
setelah kejadian itu Nathan pun melaporkannya mengatakan semua kepada kedua orang tuanya, menceritakan secara detail dari setiap kejadian yang menimpanya termasuk ancaman yang diterimanya saat itu.
mendengar itu kedua orang tuanya pun langsung melaporkan masalah tersebut ke pihak yang berwajib. pihak polisi pun langsung mengusut kasus yang menimpa Nathan. namun sayang saat ingin ditangkap Albert pun terus berusaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi.
"Nathan.... Nathan....! "
"eh... iya Vi sorry ngelamun tadi ada apa? " mendengar panggilan Vivi yang cukup keras membuat Nathan terbangun dari mimpinya.
"kamu gapapa kemarin? apa ada yang luka? " dengan sedikit cemas dan pandangannya tetap tertuju pada satu titik yaitu Nathan. memeriksa ke setiap sudut sambil menepuk nepuk punggung Nathan dari belakang.
"ehem. cie perhatian... jangan jangan.... kalian? "
"apaan sih kak... aku kn.... " belum selesai Vivi berbicara tangannya pun sudah digenggam oleh Nathan dan membawanya pergi meninggalkan Jojo yang memperlihatkan senyum di sudut bibirnya.
"JAGA ADIKKU! JANGAN SAMPAI DIA MENANGIS! " dengan suara yang keras Jojo meneriaki Nathan dari kejauhan.
.
.
.
setelah malam itu berlalu Dina memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya untuk beristirahat, sedangkan Vivi memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran yang baru buka. menghilangkan sejenak beban pikiran yang terus menghantuinya.
namun sungguh bukanlah hari yang baik untuk Vivi berpergian sendirian ditengah situasi yang tidak menentu. saat ia mulai memasuki area restoran tersebut, tiba tiba saja dari arah belakang dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam.
orang itu mengenakan sebuah topeng untuk menutupi wajahnya. dipandangi nya dari atas hingga bawah pakaian yang dikenakan oleh Vivi. orang itu pun mulai mendekati Vivi membuat Vivi memundurkan langkahnya dengan cepat.
"si... siapa kamu? ada keperluan apa dengan ku? " tanya nya lagi kemudian.
mendengar itu orang tersebut pun langsung membuka topeng yang menutupi wajahnya tersebut dan menarik tangan Vivi yang kemudian terjatuh kedalam pelukannya.
__ADS_1
sontak hal itu membuat tangan dan kaki Vivi mulai gemetaran. dengan wajah yang panik namun tak dapat bersuara karena himpitan yang dirasakannya saat itu.
"aku... aku kembali sayang. sudha sejak lama aku ingin menemuimu. jika waktu itu waktu yang menyatukan kita tak terbayang akan seperti apa rasanya. " Albert pun memberikan senyum yang begitu lebar lengkap dengan tatapan mendamba.
Deg!
sontak perlakuan tersebut membuat tubuh Vivi bergetar hebat. seperti tak memiliki tenaga lagi
mendengar itu tubuh Vivi pun menjadi lemas tak berdaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya.
"si.. si.. siapa kau? berani sekali kau memanggilku seperti itu! "
Albert pun kembali menarik tangan Vivi kembali masuk kedalam pelukannya. dengan sedikit tenaga yang masih tersisa Vivi pun berusaha untuk melepaskan pelukan yang membuat tubuhnya semakin bergetar hebat karena rasa ketakutan yang terus menyelimuti nya.
sebelum melepaskan pelukannya, Albert membisikan sebuah kata kata yang membuat Vivi mendorongnya hingga mundur beberapa langkah dan akhirnya terjatuh ke lantai. "apa kau merindukanku sayang? apa aku perlu mengulang kejadian waktu itu untuk membuatmu mengingat semuanya? " sambil tersenyum menyeringai.
pikirannya pun mulai berputar kembali potongan potongan masa lalu kini telah lengkap kembali terbayang jelas di benak Vivi mulai dari kejadian saat itu sampai saat ini.
"AAAHHH!! LEPASKAN AKU! JAUHI TANGANMU DARI KU! " jawab Vivi sambil berteriak keras.
"ayolah sayang! kamu sudah melihat semuanya apa tidak ada keinginan sedikitpun dari mu untuk melanjutkan seperti yang dulu kita lakukan? " Albert pun menyipitkan matanya sambil menatapnya dengan penuh hasrat.
tak butuh waktu lama Albert berhasil membungkam Vivi dengan cara menutup mulutnya dengan saputangan membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas. lama kelamaan matanya pun mulai satu akibat saputangan milik Albert yang sudah di basahi dengan obat menggendong dan membawanya masuk kedalam mobil.
Albert memberikan Vivi posisi yang sangat nyaman baginya dengan cara memangku kepalanya. dengan begitu Albert lebih leluasa untuk memandangi wajahnya, membenamkan sebuah kecupan tepat di keningnya dan membelai lembut rambutnan ikal milik Vivi.
setelah menempuh perjalanan satu jam akhirnya mereka tiba dikediaman milik Albert. salah satu rumah mewah dihiasi dengan patung patung dan pepohonan yang menjulang tinggi.
pintu utama pun dibuka lebar setelah mengetahui pemilik rumah tersebut datang mengunjungi. dengan membawa seorang wanita muda yang di gendong dengan penuh kehati-hatian membawanya ke kamar dengan hiasan bunga dibagian pintu depannya.
sepanjang perjalanan menuju kamar. wangi bunga dan taburan kelopak bunga tak henti hentinya di sepanjang jalan. suasana seperti sepasang pengantin baru yang ingin memulai babak baru dalam perjalanan menuju penyatuan.
__ADS_1
membaringkan nya disebuah ranjang yang berhiaskan taburan bunga membuat penciuman Vivi pun mulai berfungsi kembali. perlahan matanya pun mulai terbuka menoleh ke segala arah mencari sebuah petunjuk keberadaannya.
tak lama terdengar gemericik air disalah satu ruangan yang tertutup. namun Vivi tak bisa berbuat banyak karena kondisinya yang masih merasakan pusing.
"dimana aku... aduh! kenapa kepalaku terasa sakit sekali? "
crieett!
terdengar suara pintu dibuka dan seorang laki laki keluar dari ruangan tersebut dengan dan hanya mengenakan anduk sepinggang. yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bidang dan rambutnya yang masih basah perlahan mulai mendekati Vivi.
membuat bulu bulu halus di sekujur tubuhnya pun mulai berdiri. tangannya pun berusaha meraih tas selempang yang tergeletak tepat di samping Vivi terbaring. memasukkan tangannya ke dalam tas mencari sebuah benda pipih yang terus berdering.
"selamat malam sayang apa kau mau mandi terlebih dahulu untuk memberikan sensasi segar di tubuhmu? "
Deg!
"awh! sakit! lepaskan tanganku! "
Albert pun menggenggam tangan Vivi dan menariknya masuk kedalam pelukannya namun Vivi menghentikan niatnya dengan mendorongnya hingga terjatuh.
"sstt! jangan bersuara terlalu kencang sayang kita belum memulainya. akan aku buat kau merasakan apa yang disarankan oleh temanmu yang tidak bejus itu! seharusnya temanmu bersyukur karena laki laki sepertiki mau menikmati tubuhnya di atas ranjang! "
"tua bangka gila! apa kau lupa kami hanyalah anak anak saat itu! tapi dengan teganya menodai kehormatan seorang anak demi napsu bejatmu! kelakuanmu sungguh menjijikan! "
"kelakuanku menjijikan? HAHAHA....... " Albert pun tertawa puas saat mendengar hinaan yang keluar dari mulut Vivi membuatnya semakin bergairah.
"kau sudah tidak waras! apa salah aku dan teman-teman ku? "
"tanyakan pada teman lelakimu itu. DASAR BODOH! "
Plak!
__ADS_1
"aww! sshhh. " seketika Vivi kembali terbaring akibat menerima sebuah tamparan yang cukup keras.
Dengan berani Albert pun langsung menindih tubuh mungil Vivi saat mendapati Vivi terbaring lemah. saat Albert ingin bersih kancing baju Vivi dengan sedikit tenaga yang masih tersisa Vivi berusaha untuk menepis nya.