemetaran. tanpa sadar air matanya pun menetes keluar membasahi kedua matanya yang berwarna coklat.
__ADS_1
sesaat memang Nathan terhanyut dengan kata kata yang di ucapkan Mika. dan hampir saja mengabaikan kemalangan Vivi.
"apa...apa kau mendengar percakapan kami tadi? " tanya Mika memastikan. saat mengetahui raut wajah pria di sampingnya berubah. Mika pun merangkul tangan Nathan dengan sangat erat.
"tidak.! " jawab Nathan singkat sambil melepaskan rangkulan tangannya. menatapnya dengan tajam.
Mika yang menyadari tatapan yang diberikan Nathan sontak membuatnya berpura pura menjadi sosok wanita yang lemah, sosok wanita yang membutuhkan perlindungan.
setelah mereka turun menuju lobby Mika membisikan kata kata perpisahan "terimakasih Nathan, entah kapan semoga kita dapat bertemu kembali. " sebelum berlalu Mika mendekatkna tubuhnya mendongak ke atas memberikan sedikit kecupan singkat tepat di bibir Nathan. namun Nathan hanya membalasnya dengan tatapan yang dingin tanpa berkata satu patah kata pun.
melihat Mika yang pergi dari rumah sakit menggunakan mobil taxi, Nathan langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengikuti mobil yang tadi di tumpangi oleh Mika.
*
*
"aku membencimu!! AKU BENCI KALIAN!! terutama kau.....Nathanael Stenly!!!! Vivi berteriak sesaat mengeluarkan semua rasa bersalah rasa marah terhadap semua yang menimpanya termasuk semua yang di katakan sahabatnya itu membuatnya terpuruk.
"aku.. harus bagaimana mah... pah... " dengan suara yang lirih air matanya pun menetes perlahan dari kedua sudut matanya.
diluar pintu terlihat seorang pria yang tengah memperhatikannya. menatapnya dengan perasaan yang kasian dan hanya mampu menyebut namanya dalam hati. "maafkan aku Vii maafkan aku." gumamnya dalam hati.
Vivi pun menyadari keberadaan seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. dengan segera ia bergegas menuju pintu tersebut.
"si..siapa disana? " tanya Vivi sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. seorang pria yang tengah memperhatikannya adalah sosok pria yang sangat di bencinya. saat mengetahui pemilik dari bayangan tersebut Vivi pun membuang mukanya ke arah yang lain dan tak mau menatap pria itu memintanya untuk segera pergi.
" stop!! sudah ku katakan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! " pekik Vivi
Nathan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. mendekatkan tubuhnya namun Vivi mendorong tubuhnya Nathan dan ia pun hampir terjatuh. Nathan yang merasakan amarah Vivi mencoba untuk menyulutkan api kembali dan melemparkannya lagi pada wanita itu.
__ADS_1
"aw.. sakit. lepaskan aku Nathanael Stenly.! setiap kata yang diucapkan Vivi penuh dengan penekanan. membuat Nathan tersenyum kecil melihat perubahan ekpresi di raut wajah Vivi.
Nathan pun mencengkram rahang wanita itu tanpa belas kasihan menatapnya dengan remeh. "kau mau aku lepaskan? kenapa tidak kau lawan tadi!! dasar lemah!!!. mengehempaskan tubuh Vivi ke lantai membuat wanita itu kembali terduduk.
"kamu itu cuma wanita yang lemah! arogan bahkan sampai tega menghilangkan nyawa teman temanmu! dasar pengecut! ingat kata kata ku....!" belum selesai Nathan berbicara Vivi sudah menatapnya dengan penuh kebencian penuh dengan amarah dengan semua yang telah di perbuat Nathan tadi kepadanya.
menyeret tangan wanita itu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan menindihnya. hentakan itu membuat tubuh Vivi menjadi bergetar hebat mendapatkan perlakuan kasar seperti itu. "hmm.. kulit tubuhmu begitu lembut... " sambil tersenyum menyeringai ia pun menatap Vivi dengan tatapan mendamba.
Vivi yang menyadari tatapan itu merasa sangat jijik karena di perlakukan seperti seorang wanita murahan.
"lepaskan! lepaskan aku! "
"tidak! aku tidak akan melepaskanmu! " sambil mencengkram leher jenjangnya Vivi pun berteriak kesakitan.
"agh... uhukk.. uhukk, sakit Nathan! lepaskan aku! "
namun yang terdengar oleh Nathan sebaliknya, ia menganggap teriakan Vivi adalah Teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut wanita itu yang tertahan karena Vivi menggigit ujung pinggir bibirnya.
"aku akan melepaskanmu! tapi..... "
"tapi apa? "
"kau harus menciumku! "
"cih... sombong sekali kau Nathan! " perkataan Nathan membuatnya tersenyum jijik melihat kelakuan Nathan yang tiba tiba saja berubah menjadi serigala berbulu domba.
"wanita sepertimu yang rela melakukan apapun demi mencapai tujuannya, menghalalkan segala cara tetapi berbanding terbalik dengan sikapmu! itu sungguh tak masuk akal Vii! " jawab Ntahn dengan jelas sembari menjauh dari wanita itu Nathan mendengus pelan.
"kau juga percaya dengan kata kata wanita itu! wanita yang jelas jelas menjelek jelekanku! menfitnah ku! kalian semua gila! GILA! " teriak Vivi putus asa. Vivi mencoba menjelaskan semuanya dari awal namun Nathan tak menghiraukan nya ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Vivi yang menatapnya penuh kecewa.
__ADS_1