My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 9


__ADS_3

Selamat membaca. . .


Mira mematut wajahnya di cermin. "Astaga, mengapa aku tidak menyadari ini?" gumamnya ketika melihat dengan saksama bekas berwarna merah di lehernya. Jika saja supir taksi tadi tidak bertanya, "maaf nona, apa leher anda disengat lebah?" mungkin Mira tidak akan pernah menyadari tanda merah di lehernya itu.


Perkataan supir itu cukup sopan untuk memberitahu pada Mira bekas - bekas merah di lehernya yang memang terlihat seperti sengatan lebah. Tetapi perkataan supir itu telah berhasil membuat wajah Mira memerah karena malu. "Sialan, ini semua gara - gara pria brengsek itu." gerutu Mira.


Kemudian Mira meraup handuk lalu segera melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia butuh mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Mandi sedikit banyak bisa membuat pikiran jadi tenang.


Usai mandi, Mira langsung berpakaian serapih mungkin dengan mengenakan setelan berwarna abu - abu dipadukan dengan rok berwarna senada tujuh sentimeter di atas lutut dan kemeja berwarna putih serta sepatu heels berwarna hitam.


Kemudian Mira memakai riasan setipis mungkin pada wajahnya, tetapi pada bagian leher ditaburi nya bedak cukup tebal. Setelah selesai, ia mendesah panjang tanpa semangat. Kembali teringat dalam pikiran nya semua masalah dan musibah yang menimpanya. "Mengapa takdir hidupku seperti ini? Sekarang rasanya terlalu sulit untuk hidup seperti tidak terjadi apa - apa. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Mira.


Ekspresi kosong menyelubungi Mira setiap kali ia mengingat semua kesialan yang menimpa hidupnya. Sekarang dia benar - benar bingung harus melakukan apa.


Beberapa detik kemudian setelah merasa cukup tenang, Mira melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia lapar. Ia harus makan. Ia butuh tenaga untuk bisa menghadapi hari ini yang akan cukup menyibukkannya. Lebih dari pada itu, ia butuh tenaga untuk menghadapi masalah hidupnya.


Mira mengambil makanan di kulkas, menyalakan kompor dan memanaskan makanan itu. Setelah selesai, Mira segera melahap makanan itu seperti orang kelaparan yang sudah tidak makan selama 3 hari. Rakus.


Usai makan dan minum, Mira melirik sekali lagi penampilannya di cermin. Penampilannya sudah rapih dan mengesankan. Saatnya pergi. Ia kemudiansegera menyambar tas kerjanya dan melangkah keluar dari apartemen menuju departemen store.


***


Arifin berdeham. "Sebelum kita pergi, mungkin sebaiknya kita menikmati makan siang terlebih dahulu, Mr. George. Jika anda tidak keberatan, tentu saja."


"Ya, tentu. Sejujurnya itu ide yang bagus." kata George kaku. Lalu ia berdeham. "Saya minta maaf, biasanya saya tidak seperti ini, maksud saya umm..."


"Tidak apa - apa." potong Arifin cepat. "ada hal yang tidak perlu dijelaskan tetapi dapat di pahami."


Arifin benar. Tetapi George tak mampu membalas ucapan pria itu itu karena keadaan telah berubah menjadi canggung.


Seorang pelayan datang membawa nampan berisi berbagai jenis makanan dan menyajikan nya di meja. Seandainya bisa, George akan berterima kasih pada pelayan ini yang secara tidak langsung menyelamatkan dirinya dari situasi canggung yang memalukan ini.


"Silahkan menikmati makanan anda, Mr. George." ucap Arifin tepat setelah pelayan selesai menyajikan makanan.


"Ya, terima kasih."


Sejenak kemudian, setelah menghabiskan makanan pertamanya, akhirnya George mengeluarkan suaranya mencoba merubah situasi. "Saya dengar anda baru saja menikah. Maaf saya baru saja mengetahuinya jadi saya tidak menyiapkan apa - apa untuk hadiah pernikahan anda."


"Tidak apa - apa." Arifin tersenyum. "sejujurnya saya sudah berupaya keras agar pernikahan saya tidak diketahui publik, tetapi sepertinya itu tidak berhasil." Ada jeda sedikit. "pernikahan saya hanya dihadiri keluarga besar, beberapa kerabat dekat dan karyawan perusahaan saya. Mohon maaf saya tidak mengundang anda, Mr. George. Saya tidak tahu kalau anda akan datang ke Indonesia lebih awal dari jadwal temu kita." sambung Arifin.


"Oh, tidak apa - apa. Bagaimanapun selamat atas pernikahan anda. Semoga anda selalu berbahagia." ucap George tulus.

__ADS_1


Selagi menikmati makan siang, mereka mengobrol ringan seperti kapan George tiba di Indonesia, bagaimana perjalanannya dan sedikit mengobrol tentang urusan pekerjaan.


***


Sepuluh menit sebelum tiba di Golds counter, Arifin buru - buru menghubungi Mira agar segera menyambut kedatangan mereka di depan pintu.


Mira segera bersiap. Ia berjalan ke depan pintu dan menghampiri Adel, salah satu karyawan toko. "Kita harus menyambut client dari New York, namanya Mr. George Goldsmith. Perhatikan kerapihan pakaianmu dan tampilkan senyum selebar mungkin." perintah Mira pada Adel.


Adel mengangguk dan langsung menuju pintu toko.


Masih dari kejauhan Mira sudah  melihat bosnya bersama dua orang pria berbadan tinggi dan tegap. Sudah dapat dipastikan kedua orang itu adalah client mereka dari New York.


"Bersiaplah," kata Mira pada Adel.


Mira dan Adel bersedekap lalu sedikit membungkuk sambil menyapa, "Selamat datang, Mr. George Goldsmith."


George tersenyum seolah dia terharu dengan penyambutan itu.


"Terima kasih," katanya dengan suara khasnya.


Mira seperti mengenal suara itu. Kemudian ia mendongak ke pria yang berbicara tadi sambil menyunggingkan senyum selebar - lebarnya. Selama sepuluh detik penuh Mira menatap pria itu tanpa berkedip. Detik berikutnya senyum Mira memudar digantikan dengan mulut ternganga karena terkejut. "Anda Mr. George Goldsmith ?"


Arifin berdeham lalu memandang Mira dengan sorot tidak senang.


Mira menatap Arifin dan menelan ludah dengan susah payah. "Saya minta maaf, Mr. George Goldsmith. Perilaku saya kurang sopan, maafkan saya." kata Mira dengan wajah tertunduk. "Mari, silahkan masuk." lanjut wanita itu.


Sekujur tubuh Mira gemetar. Semalam mungkin pandangan dan pendengarannya kabur. Namun, tidak dengan otaknya. Ia masih bisa mengingat garis wajah pria yang merenggut keperawanannya. Mira ingat bagaimana suara pria itu. Suara bariton. Mira ingat bagaimana pria itu memeluknya, menciumnya dan menggagahinya. Ketika menatap pria itu lekat - lekat, ia yakin seratus persen Mr. George Goldsmith adalah pria brengsek itu.


Saat ini yang ada dipikiran Mira adalah melarikan diri. Tetapi ia tahu itu sangat tidak mungkin. Dia seorang pekerja yang bertanggung jawab dalam pekerjaannya.Dan disini dia harus mendampingi bos dan client mereka. Jadi, tidak ada cara lebih baik untuk jauh dari pria itu daripada segera menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat.


Pertama - tama Mira menjelaskan segala aktifitas para pegawai di toko, mulai dari jam kerja mereka, bagaimana mereka memajang semua produk Golds, bagaimana cara mereka mengatasi komplain serta Mira menjelaskan berbagai program yang telah mereka buat untuk meraup keuntungan sebanyak mungkin dari hasil penjualan Golds brand.


Selagi Mira menjelaskan, George selalu memandanginya dengan sorot mata tidak biasa. Tetapi Mira mengabaikan pandangan pria itu agar ia tidak salah tingkah. Mira menghela napas panjang, lalu melanjutkan bicaranya. Itu satu - satunya cara membuat dirinya kuat berada dekat dengan pria itu. Terakhir Arifin memberikan sebuah dokumen (berisi laporan penjualan produk Golds).


Mira berdeham. "Mungkin sebaiknya kita pindah ke ruangan VIP, pak." usul Mira pada Arifin.


Arifin mengangguk. "Boleh juga."


"Mari kita ke tempat yang lebih nyaman." kata Mira pada semuanya lalu segera mengiring mereka menuju ruang VIP. Setelah membuka pintu Mira berkata, "Silahkan masuk, Mr. George dan Mr. ..."


"Steve."

__ADS_1


"Ya, silahkan masuk Mr. Steve."


Ketika semua sudah berada didalam ruangan, Mira menarik diri dan hendak pergi tapi suara bariton itu menghentikan langkahnya. "Anda mau kemana, Miss Miranda ?"


Mira berbalik lalu berkata kaku. "Saya akan menyiapkan kopi atau teh atau apapun untuk anda."


"Tidak perlu. Tidak sekarang. Sebaiknya anda tetap disini." kata George datar. Ada nada memerintah dalam perkataannya.


Arifin menatap pria itu lalu beralih ke Mira dengan pandangan curiga. Lalu Arifin berdeham. "Maaf jika saya lancang. Tetapi jika saya boleh tahu, apakah anda dan Mira sudah saling mengenal?" tanya Arifin pada George.


George menarik sudut bibirnya sedikit keatas lalu berkata, "Sejujurnya ya. Dan bahkan kami memiliki hubungan lebih dari pada saling mengenal."


Mira jengkel. Benar - benar sialan pria ini, gerutunya dalam hati. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan bos nya secara blak - blakkan seperti itu ?


"Jika anda tidak keberatan, bisakah saya meminta waktu untuk berbiacara dengan Miss Miranda secara pribadi ?"


"Tidak perlu seperti itu," sergah Mira cepat. "Maksud saya, kita bisa berbicara disini Mr. George."


Arifin mengabaikan kata - kata Mira. "Tentu saja boleh, Mr. George." ucap Arifin. "Kalau dia setuju."


"Tentu saja dia setuju, bukan begitu Miss Miranda ?" George memandang Mira dengan tatapan garang.


Mira bergidik melihat tatapan pria itu. "I - iya. " ucapnya tergagap. "Namun, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan hingga malam nanti. Jadi..."


"Tidak apa - apa." potong George cepat. "Saya akan menjemput anda pada pukul..."


"Pukul enam," sambung Mira.


"Ya, pukul enam."


Sebelah alis George terangkat arogan, tatapan garangnya selalu berhasil menjinakkan makhluk - makhluk buas. Wanita itu salah satu darinya. Sementara Mira hanya bisa pasrah lagi dengan semua yang terjadi.


Pria itu memang luar biasa. Luar biasa gila.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Jangan lupa di like ya kak,


tulis komentar dan berikan vote nya juga ya 😊


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2