
Menyadari perubahan sikap Artha yang semakin lama semakin aneh. Vivi terus memikirkan cara keluar dari vila tersebut. Karena seperti yang di ucapkan Oleh Artha vila tersebut berada jauh dari pemukiman warga sekitar begitu pula dari kota.
Jarak yang menghubungkan vila tersebut dengan pemukiman masyarakat sekitar cukup memakan waktu yang lama. Vila tersebut berada tepat di daratan tinggi dengan berbagai keindahan alam yang di suguhkan di sepanjang perjalanan.
Namun sangat di sayangkan karena apa yang di bayangkan di awal perjalanan ternyata hanyalah mimpi belaka. Artha adalah pria yang menjadi satu-satunya harapan Vivi untuk membebaskannya dari jerat perjodohan yang di buat oleh keluarganya secara turun temurun.
"Artha kau aneh sikapmu yang seperti ini membuatku takut. tolong hentikan semua jangan berbuat di luar batas kepada ku aku mohon. "
Sambil berusaha tetap tenang Vivi mencoba untuk bangkit. Sorot matanya pun terlihat lelah dan berkaca - kaca menahan semua sesak yang terasa begitu menyakitkan.
"Aku yakin kau orang yang baik tolong jangan melakukan di luar batas kita. Belum ada ikatan apapun di antara kita masih panjang perjalanan jika menginginkan lebih dari biasanya. " katanya lagi kemudian sambil menahan kristal putih yang terus mengalir.
"Apa... apa aku yang membuatmu menangis sayangku? sepertinya aku telah membuatmu ketakutan. " Artha pun memutar bola matanya karena panik sekaligus bingung dengan apa yang terjadi.
Artha hanya ingin Vivi sepenuhnya merasakan kasih sayangnya yang begitu dalam. Membuat wanitanya tersebut bahagia dan selalu tersenyum ceria adalah keinginannya.
Namun yang terjadi malah sebaliknya. Artha membuat Vivi ketakutan dengan semua sikap dan perhatian yang di berikannya. Memundurkan langkahnya sesaat ingin rasanya memeluk erat wanitanya tersebut.
Saat tangannya ingin meraih tubuh mungil Vivi. Ia pun menepis nya dengan lembut sambil tersenyum kecut. " Sudah... lain kali saja jika ingin memeluk ku lagi aku lelah antarkan saja aku pulang. " dengan tubuh yang sedikit lemas kata - kata yang di ucapannya pun terdengar sangat pelan namun masih dapat di dengar jelas oleh Artha.
"Lebih baik jangan pernah. " umpatnya dalam hati
"Aku... aku hanya ingin kau merasakan dan mengetahui perasaan ku kepada mu Vi. Sangat sangat dalam sangat mencintai mu Silvia. "
"Aku mohon padamu Artha antarkan saja aku pulang jika memang kau mencintaiku. " mengatakan apa yang dirasakannya dengan suara yang lirih sembari Memejamkan matanya.
Seolah - olah Vivi tak ingin lagi melihat Artha berada dekat dengannya. Ia ingin hari ini hanyalah menjadi sebuah mimpi buruk dalam tidurnya. Kenyataan yang begitu pait tak ingin di benarkan olehnya.
__ADS_1
"Tapi... kita masih akan sering bertemu bukan? Silvia hanya kau lah wanita ku seorang. "
Plak!
Tanpa sadar Vivi sudah melayangkan sebuah tamparan keras ke wajahnya. sontak hal itu membuat Artha terkejut dan membelalakkan matanya.
"Apa kau belum sadar juga! Aku hanya ingin pulang tolong antarkan aku pulang sekarang juga dan jangan bertele - tele. Kita bisa bicara lagi atau tidak tergantung padamu! "
Artha tetap berusaha untuk tetap membuat Vivi berada di vila tersebut namun usahanya semua gagal dengan berbagai cara dan kesempatan yang sedikit yang di miliki nya.
Vivi pun menegaskan setiap kata - kata yang di ucapkannya. Ia merasa sedikit prustasi karena ulah Artha tersebut. Pria yang selama ini sempat mengisi kekosongan di hatinya namun dengan sekejap mata pria itu sendiri yang menjadi bumerang baginya.
" Oke oke ku akan antar kembali ke rumah. Ayo kita pulang sama - sama hari sudah malam juga tak mungkin aku mengantarmu dengan taksi."
Melihat kondisi Vivi yang sudah di luar kendalinya membuat Artha tak tega. Artha memutuskan untuk kembali mengantarkan Vivi pulang ke rumah. sepanjang perjalanan Artha maupun Vivi hanya dapat diam mematung tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibir masing - masing.
.
.
Artha pun turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobilnya. Namun jawaban yang di dapatkan saat membukakan pintu tersebut sedikit menyentil hatinya.
"Tak perlu mengantarku ke dalam aku bisa berjalan sendiri."
"Tapi ada yang ingin aku sampaikan Vi. Bagaimana kalau kita segera merencanakan pernikahan? "
"apa? "Mendengar itu tentu saja membuat Vivi terheran - heran sambil menggelengkan kepalanya. Apa yang telah terjadi kepadanya hari ini tak bisa menentukan pilihannya kedepan.
__ADS_1
Perasaan marah yang semakin membara setelah mendengar perkataan Artha membuat Vivi sedikit muak dengan apa yang telah di percaya olehnya selama ini.
Pikirannya pun semakin kalut ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Artha yang saat ini berdiri tepat di hadapan nya memohon untuk dimaafkan.
"Aku mohon maafkan aku Vi maafkan aku. tak akan aku ulangi lagi jika memang tak menyukai cara ku yang seperti itu. Aku mohon maafkan aku. "
Dengan sedikit perasaan bersalah dan menyesali semua perbuatan nya kepada wanita pujaannya tersebut. Artha bersimpuh di kaki Vivi sambil memohon agar Vivi mau kembali kepadanya.
"Hentikan sudah cukup jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan mu tapi untuk saat ini biarkan aku sendiri. "
"benarkah sudah memaafkan aku? aku bersyukur sayang aku senang mendengar nya terimakasih telah memberikan aku kesempatan. "
Vivi hanya menatapnya malas. Segera memalingkan pandangan nya kearah yang lain menyibukkan diri sendiri dengan berbagai pikiran yang lebih positif.
Vivi melangkahkan kakinya perlahan dan membukakan pintu untuk dirinya sendiri ia kembali menutup pintu rumahnya saat Artha hendak mengikutinya masuk ke dalam.
Dengan perasaan yang bingung dan sedikit merasa takut. Di depan pintu Artha hanya dapat mengetuk pintunya beberapa kali namun tak ada satupun jawaban. Memanggil nama wanita pujaannya tersebut berulang kali namun tak kunjung di bukakan pintu rumahnya tersebut. Bahkan saat mengiriminya pesan atau pun menelponnya Vivi sama sekali tak ingin merespon apapun yang telah membuat hatinya kecewa saat itu.
Sesampainya di kamar Vivi segera mengganti pakaian nya dengan yang lebih santai dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Melihat ke arah ponsel yang sedari tadi terus berdering dan menutupnya dengan sebuah buku cerita. Memejamkan matanya perlahan berusaha untuk tertidur. Pikirannya pun melayang jauh menjelajahi semua antariksa. Dari satu tempat ke tempat yang lain bertemu dengan semua orang yang sangat di sayanginya. Betapa bahagianya saat itu.
Saat Vivi tersenyum dalam tidurnya tiba - tiba dalam mimpi nya ia bertemu dengan seorang anak laki-laki. wajahnya sangat mirip dengan Nathan ketika masih kecil. Kelembutan dan perhatiannya mengingat kan Vivi pada sosok Pria yang sangat di benci oleh nya.
Pria yang selama ini berada dalam bayang - bayangannya. Yang terlihat cuek dan acuh tetapi berbeda jauh saat dekat. seperti seekor singa yang tiba - tiba saja langsung melahap sang majikan.
...****************...
__ADS_1
...Mohon maaf atas keterlambatan yang sangat lama. dikarenakan penulis sedang berlibur bersama keluarga. Dan akan mulai di sibuk kan kembali ketika anak sekolah....
...terus dukung novel ini ya dengan cara terus membacanya. terimakasih karena telah bersabar.🙏☺...