Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku

Musuhku Berubah Menjadi Suami SAH Ku
9. Menyembunyikan


__ADS_3

di dalam ruangannya Vivi dari awal meminta pada Erica untuk tidak memberitahu keluarganya tentang apa yang sudah terjadi belakangan ini. Vivi takut keluarganya akan panik mendengar kabar yang tak mengenakan itu. Vivi pun di rawat di rumah sakit selama beberapa hari hanya untuk menenangkan dirinya dan pikirannya jauh dari keramaian. setelah beberapa hari berlalu melihat kondisinya yang sudah membaik Erica memperbolehkan Vivi untuk kembali pulang ke rumah, dengan syarat yang membuat Vivi tertawa kecil yaitu Vivi harus hidup lebih baik dan bahagia.


wanita berusia 30 puluh tahun memiliki rambut yang pendek tubuh yang berisi tinggi badan yang ideal membuat siapapun pasiennya bisa terpanah melihat kelihaian dokter satu ini. ia sudah terbiasa sejak dulu menangani Vivi atau pun keluarganya ketika di kediaman Lee ada yang sakit. dokter yang bernama Erica Witthen adalah dokter pribadi keluarga Lee sekaligus bekerja sebagai dokter di rumah sakit Zaftern milik Ibu Riri.


tok! tok! tok!


krieett!!!


Vivi pun menoleh ke arah datangnya suara sembari tetap fokus pada kesibukannya saat ini untuk merapihkan semua perlengkapan dan pakaiannya untuk segera pulang. Vivi memang terbilang gadis yang manja, namun karena suatu peristiwa yang menimpanya dan juga teman temannya membuat Vivi tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain walaupun itu dengan orang tuanya sendiri. ia berpegang teguh pada keyakinannya" sesulit apapun kondisinya harus bisa di laluinya sendiri jangan menjadikan apapun itu sebagai alasan untuk bermanja dan bergantung dengan orang lain. " gumamnya dalam hati.


"aku bisa! ya aku bisa!. "


"ngomong apa sih Vii. mau cerita padaku tidak? " tanya Erica sambil tersenyum lebar.


"hmm... tidak apa apa ko. " jawab Vivi dengan tersenyum kaku.


"yasudah kalau tidak mau cerita. kamu harus bahagia Vii! jangan terus menerus mau di tindas ya! lawan mereka semua." jawab Erica dengan penuh semangat yang menggebu gebu. sebenarnya Erica tau permasalahan yang di hadapi Vivi namun, ia tidak mau menambah masalahnya semakin banyak apa lagi dengan cara ia bercerita tentang masalah tersebut dan ia lebih memilih untuk menunggu Vivi sendirilah yang bercerita padanya.


Vivi hanya membalasnya dengan mengganggukkan kepalanya saja. sambil tersenyum lebar tetapi di dalam hatinya yang paling dalam ia merasa sangat kecewa ,kekesalannya semakin menjadi ketika Vivi teringat karena ulah orang yang ternyata di kenal baik oleh Vivi dan keluarganya malah saat ini ingin mencelakainya. hatinya seperti di tusuk dengan seribu jarum yang kasat mata membuat dadanya sesak sesaat mengingat masa lalu nya itu.


*


*


Kembali ke Masa Lalu


"Vii... kalau sudah besar mau jadi apa? " tanya Lina dengan antusias. matanya pun berbinar binar seperti seekor anak kucing yang meminta kepada majikannya ingin di usap kepalanya.

__ADS_1


"aku...aku ingin jadi orang kaya. " jawab Vivi dengan terkekeh.


"kaya seperti apa Vii.? tanya Mika sembari menekuk bibirnya ke bawah yang menyerupai huruf U. " kalau aku.... pasti akan menjadi seorang nyonyah besar. tak perlu bekerja banting tulang cukup menikmati hidup saja mengurus rumah dan anak anak."


"kaya moned maksutnya? jawab Lina sambil tersenyum kecil.


"bukan moned tapi monyet, monyet nya yang mirip Vivi. " jawab Vivi dengan suara yang sedikit meninggi menepuk nepukan tangannya ke dada beberapa kali, seperti seseorang yang sedang membanggakan dirinya sendiri. alhasil membuat Lina dan Mika tertawa puas melihat tingkah lucu temannya tersebut.


"eh... tunggu! Nyonyah besar mau makan apa hari ini? " tanya Vivi sambil sesekali melirik ke arah mika sambil menodongkan tangannya meminta sesuatu.


"bagaimana kalau hari ini kita makan bakso bang hendrik saja? " jawab Mika sambil tersenyum senyum sendiri.


"bakso satu mangkok di bagi tiga ya....?hahaha.... " Lina pun ikutan menodongkan tangannya ke arah Mika untuk meminta sesuatu sambil tersenyum kecil.


"ya Tuhan... nyonyah kami ini pelit sekali ya. " jawab Vivi dengan menyipitkan matanya. melihat ke arah Mika yang sedari tadi tersenyum senyum sendiri. "sepertinya nyonyah kita sedang jatuh cinta ya, diajak bicara pun masih bisa tersenyum sendiri. dasar nyonyah .... Stenly. "


*


*


"eh.. sorry dok." setelah mendengar suara Erica membuat Vivi terbangun dari lamunannya.


"Erica Vii Erica saja.! " jawab Erica tegas.


Vivi hanya membalasnya dengan sebuah senyuman di sudut bibirnya yang entah memberikan tanda yang bahagia atau sebaliknya.


"ayo kita turun, mobilku sudah lama tidak di panasin.! " jawab Vivi sembari membetulkan kancing bajunya yang sempat terbuka.

__ADS_1


Vivi dan Erica pun bergegas turun ke bawah dengan menggunakan lift. di sepanjang jalan mereka hanya terdiam tanpa ada pembicaraan kembali berjalan hingga mereka sampai di area parkir di lantai dasar.


"sudah cukup. antar aku sampai di sini saja, sudah terlalu jauh kamu berjalan. " sebelum pergi Vivi memeluk Erica dengan erat. Erica pun membalas pelukan itu dan memberikan sebuah senyuman lebar yang terukir di wajah keduanya.


Vivi pun melakukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang, melihat keramaian kota penuh sesak dengan berbagai macam orang dan pemikiran yang berbeda beda. Vivi membelokkan mobilnya tepat ke arah pusat perbelanjaan yang besar yang terkenal di daerah tersebut.


Vivi masuk ke salah satu supermarket yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu melihat lihat dan memilih beberapa kebutuhan yang ingin di belinya. sampai di satu tempat langkahnya pun terhenti ketika melihat seorang wanita yang berdiri tepat di hadapannya.


"Rin... Rina? " ia pun bergegas ingin pergi berusaha mendorong kembali troli belanjaannya tetapi dihentikan seketika oleh tangan wanita itu.


"yes! Rina di sini!" Rina hanya membalasnya dengan tatapan yang sinis sembari menyunggingkan bibirnya , tangannya ikut mendorong troli belanjaan Vivi hingga troli itu terjatuh. sontak membuat Vivi sampai terkejut di buatnya.


"hei! apa yang kamu lakukan! " ucap Vivi sambil memberdirikna troli belanjaannya yang terjatuh, memunguti beberapa barang yang terpental keluar dari troli.


Rina mendekati Vivi dengan tatapan yang marah karena, tangannya mencengkram tangan Vivi hingga Vivi meringis kecil kesakitan karena perbuatan Rina.


"apa salahku katakan.?" tanya Vivi dengan tatapan mata yang lelah.


" salah mu hanya satu! "


"apa salah ku? " tanya Vivi dengan polos.


"salah mu karena kenal dengan Nathan! "


Deg!


mendengar perkataan Rina yang menyebutkan nama Nathan membuatnya tersenyum kaku, tubuhnya pun menjadi gemetar mendengar namanya saja sudah membuatnya merinding apa lagi di hadapannya saat ini ada seorang wanita yang tergila gila oleh lelaki yang namanya di sebutkan tadi.

__ADS_1


"Vii ayo pergi Vii!!! cepat!!" umpatnya dalam hati.


Vivi lebih memilih untuk segera pergi dari pada harus memulai perselisihan yang tak ada habis habisnya dengan wanita itu. wanita yang mengagung agungkan sosok laki laki yang kepribadiannya bisa berubah kapan saja.


__ADS_2